Kuroshitsuji Indonesian Roleplay Forum
Welcome to our forum, Kuroshitsuji Indonesian Roleplay Forum.
Please sign in, don't have an account? You can sign up now!

Kuroshitsuji Indonesian Roleplay Forum

An Indonesian Kuroshitsuji roleplay forum, join our base!
 
PortalIndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
New storyline for roleplay! Check Roleplay section for complete information~
Bagi member lama yang sudah membuat chara, mohon disesuaikan dengan peraturan, dan storyline yang baru~
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Forum
Latest topics
» Keaktifan forum
Mon May 28, 2018 12:09 pm by

» perkenalan
Mon Jul 06, 2015 12:22 pm by

» Perkenalan
Thu Jun 25, 2015 8:10 pm by

» Jung Nanami | Human(Half Vampire) | Civilian
Sun Jun 01, 2014 10:12 pm by

» Azzura Dolores | Allence Family
Fri May 30, 2014 11:41 pm by

» mau tanya soal Civilian
Fri May 30, 2014 10:16 pm by

» Perkenalan
Fri May 30, 2014 6:28 pm by

» Poker Online, Poker Facebook, Judi Online, Nagapoker
Mon Apr 28, 2014 1:28 pm by

» Azusama Joe / Human / Chronne Family Member
Thu Apr 03, 2014 11:17 pm by

Affiliates
free forum
affhayori
affda

Photobucket

Photobucket
affliates
affliates
Top posters
Aria Chronne
 
Reinette Sutcliff
 
Nonohana Kizure
 
Ellie Xiorna
 
Sueth Yuelight
 
Wakabayashi Genzo
 
Clearesta Allence
 
Persona
 
Alaude Von Novizio
 
Licla
 
Poll
Statistics
Total 120 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah ArabelleCharleights

Total 9513 kiriman artikel dari user in 196 subjects

Share | 
 

 [GX Fantasy] 1st Day of April

Go down 
PengirimMessage
Reinette Sutcliff

avatar

Jumlah posting : 1802
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : Fangirling Corner

Chara profile
Name: Reinette Sutcliff/Minachi Sumire
Status: Shinigami/Civillian
Race: Shinigami/Human

PostSubyek: [GX Fantasy] 1st Day of April   Thu Jun 17, 2010 6:55 pm

Satu persatu kata dari lirik lagu itu terdengar cukup keras untuk menyadarkan pemiliknya yang sedang tertidur. Tadinya tidak menyadari kalau ponselnya berbunyi namun perlahan ia menyadarinya. Kelopak matanya perlahan-lahan terbuka. Sesekali ia mengucek-ngucek dengan tangannya agar penglihatannya lebih jelas. Ponsel itu pun masih berbunyi, menunggu si pemilik meresponnya.

Ia sudah duduk membungkuk di tepi kasurnya. Meraih ponsel yang diletakkan diatas meja yang terletak disamping kasurnya. Dengan tingkat kesadaran yang masih 50% dia melihat jam dinding yang tepat menghadap tempat tidurnya.

‘Jam 12??! Dasar sinting!’ Ujarnya dalam hati

Kemudian perhatiannya beralih pada layar ponselnya.

4444 – Calling

‘Em--pat…’

Ia terkejut melihat nomor yang tertera dalam ponselnya. Dua pasang nomor kembar dengan angka yang sama. Ia tidak tahu apa-apa tentang nomor aneh itu. Tangannya bergetar. Otaknya berpikir keras untuk mempertimbangkan dua perkara. Dijawab atau sebaliknya. Namun dia tersenyum segaris walaupun kegelisahan masih melanda hati nuraninya.

“Hah… nomor kayak gini sih, paling… operator”

Dengan tenang ia menjawab panggilan itu.

“Seseorang akan mati karena kesalahanmu… Dia mati karena kamu… dia mati karena kamu… dia mati karena kesalahanmu…”

Kalimat terakhir dari si penelpon diucapkan berulang-ulang dengan suara yang makin surau. Tubuhnya bergetar keras lebih dari yang sudah-sudah. Dia terdiam. Mukanya pucat. Keringat dingin melintasi pipinya yang mulus. Kalimat itu masih terulang… terulang dan terulang hingga dia membanting ponselnya jauh-jauh darinya. Ponsel itu rusak dalam sekejap. Patah terbelah mematikan suara penelpon misterius itu.

Dia membiarkan ponselnya menjadi bangkai. Dia tidak berani lagi menyentuhnya. Namun kalimat itu masih terngiang ditelinganya. Seseorang akan mati karenanya. Nomor aneh itupun masih membingungkan pikirannya. Pikiran dalam otaknya makin membuatnya gelisah.

__..oOo..__

07.30 am – At School

‘Eris! Eris!’

Seseorang memanggil Eris, gadis yang mendapat teror tadi malam. Pikirannya masih gelisah, wajahnya pun lesu. Namun karena teman baiknya memanggilnya, dia akan selalu menghiasi wajahnya dengan senyum.

‘Yo Ann! ada apa memanggilku?’

‘Eh…? Kelihatannya kamu agak lesu… apa yang terjadi?’

‘Eh?! Ah… tidak kok… tidak ada apa-apa’

Eris kembali tersenyum walau dipaksa. Namun wajah lesu nan gelisahnya akan selalu terlihat oleh mata temannya.

‘Ya sudahlah kalau kamu tidak mau mengatakannya, aku memanggilmu Cuma pengen ngasih tau… si Audrey mendadak sakit, dia lagi dirawat di rumah sakit sekarang, jadi gak masuk’

Perkataan Anna pada Eris membuat Eris terkejut.

‘A—audrey??! Sakit apa dia?! Kayaknya kemarin dia baik-baik aja deh…’

‘Nggak tau, aku dapet beritanya dari Rere!’

‘Sekarang Rere dimana?’

‘Itu… dia lagi ujian susulan’

‘Oh… ya udah, jadi kita kapan jenguk Audrey?!’

‘Pulang sekolah aja! Mumpung lagi free nih!’

‘Sekarang?! Oke, oke… ajak Rere juga ya An!’

‘Pasti! Jangan lupa ya!’

Eris mengangguk dilanjutkan dengan langkahnya menuju ruang kelasnya. Sementara Anna juga meninggalkan tempat mereka berpapasan sambil terkekeh kecil.

__..oOo..__

02.30 pm – Hospital

Mereka bertiga sekarang sudah di rumah sakit tempat Audrey dirawat. Eris, Anna dan Rere. Setelah mereka sampai mereka langsung menuju kamar Audrey.

Sekarang mereka sudah ada di koridor kamar pasien. Mereka berjalan dengan nada yang agak cepat. Wajah mereka pun dipenuhi kecemasan. Tidak lama mereka sudah tiba di depan pintu kamar tempat Audrey dirawat.

‘Mudah-mudahan Audrey gak apa-apa ya…’ Ujar Eris sebelum ia membuka pintunya

Anna mengangguk, sementara Rere hanya diam saja. Namun Rere terlihat menyimpul senyum dibibirnya.

Akhirnya pintu itu dibuka oleh Eris.

‘AUDREY!!!’

Eris berlari. Eris berlari menuju Audrey yang tergeletak lemas dilantai kamar dengan cairan kekuningan disekitarnya. Audrey tersadar namun keadaannya sangat buruk. Mereka bertiga yang pertama kali melihat Audrey begitu segera menolong Audrey yang sudah hampir tak sadarkan diri.

‘Audrey… kenapa kamu sendirian disini? Ngga ada yang jagain kamu?!’ Seru Anna sambil menggotong Audrey ke tempat tidur

‘Hhh… ng… nggak An… semuanya pada keluar kota kemarin… uhuk…’

Jawaban Audrey yang diakhiri dengan batuk tadi menyebabkan cairan kuning keluar dari mulutnya. Dia batuk tidak hentinya, sampai ia memuntahkan banyak cairan kekuningan tadi. Semua terdiam. Rere yang daritadi membungkam mulutnya berinisiatif keluar memanggil dokter. Sementara Anna mengelap cairan kuning yang berceceran di sekitar kamar Audrey.

Eris mendekati Audrey yang tengah berbaring.

Dia menatap Audrey yang terbaring lemah. Nafas Audrey yang tersenggal-senggal memenuhi suasana kamar Audrey waktu itu. Eris bingung. Dia betul-betul tidak tahu menahu tentang semuanya.

‘Drey… kamu… kenapa bisa kayak gini?’ Ujar Eris pelan bertanya pada Audrey

Audrey yang menyadari sedang diajak bicara oleh Eris segera meresponnya.

‘Kamu inget kan Ris?! Hari Sabtu… waktu kamu menginap dirumahku?’

Eris menangguk pelan. Namun anggukkannya menunjukkan keraguan.

‘Iya… malem-malem kan kita main jenggut-jenggutan… masih inget kan?’

Eris tidak merespon apapun. Yang keluar dari mulutnya hanya sepotong kata ‘Eh…?’

‘Sejak kecil gue punya penyakit syaraf turunan… waktu lo jenggut gue itu banyak syaraf otak gue putus… jadi akhirnya begini…’

Penjelasan Audrey yang singkat itu langsung dicerna oleh Eris. Dia sangat terkejut dengan kalimat yang barusan Audrey lontarkan.

Tanpa sadar, Rere sudah kembali ke kamar membawa dokter. Dia juga mendengar penjelasan Audrey tadi. Rere maupun Anna juga terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa yang mencelakai Audrey adalah temannya sendiri.

Karena dokter akan memeriksa Audrey, mereka bertiga diperintahkan untuk keluar sebentar dari kamar Audrey. Mereka sekarang sudah berada di ruang tunggu koridor kamar Audrey.

‘Jadi Audrey sakit gara-gara Eris?!’

Kalimat Anna yang tiba-tiba langsung menghentakkan jantung Eris.

‘A—aku nggak… tahu kalo Audrey punya penyakit kayak gituan…’

‘Ahh… bullshit! Kita samua tahu Audrey itu punya penyakit syaraf Ris!!! Maksud kamu apa mau nyelakain
Audrey??!’ Seru Rere membentak Eris

‘Sumpah! Aku gak tahu!!! Emangnya kapan Audrey pernah bilang kalo dia punya penyakit syaraf?’

‘Dia pernah bilang Ris… pernah… sewaktu SMP dulu, tapi karena udah gak kambuh lagi jadi dia anggap udah sembuh…’ Sahut Anna

‘Pokoknya… kalo Audrey meninggal, itu semua salahmu…’ Tambah Rere

Kalimat yang barusan Rere keluarkan mengingatkan Eris pada kejadian tadi malam. Telepon misterius yang mengatakan bahwa temannya akan mati karena kesalahannya. Tiba-tiba kalimat itu terngiang di telinga Eris. Bagaimana jadinya kalau Audrey benar-benar meninggal karenanya? Padahal Eris tidak tahu apa-apa tentang masalah ini.

Beberapa menit kemudian dokter keluar.
Yang menyadari hal itu pertama adalah Anna. Dia langsung menyambar dokter yang masih berada di depan pintu.

‘Audrey… Audrey gimana keadaannya dok?’

Dokter mengambil nafas sebentar, lalu menjawab;

‘Audrey sudah tidak tertolong lagi, dia meninggal…’
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://reinettesutcliff.blogspot.com
Reinette Sutcliff

avatar

Jumlah posting : 1802
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : Fangirling Corner

Chara profile
Name: Reinette Sutcliff/Minachi Sumire
Status: Shinigami/Civillian
Race: Shinigami/Human

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] 1st Day of April   Mon Jul 12, 2010 10:11 pm

Halo, ini saya Purpie…

Kenapa saya yang buka? Karena sebenernya chapter ini 100% saya yang bikin. Diesty Cuma ngepublish doang… Padahal dia lagi liburan, masih gak sempet aja nyelesain cerita. Ayo bunuh! /plak

Heeeh!! Gue kan liburan ke Lampung!! Lappie dikuasain aneki!!

Itu dia alasannya.

Dan pertama-tama… di chapter ini ada perubahan penggunaan bahasa. Jadi yang tadinya pake aku-kamu, sekarang jadi gue-lo. Karena untuk kecocokkan suasana/usia/latar/apalah itu! Saya nggak tau. Yang jelas mulai dari sini penggunaan bahasanya berubah!

Yah, itu aja… sekian dan selamat membaca~!

__..oOo..__

03.30 pm – at Hospital

‘Audrey sudah tak tertolong lagi, dia meninggal’

‘Nggak… Nggak mungkin…’ Ujar Eris pelan setelah mendengar kalimat itu.

Mereka bertiga terdiam. Eris masih tidak percaya bahwa Audrey akan benar-benar meninggal. Dia sangat gelisah tentang itu. Rere yang sedang menenangkan Anna yang tengah menangis tersedu-sedu menatap tajam pada Eris. Dia masih menuduh bahwa Eris adalah pelakunya. Tapi nyatanya Eris masih mempunyai tanda tanya besar di otaknya.

Apakah kejadian pagi tadi berhubungan dengan meninggalnya Audrey?

Setelah menunggu beberapa menit, seorang perawat keluar dari kamar Audrey. Dan berkata pada mereka bertiga bahwa mereka boleh masuk melihat keadaan Audrey. Rere bersama Anna segera memasuki kamarnya, Eris pun mengekori pelan.

Mereka sudah berada di dalam kamar Audrey. Eris duduk disebelah kiri Audrey, sementara Rere duduk disebelah kanan Audrey. Anna yang masih syok hanya bisa melihat mayat Audrey dari jauh. Dia tidak kuat melihat temannya yang sudah tidak bernyawa itu.

Eris hanya bisa terdiam menatap mayat Audrey didepannya. Rere beranjak dari duduknya, ia menelpon orang tua Audrey. Memberitakan atas semua yang telah terjadi pada Audrey.
Tidak terasa air mata menetes dari mata Eris saat ia memegang tangan Audrey.

‘Drey… tolong maafin gue…’

Kalimat Eris yang terucap pelan langsung menarik perhatian Anna dan Rere.

‘Maafin gue kalo misalnya gue udah banyak salah sama lo, dan… lo juga harus maafin gue kalo emang beneran gue yang bikin lo meninggal…’

Kini kedua tangan Eris menggenggam tangan Audrey. Ia makin merasakan hawa dingin yang terpancar dari tangan Audrey. Eris menangis. Tapi ia sangat segan untuk memperlihatkan tangisnya. Ia menempelkan wajahnya pada selimut milik ranjang tempat tidur Audrey.

‘Aa—aaaahh…’

‘………’ Eris terdiam, tangannya digenggam erat oleh tangan dingin itu

‘Agghh—aah…’

‘Drey…? Audrey??!’ Seru Rere sambil mendekati Audrey

Eris menganggkat kepalanya. Melihat apa yang sebenarnya terjadi.

‘Ahh—Aggh… Hnnaaa’

Audrey seperti tersadar. Matanya terbelalak, nafasnya tersenggal. Desahannya yang meraung memenuhi suasana kamar.

‘Drey! Audrey! Jawab gue!’ Seru Eris

‘Agghhh… Arrrghhh…’ Desahan Audrey makin keras

‘AUDREY!!!’ Teriak Eris

‘AAAHHHHH---PRIL MOP!!!’

Eris terdiam, matanya terbelalak melihat keadaan Audrey yang berseru keras seperti itu. Audrey segera memasang posisi duduk pada kasurnya dan tertawa. Bukan, tertawa bersama Rere dan Anna. Mereka menertawai yang tak lain dan tak bukan adalah Eris.

‘A—apa…’ Desah Eris pelan

‘Ahahaha… April fool yang udah gue siapin buat lo Ris!’ Seru Audrey sambil dilanjutkan dengan tawanya yang terbahak-bahak

‘Audrey… jadi… lo…’ Ujar Eris masih terbata

‘Ya nggak mati lah! Sejak kapan gue punya penyakit syaraf?!’ Sahut Audrey memotong kalimat Eris

‘AUDREEEEY! SIALAN LO!!!’ Teriak Eris kencang

Tawa mereka bertiga semakin terdengar keras. Sementara Eris pipinya memerah karena merasakan malu yang tidak pernah ia rasakan. Dia menyembunyikan mukanya deri teman-temannya. Namun tiba-tiba ia terduduk lemas. Audrey, Anna dan Rere sedikit terkejut dan segera menghampiri Eris.

Ternyata Eris menangis.

‘Ris?! Eris?! Astaga… maafin kita kalo kita udah kelewatan ngerjain lo…’ Ujar Anna

‘Iya Ris… lagian kita ngelakuin ini karena kita semua sayang sama lo!’ Lanjut Rere

‘Bu—bukan gitu… tadi gue gak bisa ngebayangin kalo Audrey beneran mati… apalagi ka—kalo matinya…’

‘Udah! Ayo, ngobrolnya jangan disini!’ Seru Audrey memotong kalimat Eris

__..oOo..__

04.20 pm – Café

Mereka beranjak dari rumah sakit menuju café terdekat disana. Mereka mencoba menghibur Eris untuk melupakan kesedihan yang dirasakannya tadi. Emosinya kini sudah kembali normal.

‘Kalian semua gila! Siapa sih yang nelfon gue pakai nomor aneh kayak gitu?!’ Seru Eris setelah meminum sodanya

‘Hahaha… itu gue Ris! Gue yang ngomong di telpon itu!’ Jawab Anna

‘Tapi, Ris… semua ini murni idenya Audrey lho! Dia yang ngerencanain semuanya!’ Lanjut Rere

Eris menaikkan alisnya sebelah tanda tak percaya. Ia menatap Audrey yang meminum habis kopinya. Ia tersenyum, kemudian ia berdiri menaikkan kerahnya membanggakan diri. Yang ada malah kepalanya yang kena layangan sedotan dari Eris.

‘Ahaha… itu tadi dokter sama perawat-perawatnya juga bohongan lho! Lagian gak ada dokter-dokter sama perawat-perawat yang mau akting demi rencana gue, jadi… diturunkanlah anak buah bokap gue~’ Kata Audrey

Eris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkikik. Lalu ia menghabiskan soda miliknya.

‘Tapi yang paling parah tengah malem kemarin! Udah tengah malem nelfon, nomornya aneh banget lagi! Gue sampe banting handphone, tau gak?!’ Imbuh Eris

‘Oh… hahahah! Itu gue pake nomor kakak gue Ris! Nomornya dia unik banget sih! 12 digit, angkanya hampir sama semua!’ Sahut Anna

Eris terdiam sebentar, raut mukanya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir.

‘Dua belas… digit?!’ Ujar Eris pelan

‘Iya, kenapa Ris?’ Jawab Anna sambil melemparkan pertanyaan juga

Eris terdiam kembali dengan segaris keringat yang mengucur. Cepat-cepat ia mengambil tasnya dan mengeluarkan dompet dari dalamnya. Lalu ia mengambil SIM card handphone-nya yang masih bisa ia selamatkan.

‘Kenapa sih Ris?’ Tanya Audrey padanya

‘Eh, Re… pinjem handphone lo dong! An, coba gue liat nomor yang lo maksud tadi!’ Seru Eris

Anna merogoh kantung kemejanya dan mengeluarkan handphone dari dalamnya. Ia mengutak-atik handphone itu sebentar, lalu ia memberikan handphone itu pada Eris. Eris segera mengambil handphone itu dari tangan Anna dan melihat layar handphone itu.

‘K—kok?!’ Ujar Eris dengan mata yang terbelalak

‘Kenapa sih Ris?! Jawab gue!’ Seru Audrey pada Eris

Eris terdiam sebentar sementara Rere memberikan handphone-nya pada Eris.

‘Nomor yang tadi malem nelfon gue… beda!’ Seru Eris menjawab pertanyaan Audrey

‘Lah? Ma—maksud lo apa?!’ Balas Audrey

Eris tidak menjawab pertanyaan Audrey, ia sibuk mengaktifkan SIM card-nya pada handphone Rere. Sementara yang lain pun terdiam menunggu Eris berkata sesuatu.

Eris menyalakan handphone itu dan memeriksa nomor-nomor baru yang menghubunginya. Keringat baru mengucur dari kepalanya.

‘Kalian! Liat ini! nomornya beda! Nomor yang kemarin malem nelfon gue… cuma empat digit!’ Seru Eris sambil menunjukkan kedua handphone itu

Semua terdiam menatap kedua handphone.

.

.

.
‘April mop empat empat empat empat!’
__..oOo..__
To Be Continued...
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://reinettesutcliff.blogspot.com
Reinette Sutcliff

avatar

Jumlah posting : 1802
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : Fangirling Corner

Chara profile
Name: Reinette Sutcliff/Minachi Sumire
Status: Shinigami/Civillian
Race: Shinigami/Human

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] 1st Day of April   Sat Aug 28, 2010 12:35 pm

Suasana hening tercipta kembali seperti déjà vu.

Eris mencoba membuktikan kejadian yang dialaminya tadi pagi. Temannya malah saling bertatapan dan mengerutkan alisnya masing-masing. Kini mereka berempat yang bingung. Eris masih menunggu temannya berkutik dengan pernyataannya.

‘Nggak lucu tau Ris!’ Seru Rere sambil merebut handphonenya

Jantung Eris sedikit tersentak, keringat mengucur melintasi panjang kepalanya.

‘Jangan bilang kalau ini April mop buat kita bertiga…’ Ujar Audrey pelan pada Eris

Mata Eris terbelalak, kata-katanya sedikit terbata menjawab kalimat Audrey ‘Maksud kalian apa, huh?! Kalian kira gue tau kalian semua bakal ngerjain gue dan gue udah nyiapin rencana pembalasannya? Itu konyol!’ Eris berhenti untuk mengambil nafas lagi, ‘Gue gak mungkin ngelakuin itu sama temen sendiri…’

Semua masih terdiam sejak Eris meluapkan hatinya dalam kata-kata.

‘Kita semua tau itu kok Ris…’ Lirih Anna sambil memegang lengan Eris seraya untuk menenangkannya sebelum terlarut emosinya.

‘Iya, kita nggak bener-bener nyalahin lo, cuma… memangnya siapa lagi yang ikut ngejalanin rencana gue selain mereka berdua?!’ Ujar Audrey sambil menunjuk kedua temannya itu di akhir katanya.

‘Anak buah bokap lo… mungkin’

Audrey menatap Rere atas kata-katanya yang baru terucap.

‘Kerajinan banget mereka ngerecokin kita… lagian mereka itu siapa kita? Mereka nggak kenal kita, kita gak kenal mereka… Lagipula mereka tuh gak bakal macem-macem kalo udah dikasih bayaran!’ Jelas Audrey sambil mengeraskan suaranya sedikit

‘Lantas siapa? Seseorang dibalik telpon yang gue terima?’ Tanya Eris seraya membalas kalimat-kalimat Audrey

Hening. Mereka berempat terdiam kembali.

‘Tenang aja Ris, gue sebagai biang keroknya bakal nyari tau… gue juga harus tanggung jawab sama lo’ Ujar Audrey tersenyum sambil menepuk pundak Eris

Tanggung jawab, huh?


__..oOo..__

Mereka akhirnya pulang karena senja sudah mulai datang. Tepat pukul lima sore mereka meninggalkan rumah sakit dan pulang dengan tumpangan mobil Audrey. Selama perjalanan mereka tidak banyak bicara, suasana tegang di rumah sakit masih terasa auranya. Hanya Audrey yang terlihat menyetir mobil dengan santai—seakan tidak terjadi apa-apa.

Sambil mengeraskan musik yang mengalun dari radio mobilnya, ia ikut menyanyikan lirik lagu seingatnya. Anna yang duduk disebelahnya menatap Audrey dengan alis yang berkerut.

Mobil berhenti berjalan. Di depannya sudah ada barisan-barisan kendaraan yang terjebak macet—termasuk mereka. Sambil meluapkan rasa kesalnya, Audrey memukul klakson mobilnya.

‘Sabar Drey… paling lagi ada razia…’ Gumam Anna menenangkan Audrey yang duduk disebelahnya

‘Haaah… padahal gue belum ngerjain tugas Biologi gue, kalo pulangnya telat kapan ngerjainnya coba…’ Keluh Audrey sambil menyandar pada jok mobilnya

‘Macet kenapa sih?! Gue gak yakin kalo razia… udah sore gini polisi mah udah pada ngeloyor ke rumah kali’ Sahut Rere

Eris masih terdiam, ia tidak mau berkomentar apapun. Rasa ingin tahunya mendorongnya untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan temannya itu. Ia buka jendela mobil Audrey dan melongokkan kepalanya keluar melihat keadaan.

Tidak terlihat apapun—antrian kendaraannya terlalu panjang.

‘Gimana Ris?’ Tanya Anna

‘Nggak kelihatan! Pemandangannya ketutup metro mini’ Jawab Eris sambil masuk kedalam mobil lagi

Eris mendapat ide lagi.

Seorang pengamen jalanan berjalan menyalip mobil mereka. Eris bertanya pada pengamen itu ‘Mas, itu didepan ada apa? Kok bisa macet?!’

‘Kecelakaan dik, ada mobil yang tertabrak’

Eris sempat terpekik pelan, teman-temannya yang lain pun demikian. Kemudian Eris mengucapkan terima kasih pada pengamen itu sambil memberikan imbalan padanya. Eris kembali duduk dan menutup jendela mobil itu.

‘Gawat, pasti bakal lama kita kejebak macet… antriannya masih panjang gini…’ Gumam Eris

‘Jadi gimana nih, mau jalan cepet atau lama?’ Tawar Audrey pada teman-temannya

‘Maksudnya apa Drey?’ Sahut Rere cepat

‘Ya… kalo jalan lama, kita tungguin sampai keluar jalur macetnya… kalo mau cepet, mau gak mau kita tinggalin mobil ini di mall sana… terus kita naik busway…’ Jelas Audrey diikuti gerakan tangannya

‘Mall yang mana?! Memang ada mall disekitar sini?!’ Sahut Eris bertanya

‘Ada… di tikungan yang sebentar lagi kita lewatin’ Jawab Audrey sambil menginjak pedal

‘Gue setuju cara cepetnya… tapi nanti mobil lo gimana?’ Tanya Anna pada Audrey

‘Yah… nanti diambilnya…’ Jawab Audrey singkat

‘Okelah… daripada nanti dirumah gue dimarahin nenek gue…’ Balas Rere sambil mengambil handphone dari tas tangannya

Audrey menatap Eris. Eris hanya mengangguk.

__..oOo..__

Akhirnya setelah seperempat jam berlalu mereka sudah meninggalkan mobil mereka yang di parkir di mall. Mereka menyebrangi jalan raya berbarengan, melintasi jalan raya yang sedang padat merayap itu dengan jembatan penyeberangan yang terhubung dengan halte busway.

‘Gila… gimana nasib kita kalo nungguin macet ini? Barisannya panjang banget, liat deh!’ Tunjuk Anna pada pemandangan dibawah mereka
‘Kita stress sendiri di dalem mobil kayaknya’ Sahut Audrey tanpa berbalik badan

Eris terdiam sambil berusaha melihat ujung antrian itu ‘Kayaknya disitu kejadiannya… lihat deh, disitu banyak mobil polisi!’

‘Wah, iya tuh kayaknya’ Balas Rere yang berjalan di barisan belakang

Mereka tidak berkomentar lagi, mereka terus berjalan menghabiskan sisa panjangnya jembatan penyebrangan. Saat mereka sampai di halte busway, mereka mungkin sedikit terkejut. Halte busway pun cukup padat dengan orang-orang yang menunggu datangnya bis. Mungkin bukan hanya mereka saja yang berpikir untuk mengambil bis.

Setelah menunggu bisnya sekian lama, akhirnya mereka mendapat bis yang dapat mereka tumpangi. Walaupun bis saat itu sangat padat, mereka masih bisa mendapat dua bangku untuk duduk. Anna dan Rere menduduki bangku itu sedangkan Audrey dan Eris berdiri. Bis itu pun melaju kecepatannya tidak maksimal karena banyak juga kendaraan yang melaju di jalan khusus busway itu. Yah, namanya juga sedang dalam keadaan macet parah.

Hingga akhirnya mereka melihat pemandangan di TKP-nya.

Tepat di perempatan, bis itu berhenti menunggu kendaraan dari arah lain berlalu lalang. Dan di perempatan itulah tempat kejadian kecelakaan mobil itu. Mereka memandangnya hampir tak mengerjap, begitu pun penumpang bis lain yang antusias ikut melihat. Ironisnya, mobil yang kecelakaan itu sama dengan mobil Audrey. Persis sama, hanya saja yang mereka tatap ini sudah penyok sana-sini dan hancur parah di bagian depan. Sementara mereka melihat juga tiang lampu jalanan yang tumbang kearah jalanan. Perempatan saat itu dipenuhi mobil polisi dan juga 1-2 mobil ambulan.

‘Kayaknya mereka nabrak tiang lampu itu ya?’ Ucap Anna yang berkomentar pertama

‘Iya, mereka niat berbelok tapi malah nabrak tiang, udah gitu mereka ngegas’ Balas Audrey

‘Kasihan, korbannya cewek pula...’ Tunjuk Eris pada tim ambulan yang menggotong perempuan dengan tandu

‘Uhum, udah mobilnya sama lagi... kalo cewek-cewek itu kita berempat gimana ya?’ Sahut Audrey pelan

Semuanya menatap tajam Audrey, sementara Audrey hanya bisa mengikik melihat teman-temannya yang terperangah itu.

Walaupun bis sudah mulai berjalan, Eris tetap menatap TKP itu. Benar, sepertinya benar korbannya adalah empat remaja perempuan. Ia melihat dua yang belum diselamatkan di dalam mobil itu sementara dua lagi ia lihat sudah digotong ke ambulan. Ia kembali mengulang kalimat Audrey dalam pikirannya, ‘Bagaimana kalau kita yang mendapat kecelakaan itu?’

Eris bergidik merinding.

Bagaimana tidak? Tiba-tiba seperti ada hawa panas menghembus pada lehernya. Air conditioner dalam bis tidak bisa melawan hawa panas itu. Padahal pintu bis sedang tidak terbuka, tapi kenapa bisa ada hawa panas? Tapi hawa panas ini... seperti nafas yang berhembus di lehernya.

Padahal tidak ada satupun orang yang berdiri dibelakangnya.

Hawa panas itu sudah hilang, Eris mengusap lehernya dengan tangan kirinya. Tangannya gemetar mengusapnya, walaupun sebenarnya tidak terjadi apa-apa pada leher itu.

‘Kalian tadi sempet ngerasain hawa panas nggak?’ Tanya Eris pada teman-temannya

‘Nggak’

Mereka menjawabnya serempak.

‘Memangnya kenapa Ris?’ Tanya Anna yang masih perhatian padanya

‘Tidak, bukan apa-apa...’

‘.........’ Eris terdiam sambil menunduk

Mungkinkah...


.

.

.

Yang merencanakan sesuatu pasti akan...


__..oOo..__

To be continued..


_________________

from Zerochan #732729

First Chara - Reinette Sutcliff ### Second Chara - Minachi Sumire


Me? Just an annoying fangirl :P
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://reinettesutcliff.blogspot.com
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: [GX Fantasy] 1st Day of April   Thu Sep 30, 2010 5:36 pm

“Yang merencanakan sesuatu…”

“…HARUS MATI!”

“AAAAHHH!”

Pekikan Eris terdengar mendominasi kamarnya. Ia terbangun—terbangun dari mimpi. Mimpi yang aneh baginya, karena baru pertama kali ia bermimpi seperti itu. Keringat mengucur dari atas sampai bawah kepala Eris. Nafasnya tersenggal—hingga ia haru memegang dadanya. Ia mencoba tenang, dan lebih tenang lagi.

Perlahan ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar. Setelah berjalan sebentar, ia sudah sampai di bingkai pintu dapur. Eris mengambil segelas air dingin dari lemari es, dan menenggaknya sampai habis.

“Mati…”

Ia terpikir lagi pada mimpi itu.

“Tapi siapa?”

Eris memijat dahinya perlahan dan mencoba melupakan mimpi yang baru dialaminya tadi. Tidak lama ia melihat jam dinding yang terpampang dibelakangnya. Sudah hampir tengah malam, ia tidak mau kalah dengan ketakutan yang baru dialaminya. Ia akhirnya berusaha untuk tidur sambil meredam rasa takutnya sedikit-demi sedikit.

Berhasil memang.

__..oOo..__

09.00 am – at School

Eris, Rere, Audrey. Tiga gadis itu sedang duduk ditaman sambil menikmati santainya jam istirahat sekolah. Hanya tiga? Kemana Anna?

“Waaaaiiiiii!!!”

Ketiga gadis itu merasa terpanggil oleh suara lembut itu. Itu dia Anna.

Anna berlari menghampiri mereka yang sedang duduk lesehan dibawah pohon yang rindang. Mereka tidak merespon Anna, mereka hanya menatap Anna yang berlari sambil mengunyah atau menyedot minuman dari gelasnya.

“Apa An?” Respon pertama dari mereka, yaitu dari Rere

“Aku Cuma mau kasih tahu sesuatu ke kalian semua… itu…” Jawab Anna terputus

“Kasih tahu apa? Penting?” Tanya Audrey

Anna terdiam sebentar sambil menatap masing-masing sepasang mata temannya. Keringat mengucur turun dari kepalanya.

“Ini soal keanehan kemarin, nomor aneh itu…” Ujar Anna pelan

“Apa An? Kamu tahu siapa yang nelfon?” Sambut Eris sambil menghentikan aktivitas mengunyahnya

“Jadi gini, kemarin malam gue ceritain tentang kejadian di rumah sakit sama yang di café, dia punya diagnosa atas kejadiannya…”

Yang mendengarkan menatap Anna begitu serius.

“Dia bilang, kalau semua itu dibikin sama hantu”

Ketiga sisanya tersentak dengan mata terbelalak. Mereka tidak menyangka bahwa Anna akan mengatakan hal barusan. Hantu katanya?

“Lo serius—maksudnya, temen lo serius gak?” Tanya Rere langsung

“Dia serius! Dia sampai menceritakan tentang hantunya! Masa’ kayak gitu dikira bohong?” Balas Anna

“Dia ngomong apa?” Tanya Eris
“Jadi, katanya disini pernah ada cewek yang menghilang misterius, sekolah tidak tahu dia kemana bahkan orangtuanya tidak tahu juga… dan hari tanggal dia meninggal itu tanggal satu April!” Jawab Anna

“Kemarin dong—“

“Jadi dia nganggap semua ini ulah hantu? Dan kalian juga akan percaya ini ulah hantu?” Tanya Audrey memutus kalimat Rere

Semuanya saling bertatapan, saling mempertanyakan apa yang mereka tanggapi dari pertanyaan Audrey. Mereka seperti ragu-ragu menjawabnya, percaya atau tidak.

“Bisa jadi Drey…” Ucap Rere pelan

“Iya, semuanya bisa jadi mungkin kalau untuk makhluk halus, nanti kita cari tahu dulu tentang diagnosa ini, kalau kurang masuk akal… ya kita selidiki diagnosa yang lain” Tambah Eris

Audrey menatap tajam ketiga temannya.

“…Nih, gue bilang dari awal ya… gue gak bakal percaya kalau ini ulahnya makhluk halus, gue gak pernah percaya sama hantu…” Balas Audrey sambil mengambil minuman sodanya

“Tapi, gue setuju dengan Eris… kita harus selidiki dulu” Lanjut Audrey

.

.

.

Percaya?

Memangnya apa yang bisa kau percaya sekarang?

__..oOo..__
16.45 pm – at School

Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi. Lapangan sekolah yang tadinya diisi oleh murid-murid yang berhamburan menuju pagar sekolah, sekarang sudah sepi. Rere hanya bisa melihat itu dari lantai tiga sekolah. Ya, dia tidak langsung pulang. Dia dan ketiga sahabatnya itu berjanji akan berkumpul dulu untuk menyelidiki. Sekarang ia menunggu Anna selesai dengan ekskul paduan suaranya.

“Re! ayo ke lantai bawah!” Seru Anna sambil menarik lengan Rere

Rere hanya tersenyum sambil mengikuti Anna dari belakang. Mereka berdua menuruni tangga satu persatu untuk menuju lantai bawah. Ketika sudah sampai tangga terakhir, ternyata Audrey dan Eris sudah menunggu dibawahnya.

“Gue udah tanyain beberapa temen gue yang tahu tentang itu” Ujar Audrey kepada mereka berdua

“Oh! Apa katanya?” Tanya Anna

“Kata mereka, murid cewek yang menghilang itu dari angkatan 1990-1991… kita bisa cari tahu datanya lewat pengurus sekolah” Jawab Audrey sambil mulai melangkah

Mereka bertiga mengekori Audrey yang sudah mereka anggap akan membawa mereka pada ruang pengurus sekolah.

“Wew… tahun segitu gue belum lahir kali…” Sahut Rere

“Jadi kita mulai bertanya pada pengurus dulu tentang gadis itu?” Tanya Eris

“Iya, sampai seterusnya penyelidikan ini selesai” Jawab Audrey yang mulai memelankan langkah kakinya karena sudah dekat dengan ruang pengurus kelas

Audrey mengetuk pintu beberapa kali dan membukanya perlahan. Mereka berempat satu persatu memasuki ruangannya. Disana sudah terdapat seorang lelaki yang sudah cukup berumur sedang menyusun berkas-berkas di lemari. Tidak lama setelah mereka memasuki ruangan, lelaki itu menyadari kehadiran mereka berempat.

“Ada yang bisa dibantu?” Sambut bapak itu sambil menghentikan aktivitasnya

“Kita… mau bertanya tentang sedikit informasi pak” Jawab Audrey sambil mendekatinya

“Silakan kalian duduk dulu” Ucap bapak itu menawarkan
Eris dan Audrey menduduki dua kursi yang tersedia sementara Anna dan Rere duduk di sofa untuk tamu. Bapak itu duduk menghadap Eris dan Audrey. Jarak mereka hanya dihalangi oleh meja kerja.

“Jadi, kita berempat ingin tanya sesuatu tentang data murid disini” Ucap Audrey sambil menatap Eris

“Untuk apa?” Tanya Bapak itu

“Eh? Ehm, untuk…”

“Tugas mading!” Seru Anna

“I—iya, kita disuruh membuat artikel tentang… murid-murid di sekolah ini” Sambung Eris

Bapak itu mengangkat alisnya sebelah dan memasang wajah penuh kecurigaan “Apa yang kalian ingin ketahui?”

“Bapak tahu siswi yang menghilang secara misterius pada angkatan 1990-1991?” Tanya Audrey serius

Bapak itu terdiam sebentar sambil menyebar tatapannya pada keempat gadis itu “…Ya, saya tahu”

“Kami ingin tahu tentang dia pak, bersediakah bapak memberitahunya?” Tanya Eris

“Boleh saja…”

Si bapak beranjak dari kursi putarnya dan berjalan menuju lemari berkas yang tadi. Ia mengambil satu berkas berwarna biru yang tebal dan membawanya keatas meja kerja.

“Bapak masih menjadi guru saat ia bersekolah disini, dia itu anak yang pendiam dan selalu menutup diri, kebetulan saat itu bapak menjadi wali kelasnya saat kelas sembilan, bapak selalu menyuruhnya untuk menceritakan masalah yang ia ketahui sekarang, tapi dia enggan” Jelas bapak itu sambil membalik lembar per lembar berkas itu

“Ini dia anaknya” Ucap bapak itu ketika sudah berhenti di salah satu halaman

Audrey dan Eris segera memperhatikan halaman itu. Bahkan Anna dan Rere pun segera beranjak menghampiri mereka berdua untuk melihatnya. Datanya terekspos jelas oleh monitor mata mereka. Nama anak itu Liana Vearisha. Dia terlihat kalem di photo berukuran 3x4 yang terdapat disana.

“Dia menghilang pada pertengahan semester dua kelas tiga, karena menghilangnya sangat misterius, orangtuanya menganggap ia sudah meninggal” Lanjutnya

Mereka berempat membisu dan saling bertatapan satu sama lain. Rere menurunkan alisnya dan memperlihatkan wajah masam pada teman-temannya. Ia akhirnya turun tangan juga.

“Setahu bapak, siapa teman terdekatnya semasa sekolah?” Tanya Rere

Bapak itu terdiam sebentar sambil mengarahkan pandangannya dengan sembarang “Maria… ya, seingat bapak dia orangnya, dia juga sering memperhatikan Liana, hanya dia satu-satunya teman Liana”

“Maria! Maria… Maria… Maria…” Seru Rere sambil membolak-balik halaman berkas

Sambil menepuk punggung Rere, Anna berkata “Halah! Dikirain kamu tahu Maria…”

Semuanya mengerubungi berkas diatas meja kerja itu lagi. Rere berdiri setengah duduk dan posisinya menyempil diantara kursi Eris dan Audrey. Ia sibuk meneliti satu-persatu halaman berkas itu, dan tidak lama ia menemukannya.

“Ini dia! Ini si Maria!” Seru Eris sambil menepuk-nepuk halamannya

“Catat kontak-nya! Catat!” Lanjut Audrey menyeru

Anna langsung merogoh kantung kemejanya dan menulis kontak itu di note. Sementara Eris segera mengamati benar-benar rupa wajahnya.

“Sip, ayo kita ketemu sama dia” Kata Audrey sambil bangkit dari duduknya

Semuanya pun sudah mengambil langkah untuk keluar dari ruang pengurus sekolah. Tak lupa mereka berempat berterima kasih pada bapak itu. Mereka langsung membuat janji dengan Maria. Dan janji itu langsung disetujui, mereka akan mendatangi rumah Maria secepatnya.

__..oOo..__

17.17 pm – Maria’s House

Mereka sampai, sampai di kediaman yang cukup besar dengan dekorasi berwarna kelabu. Rumah ini pun jauh jaraknya dari masyarakat yang lain. Terlebih lagi, rumah ini berada tepat di bawah bukit kecil yang penuh pepohonan. Memang rumah ini masih memasuki perumahan penduduk, tapi terletak di ujungnya. Seperti… terasing.

Dengan sedikit rasa merinding mereka memberanikan diri melangkahkan kaki melewati gerbang rumah yang dibiarkan terbuka oleh pemiliknya. Memang sedikit ada ragu dengan rumah ini, rasa ragu itu juga tercampur rasa takut, takut dengan gambaran wujud pemiliknya.

Akhirnya mereka sampai di depan pintu.

Audrey mengetuk pintunya perlahan, mungkin ia takut merusakkan pintunya karena sudah cukup lapuk kayunya. Tapi mereka jadi bingung karena tidak ada yang menjawabnya. Keraguan mereka makin menjadi.

“Coba lagi lah Drey…” Perintah Rere pada Audrey

Audrey menjalankan perintah Rere tadi, ia mengetuk pintu itu sampai dua kali rangkaian ketukan. Tapi hasilnya tetap nihil, tidak satu pun orang yang meladeni mereka.

“Sudah lah… gue yakin kita pasti salah alamat…” Ujar Anna sambil menerawang setiap sisi-sisi rumah itu

Audrey mengangguk, “Ya udah, kita cari lagi besok… sekarang sudah terlalu sore” Balas Audrey sambil berbalik haluan dan juga diikuti teman-temannya

.

.

.

“Kalian tidak salah…”

Semuanya langsung terkejut dengan suara yang ‘memanggil’ mereka. Dengan cepat mereka memutar badannya. Mereka yakin itu dia, dan memang harus dia. Maria, seorang wanita muda yang memakai baju terusan warna putih kusam. Ia seperti warga negara asing, kulitnya putih pucat, dengan rambut kuning kecoklatan.

“Aku Maria, aku sudah tau maksud kedatangan kalian kemari…” Maria melanjutkan kalimatnya sambil mempersilakan mereka masuk

Tanpa basa-basi mereka mengikuti Maria kedalam. Mereka sangat terperangah melihat interior dalam rumahnya yang cukup gothic. Warna kelabunya tidak hilang di interior itu, dan juga berbagai macam foto dan pajangan menempel di dinding. Api di perapian yang berbahan keramik dibiarkan menyala, terasa aroma kayu pinus memenuhi ruangan.

“Anda tadi bilang tahu maksud kami kan? Kalau begitu cepat jelaskan sekarang” Ucap Audrey tegas

“Sabarlah… lebih baik kita bercerita dengan santai sambil ditemani teh hijau… teh hijau itu juga berfungsi menenangkan pikiran lho…” Balas Maria dengan lembut

“Duduk dulu Drey..” Ujar Eris

Audrey menghela nafas beratnya sambil duduk di sofa yang sama dengan teman-temannya.

“Rumahnya serem banget ya Re…” Ujar Anna pelan

“Hush! Bodoh! yang punya denger gimana?!” Sahut Rere sambil menepuk paha Anna

“Tapi apa kalian nggak pada heran? Masa’ ada gitu orang yang rumahnya jauh dari pemukiman penduduk?” Tanya Audrey pada ketiga temannya

Mereka terdiam sebentar.

“Pasti ada alasannya Rey…”

Audrey hanya diam ketika Eris menjawab pertanyaannya, tanda ia cukup puas dengan jawaban Eris. Tidak lama setelah percakapan itu selesai, Maria muncul dan menghampiri mereka dengan baki yang berisi teko dan beberapa cangkir.

“Ayo cicipi! tehku nomor satu di dunia lho!” Seru Maria sambil meletakkan baki itu diatas meja

Mereka masih terdiam ketika Maria sudah duduk pada single sofa yang besar. Pandangan empat anak itu tertuju pada Maria.

“Oke… kalian benar, aku Maria… teman Liana dulu sewaktu SMA… panggil saja aku Maria” Kata Maria sambil menyilangkan kakinya

“Baiklah, Maria… jelaskan kami tentang temanmu itu… kejadian yang sebenarnya…” Balas Eris

“Hmm… Sebelumnya, beritahu aku dulu maksud tersirat kalian datang kesini, pasti bukan hanya karena Liana kan?” Tanya Maria sambil mengambil cangkir tehnya

Mereka berempat hanya bisa saling berpandangan ketika Maria mengucapkan kalimatnya

“Oke kalau kau mau tahu… Tanggal satu April kemarin, kami membuat jebakan April fool’s pada dia…” Jawab Audrey sambil menunjuk Eris

“Oh… Lalu?” Sahut Maria setelah selesai menyeruput tehnya

“Tapi ternyata yang ikut mengerjainya bukan hanya kami bertiga saja, tapi ada ‘pihak’ lain…” Lanjut Audrey dengan wajah serius

“Ah… begitu rupanya… sebenarnya itu salah kalian juga…” Balas Maria

“Apa maksudmu?” Sahut Audrey dengan pertanyaan

“Oh… mereka kejam Liana… mereka terus memaksaku untuk mengatakannya…” Ucap Maria pelan tanpa jawaban

Audrey menaikkan alisnya sebelah, sementara yang lainnya demikian halnya dengan Audrey, tidak tahu apa maksud kalimat Maria tadi.

“Liana pasti sedang marah kepada kalian, hari kematiannya yang paling menyedihkan dijadikan hari untuk bersenang-senang melihat penderitaan orang lain… Apalagi hari itu kalian menjahili anak ini dengan mempermainkan kematian… Pasti sungguh sakit hati Liana…” Ujar Maria lirih tapi dipenuhi senyum

Audrey hanya bisa terkejut ketika Maria tahu bahwa ia mengetahui rencananya saat kejadian kemarin. Ya, ia pura-pura meninggal di depan Eris.

“Oleh karena itu aku membenci hari itu, ketika aku tidak berdaya untuk menolong Liana yang membutuhkan bantuan” Lanjut Maria sambil mengedarkan pandangannya pada empat gadis itu

“Memangnya apa yang sebenarnya terjadi pada Liana pada hari itu?” Tanya Eris

“Sama sepertimu, kami berdua dijahili oleh teman kami yang lainnya yang sepertinya tidak suka dengan persahabatan kami… tapi kejahilan yang mereka berikan pada kami lebih menyakitkan daripada yang kalian buat…” Ujar Maria terputus

Semuanya terlihat serius sehingga tercipta suasana yang makin tegang.

“Mereka memanggil orang untuk menculik kami, kami diculik oleh sekelompok lelaki asing, lalu kami disekap dalam ruangan tertutup, saat itu kami langsung membuat rencana kabur ketika pintu dibuka, kami memanfaatkan barang-barang yang tersedia untuk membuka ikatan tali dan akhirnya berhasil pada saat pintu akhirnya terbuka karena sekelompok lelaki asing itu masuk…”

“…Ternyata mereka berniat memperkosa kami berdua, mereka berhasil menahan serangan Liana, tapi aku berhasil kabur karena kekuatan orang-orang itu tidak cukup kuat untuk menandingi kekuatanku, walaupun masih ada satu orang yang mengejarku saat itu… tapi aku berhasil kabur dari jangkauan mereka”

Semuanya terperangah mendengar cerita Maria tadi. Mungkin sungguh terdengar kejam bagi mereka.

“Saat itu aku berlari sambil menangis, menangis karena jeritan minta tolong Liana terus terngiang di telingaku… ketika aku pulang kerumah, aku langung melaporkan hal ini pada orang tuaku, mereka sungguh marah dan langsung memindahkan aku kesekolah lain karena hal itu, tapi kepala sekolah menutupi kejadian itu juga dan mereka menganggapnya hanya angin lewat” Lanjut Maria lagi sambil menghembuskan nafasnya

Semuanya terdiam terhenyak kesunyian.

“Lalu bagaimana keadaan Liana setelah anda kabur?” Tanya Rere pelan

“Kurasa ia benar-benar dianiaya disana, dianiaya… hingga mati” Ujar Maria pelan membalas pertanyaan Rere

Audrey terlihat kesal dengan gambaran raut wajahnya, ia berkata “Lalu apa hubungannya dengan kejadian yang menimpa kami?”

“Ah, asal kalian tahu… sudah banyak orang yang datang kesini dan memintai penjelasanku… dan cerita mereka sama seperti cerita kalian ini” Jelas Maria

“Jadi… kita berempat semacam… dihantui dia?” Tanya Rere

“Istilahnya mungkin begitu, biasanya kejadian aneh akan menimpa mereka pada tanggal ganjil seperti tanggal satu, tiga, dan seterusnya… jadi besok hati-hati saja ya…”

PRAANGG!!

“BULLSHIT TAU SEMUA OMONGAN LO ITU! LO KIRA GUE SEMUDAH ITU PERCAYA SAMA BUALAN LO TADI?! BULLSHIT!!” Bentak Audrey setelah ia membanting cangkir tehnya

“Drey!! Lo kenapa sih?!” Rere mulai terbawa dalam suasana amarah Audrey

“Kalian percaya langsung percaya sama cerita dia, hah?! Dia itu gila! Ceritanya gak dimasuk akal… ayo kita pergi dari sini! Pulang!!!” Seru Audrey sambil bangkit dari sofa

“Tapi Drey—“

“PULANG!!!”

Maria masih duduk dan terlihat tenang. Ia hanya tersenyum melihat tingkah empat remaja ini. Mereka berempat mulai melangkahkan kaki keluar tanpa pamit padanya, terkecuali Eris. Eris sempat menatap Maria yang masih tersenyum manis.

“Aku sudah peringatkan lho… besok kalian harus hati-hati…” Ujar Maria pelan

Eris hanya mengangguk kecil diikuti dengan langkah kakinya keluar.

.

.

.

.

.

“Sudah waktunya balas dendam ya…”

“…Liana~?!”


To be Continued
__..oOo..__
Kembali Ke Atas Go down
Reinette Sutcliff

avatar

Jumlah posting : 1802
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : Fangirling Corner

Chara profile
Name: Reinette Sutcliff/Minachi Sumire
Status: Shinigami/Civillian
Race: Shinigami/Human

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] 1st Day of April   Thu Oct 07, 2010 3:25 pm

“Aku sudah peringatkan lho… besok kalian harus hati-hati…” Ujar Maria pelan

Eris hanya mengangguk kecil diikuti dengan langkah kakinya keluar.

.

.

.

“Sudah waktunya balas dendam ya…”

“…Liana~?!”


__..oOo..__

09.00 am – at School

Kelas 12c, yaitu kelas yang diduduki Eris dan Audrey. Kelas itu terlihat begitu tentram, muridnya tidak berisik karena mereka kelihatan antusias dengan pelajaran yang diberikan guru. Eris dan Audrey pun yang duduk bersebelahan sedang asik mencatat tulisan di papan tulis.

“Ris…”

Yang dipanggil segera menoleh sedikit kepada teman sebangkunya, Audrey

“Apa?”

“Gue minta maaf atas perbuatan gue tanggal satu itu… maaf kalau lo dibuat susah gara-gara perbuatan gue itu…” Ujar Audrey pelan

“Iya, gue udah maafin lo dari awal… lagipula ini bukan salah lo juga kan?” Balas Eris

“…Semuanya salah kita, kita berempat yang berani mempermainkan tanggal satu April, yang padahal itu tanggal yang… keramat” Lanjut Eris

Audrey memandang Eris dengan tatapannya yang cukup tajam. Entah apa yang ada di pikiran Audrey sekarang.
__..oOo..__

10.00 am – School Canteen

Mereka berempat berkumpul di meja kantin, sambil menikmati makanan yang baru mereka beli sebelumnya. Keheningan mulai tercipta sejak menit pertama mereka berkumpul. Eris mulai merasa curiga pada Anna dan Rere yang biasanya memulai percakapan duluan. Mereka berdua seperti menyembunyikan sesuatu, dan raut wajah mereka berdua tampak seperti orang yang sedang ragu-ragu.

“Gue mau ngomong serius sama kalian berempat…”

Kata-kata yang baru dikeluarkan Audrey langsung menarik perhatian orang yang ditujunya

“Pertama-tama gue mau minta maaf pada Eris…” Ujar Audrey pelan

“Maaf apa lagi Drey? Bukannya tadi udah?” Sahut Eris langsung

“Gue gak mau ngelanjutin penyelidikan tentang sms aneh yang nyampe ke tangan Eris… tapi gue terserah sama kalian bertiga, mau terus melanjutkan penyelidikannya, gue persilakan… tapi jangan kaitkan sama gue” Jelas Audrey

Ketiganya terkejut dengan keputusan Audrey yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.

“Tapi Drey, kan lo sendiri yang bertekad nuntasin masalah ini! Katanya lo mau tanggung jawab atas ini! Kasihan Eris juga kan?” Bentak Rere sambil beranjak dari kursinya den mengacungkan telunjuknya

“Ya, itu memang gue akui, gue gak pernah menyalahi ikrar yang sudah gue katakan, tapi dengan penyelidikan kemarin aja itu sudah membuktikan bahwa semua yang kita lakukan useless! Kalian nggak pikir itu pakai otak, huh?! Ada gitu orang yang udah mati punya handphone dan neror Eris kayak gitu?!!” Sahut Audrey tidak mau kalah

Semuanya terdiam ketika Audrey mengeluarkan semua pikirannya dalam kata-kata. Hampir saja Audrey terlartu dalam emosinya, tapi ia mengambil nafas dalam-dalam untuk mendinginkan otaknya.

“Oke Drey, kita akhiri semuanya dan menganggap kejadian itu sebagai bahan tertawaan kita di masa depan…” Ujar Eris datar

“…Tapi lo harus punya alasan lain untuk keputusan lo itu, jelasin ke kita semua…” Lanjut Eris sambil beradu pandangan dengan Audrey

Audrey terdiam sejenak.

“Kalian sadar nggak sih, kita udah kelas tiga? Sebaiknya kita lebih mementingkan belajar daripada aktivitas yang buang waktu kayak gitu…” Jelas Audrey cukup singkat

“Oh… oke, nanti kita berempat nggak usah cari info tentang itu lagi, tapi kita berempat ke perpustakaan untuk belajar, ya?” Balas Eris dengan cepat

“Setuju” Sahut Anna dan Rere berbarengan

Audrey mengangguk walaupun terlukis rasa ragu dari wajahnya.

.

.

.

“Gue mau ke toilet sebentar ya…” Ucap Audrey setelah selesai makan

Yang merespon hanya Anna. Walau tanpa memandang Audrey ia mengangguk kecil. Tapi Audrey tidak mempedulikannya, ia langsung beranjak dari kursinya dan berjalan meninggalkan mereka. Rere mulai mengalihkan perhatiannya pada Audrey yang sudah melangkah jauh dari mereka.

“Lima… empat… tiga… dua… ” Ucap Rere pelan

Eris menghadap Rere sambil menaikkan alisnya.

“Satu!”

“Ris! Kita nggak boleh percaya sama Audrey!! Kita harus terusin penyelidikan—“

“Oi!! Apa sih?!” Seru Eris memutus kalimat Rere
“Ris… kita dikirimin sms yang horror banget…” Ujar Anna sambil memperlihatkan layar handphone-nya

April MOP empat empat empat empat!
Diawali kematian… akhirnya juga akan serupa…

Mata Eris langsung terbelalak begitu membaca pesan itu.

“Kita?! Maksudnya kalian berdua dapat sms yang sama?” Tanya Eris pada Anna dan Rere

“Yah… dan waktu kirimnya juga sama…” Jawab Rere

“Kalian ini… beneran kan?!” Tanya Eris lagi

“Iya Eris!!! Lo kira muka gue ini lagi muka bercanda?” Ketus Rere

Eris hanya tertegun pada layar handphone itu. Sesaat ia teringat kembali mimpinya kemarin, suara surau yang mengatakan ‘Yang merencanakan akan mati…’ dan teriakan yang sangat keras. Badan Eris gemetar dan getarannya makin membuatnya ketakutan.

“Lucu nggak Ris, kalau yang nelfon lo itu… Audrey?” Tanya Anna pelan pada Eris

Eris sedikit terpekik ketika Anna mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya. Matanya terbelalak memandang Anna serta mulut yang terkunci karena tidak dapat mengatakan apa-apa setelahnya.

“Iya, gue juga mikir begitu Ris…” Sambung Rere serius “Kenapa? Kalian nuduh teman kita sendiri?!” Sahut Eris

“Bisa aja Ris, gue menduga keputusannya tadi itu supaya dia nggak ketahuan identitasnya sebagai pelaku!” Seru Rere mengemukakan pendapatnya

“I—iya! Benar tuh kata Rere!!” Sambung Anna

Eris hanya terdiam sambil membaca pesan itu berulang-ulang.

“Daripada kita pikirin hal yang nggak pasti, mendingan kita pikirin maksud pesan ini…” Ujar Eris sambil mengembalikan handphone Anna

“…’Diawali kematian… akhirnya juga akan serupa…’ maksudnya diakhiri dengan kematian kan?” Balas Anna

“Yap, tapi apa hubungannya juga dengan kita?” Tanya Rere entah tertuju ke siapa. Sejenak Eris berpikir, “Kalian ingat kata Maria? Sepertinya kita memang telah mempermainkan kematian di tanggal satu April… Audrey pura-pura mati kan…” Ucap Eris serius. “Kalian tahu? Sepertinya…”

Suasana menjadi hening diantara mereka bertiga. Anna dan Rere saling menunggu ujung dari kalimat Eris.

“Diantara kita akan ada yang mati…” Ujar Eris pelan

Rere dan Anna saling terpekik, mereka sangat terkejut dengan perkataan Eris. Wajah mereka langsung pucat dan tangan mereka bergetar. Sementara Eris hanya terdiam menunduk, dengan gemetar kecil.

“Ris, gue… dan juga Anna sekali lagi ngomong jujur sama lo… Rencana buat ngerjain lo itu semuanya otaknya Audrey… Kita Cuma ikut-ikutan… jadi, sekarang kita minta maaf sama lo…” Lirih Rere

“Gue udah katakan ini dua kali, gue udah maafin lo udah dari awal-awal… kalian nggak perlu merasa bersalah” Sahut Eris

“Ssshhh--!! Audrey tuh…” Sela Anna mengakhiri pembicaraan

Benar, terlihat Audrey dari jarak yang cukup dekat. Ia berjalan perlahan menghampiri tiga gadis itu. Mereka bertiga pun langsung mengganti topik dengan obrolan mereka sehari-hari agar tidak dicurigai Audrey.

Audrey langsung duduk pada kursinya “Oi, nanti habis pulang sekolah temenin gue ke perpustakaan ya, gue mau nyari referensi buat tugas sejarah nih, sekalian bantuin gue juga… mau kan? Ya?!” Rengek Audrey

“Halah… tugas jaman baheula belum selesai juga Drey? Oke, kita bakal bantuin lo kok…” Ucap Rere mengiyakan. Semetara Audrey hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

__..oOo..__

16.39 pm – at Library

Sekolah sudah sepi, apalagi perpustakaannya. Yang ada di perpustakaan hanya mereka berempat. Tidak ada pustakawan yang biasa mengawasi pengunjungnya saat di perpustakaan. Inilah yang sebenarnya diinginkan Audrey, bebas bergurau di perpustakaan tanpa kena marah pustakawan.

“Oi… tulis sisanya dong An, cape’ nih tangan gue” Rengek Audrey sambil menyerahkan buku referensi pada Anna

“Kok gue sih? Tadi kan gue udah! Eris dong, dia daritadi belum nulis kan?” Tolak Anna halus sambil mengembalikan buku referensi itu pada Audrey. Audrey merenggut sambil memanggil Eris, “Ris…”

“Nggak, gue lagi baca buku…” Tolak Eris frontal

“Huuu!!! Nggak setia kawan lo!” Sahut Audrey

“Itu kan tugas lo, kerjain sendiri dong… gue aja kerjain itu sendirian semalaman!” Lanjut Eris. “Ah! Tuh! Bener tuh Drey!!” Sahut Rere menambahkan. “Hh—iya deh…”

Eris kembali melanjutkan aktivitasnya membaca novel yang daritadi ia tekuni. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik membaca novel, tapi entah mengapa ia jadi setekun itu menghabiskan novel tua tebal yang ada di perpustakaan.

“…Ukh…”

Rintihan pelan Eris cukup menggambarkannya kali ini. Kepalanya menunduk sedikit, alisnya berkerut. Tangannya terus memegangi kepalanya yang pusing dan terasa berputar-putar. Kulitnya makin terlihat pucat. Rintihannya terus menerus keluar dari mulutnya hingga buku novel yang dibacanya jatuh dari genggaman tangannya.

“Ris?”

Ketiganya menghampiri Eris karena rintihannya makin terdengar.

“Akh… hh—“

“Eris?! Lo nggak apa-apa kan?!”

“………”

Eris terdiam, namun tubuhnya kembali berdiri tegak membelakangi Audrey, Rere dan Anna. Mereka bertiga menghentikan langkah masing-masing setelah Eris sudah tegap berdiri.

Perlahan Eris membalikkan badannya, ia menghampiri mereka bertiga yang sedang berdiri mematung. Ekpresi Eris terlihat datar, wajahnya pun terlihat pucat.

“Ris… lo nggak—angghkk…”

Eris mencekik leher Audrey dengan satu tangannya. Cekikkan itu tidak terlalu erat, ia mendorong Audrey kebelakang dengan mencekik lehernya. Teriakan Audrey terdengar memenuhi ruangan perpustakaan, matanya menggambarkan kesakitan ketika ia menatap mata datar Eris.

“Err—ERIS!! ARGHHH!!!” Jerit Audrey

“AUDREY!!!” Seru Anna sambil menghampiri Audrey, diikuti juga dengan Rere “ERIS!!! NGAPAIN SIH LO?”

Eris tidak menggubrisnya, ia terus mencekik Audrey dan mendorongnya.

DUAK!

Eris membenturkan kepala Audrey pada kaca jendela perpustakaan. Benturan itu cukup keras sehingga terlihat retakan kecil di jendela. Audrey sungguh sesakitan, darah mulai mengucur dari kepalanya. Sementara kedua tangan Audrey ditahan oleh satu tangan, yaitu tangan Eris.

“ERIS! BERHENTI!!!” Seru Anna sambil memegang tangan Eris, tapi Eris langsung melepas genggaman itu dengan mementalkan Anna hingga ia terbentur lemari perpustakaan. Anna langsung pingsan dan hilang kesadarannya, sementara Rere langsung tidak berkutik begitu melihat Anna, ia segera menyelamatkan Anna.

“RERE!!” Jeritan Audrey kembali terdengar memanggil Rere

Rere meninggalkan Anna dan berusaha menghentikan Eris dengan menarik tangan Eris agar ia menjauh dari Audrey. Tapi sia-sia, tenaga Eris sudah lebih kuat, sehingga nasib Rere hampir sama dengan Anna. Ia terpental hingga membentur meja perpustakaan.
Eris hanya tinggal menyelesaikan sisanya, yaitu Audrey.

PRANG!!

Jendela itu pecah selingkaran dari tangan Eris yang baru saja menghancurkannya. Audrey sangat kaget, ia tidak bisa berkata apa-apa begitu melihat tangan Eris yang meneteskan darah setelah memecahkan kaca jendela. Namun anehnya Eris tidak terlihat kesakitan sedikit pun.

Eris melepas dasi abu-abunya, ia mengikatkan tangan kiri Audrey pada teralis jendela tebuka karena kacanya sudah pecah.

PRANG!!

Kaca jendela itu pecah untuk kedua kalinya, namun disisi yang lain, yaitu di sebelah kanan Audrey. Eris melepas dasi milik Audrey dan mengikatkan tangan kanan Audrey pada teralis jendela besi itu. Sama halnya dengan tangan kiri Audrey.

“Ri…ish…” Rintih Audrey

.

.

.

“Yang merencanakan sesuatu…

“…Harus mati!”

Ucapan Eris dilanjutkan dengan tindakan yang tidak diduga Audrey sebelumnya. Ia kembali mencekik Audrey dengan kedua tangannya. Makin erat, erat, dan sangat erat cekikan itu dirasakan Audrey. Audrey mulai kehabisan nafas, bisa-bisa beberapa detik lagi ia akan mati.

PLAK!!

Suara tamparan yang keras itu dibuat oleh Rere. Ia menampar Eris dengan maksud untuk menyadarkannya, begitu satu tamparan sudah ia lakukan, ia menambahkan tamparan lagi di pipi satunya. Setelah itu Rere langsung terduduk lemas.

“Sadar sekarang Ris! Lo itu teman yang paling loyal buat kita! Tapi kenapa lo bunuh kita satu persatu?! ERIS?!!” Seru Rere

Cekikan itu makin melonggar, Audrey segera menghirup udara sebanyak mungkin. Hampir saja ia mati tercekik. Tapi Eris… dia masih terdiam tercengang memegangi pipinya yang memerah. Ia lalu menatap Audrey yang benar-benar duduk terlemas di depan matanya. Dia yakin dan makin yakin bahwa Audrey begitu karena perbuatannya.

Lalu ia menatapi matanya yang mengucurkan darah dan terasa nyeri. Ia terpekik sedikit seperti tidak percaya. Kemudian Eris menyebarkan pandangannya pada keadaan perpustakaan itu. Audrey, Rere, Anna… mereka terlihat tidak berdaya. Itu semua karena perbuatannya.

Perbuatanmu!

“ARRRGGGHHHH!!!”

Jeritan itu mengiringi kepergian Eris dari perpustakaan.

To Be Continued













_________________

from Zerochan #732729

First Chara - Reinette Sutcliff ### Second Chara - Minachi Sumire


Me? Just an annoying fangirl :P
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://reinettesutcliff.blogspot.com
Reinette Sutcliff

avatar

Jumlah posting : 1802
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : Fangirling Corner

Chara profile
Name: Reinette Sutcliff/Minachi Sumire
Status: Shinigami/Civillian
Race: Shinigami/Human

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] 1st Day of April   Fri Oct 15, 2010 8:55 pm

Seorang gadis berambut pendek seleher berlari kecil di koridor kelas. Satu gadis lainnya mengekori rambut pendek itu. Mereka Anna dan Rere, berlari dengan nada yang tergesa-gesa. Tujuan mereka satu, kelas Eris dan Audrey. Begitu mereka sampai, pintu kelas 12c menjadi tempat pemberhentian langkah mereka.

Anna mengintip dari pintu pertama, ia memandang jelas Eris yang sedang duduk terdiam dengan tatapan kosong. Begitu Anna puas melihatnya, ia memutar badannya dan menghadap Rere.

“Kayaknya dia masih belum sadar deh Re…” Ujar Anna sambil menunduk

“Kenapa?” Balas Rere dengan tanya

“Dia diem, ngelamun, tatapannya kosong…” Jawab Anna

“Ma—masa’ sih?!” Seru Rere tidak percaya, ia langsung menyerobot Anna yang masih berdiri memaku kaki di depan pintu. Rere segera memasuki kelas itu dan tentu saja, ia menghampiri Eris. Anna hanya bisa menelan ludahnya ketika matanya menatap Rere yang nekat. Apa boleh buat pikirnya, ia mengikuti Rere dari belakang.

“Ris!”

Eris menoleh pada arah sumber suara yang memanggilnya. Ia menulis satu persatu kata pada buku tulisnya sambil membalas panggilan Rere, “Ya… apa Re?”

Anna menarik kemeja Rere pada bagian pinggangnya, isyarat untuk membuat Rere turun tangan sekarang.

“Ris… lo udah baikkan kan? Nggak kenapa-kenapa?” Tanya Rere memulai pembicaraan

Eris menghentikan goresan bolpoinnya dan menaruh seluruh perhatiannya pada Rere “Eh… iya kok, nggak kenapa-kenapa…” Jawab Eris sambil menggaruk leher bagian belakangnya, lalu ia menatap kearah lain “Tapi maksud kalian tadi… soal kemarin kan?”

Rere mengangguk.

“Kalian boleh percaya atau nggak, kemarin itu gue sama sekali nggak ingat apa-apa saat gu—gue… nyerang kalian… yang terakhir gue ingat itu… saat gue baca bab baru di novel yang gue baca di perpustakaan…” Jelas Eris

Suasana hening, tidak ada yang merespon setelah Eris berkata demikian. Eris merasa perlu menambahkan rangkaian kalimatnya tadi “Sumpah, gue nggak pernah punya niat buat nge—ngebunuh kalian! Kalian pasti tahu juga kan?” Sambung Eris meyakinkan

Anna akhirnya mengeluarkan suara lembutnya “…Kita selalu percaya setiap lo bilang itu… selalu…” Eris hanya membalasnya dengan senyuman yang terlihat dipaksa

“Oh, iya… lo tau kan Ris, si Audrey absen kenapa?!” Tanya Rere langsung pada Eris

“Ah… nggak tuh, kenapa dia? Absen kok nggak ada suratnya?” Tanya Eris balik

“Dia sakit, katanya pagi-pagi buta dia tiba-tiba demam, terus dia telepon gue jam lima… itupun yang telepon bukan dia, tapi pembantunya…” Jawab Rere lengkap

“Kita jenguk yuk, pulang sekolah…” Ajak Anna sambil mengumbar senyum

“Ya udah… gue juga sedikit khawatir, gue pengen tahu keadaannya sekarang…” Balas Eris dengan aura serius

__..oOo..__
15.47 pm - Audrey's House

Suara decit kampas rem sepeda motor terdengar cukup jelas di depan rumah megah berdekorasi natural. Begitu motor pertama berhenti, dua motor lainnya baru muncul. Rere yang pertama sampai, ia segera merogoh kantung kemejanya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu.

“Nih bang, bagi tiga ya sama yang dua…” Kata Rere sambil menunjuk dua ojek motor yang baru datang

Si tukang ojek hanya mengangguk dan pergi meninggalkan tiga remaja putri itu. Tanpa basa-basi mereka memasuki gerbang rumah yang tidak terkunci.

“Kok kayaknya aura rumah Audrey agak beda ya? …ganti cat dia?” Tanya Rere sambil berjalan menuju pintu utama. “Nggak Re… dari jaman baheula warna catnya sama!” Sahut Anna mengekori Rere. “Ssstt!!” Desis Eris begitu mereka bertiga sudah berada di depan pintu.

Tok! Tok!

Hening. Tidak ada yang menjawab, lalu Anna menyambung ketukan pintu Rere

Tok! Tok! Tok! Tok!

“Audrey…” Panggil Anna pada pemilik rumah

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

“Drey!! Ini kita… bukain dong!!” Seru Rere mulai emosi. Eris masih terdiam, kemudian ia mencoba memutar kenop pintunya.

Terbuka.

“Nggak dikunci nih… masuk?” Tawar Eris pada kedua temannya. Lalu dua gadis itu meresponnya dengan anggukan yang serempak. Eris yang pertama melangkahkan kaki di lantai ruang tamunya, sedangkan Rere dan Anna mengikuti. “Kok… kosong banget rumahnya…” Ujar Anna

“Iya lah… memangnya lo nggak tahu orangtuanya sekarang keluar kota?!” Balas Rere “Dia… Cuma sama pembantunya disini?” Tanya Eris selagi mereka melewati ruang tamu. “Iya… mungkin pembantunya juga lagi pergi belanja mungkin…” Jawab Rere

Angin sejuk menerpa wajah mereka masing-masing. Angin itu berasal dari kolam renang dalam rumah Audrey. Dan angin itu sukses membuat mereka merinding. Anna yang daritadi jalan menempel pada punggung Eris makin terasa gemetaran.

“Drey…” Panggil Eris pelan sambil melangkahkan kakinya perlahan. “Sepi begini… masa’ sih ada orangnya?” Tanya Rere sambil menaikkan alisnya sebelah “…Pastilah, buktinya pintu depan nggak dikunci…” Jawab Eris masiyh memimpin langkah mereka

“Di kamar mungkin Ris… lagi tidur…” Ujar Anna yang masih merunduk di punggung Eris. “Ah… iya, kita cek disana…” Sahut Rere. Segeralah Eris mengambil langkahnya menuju lantai dua, disanalah letak kamar Audrey.

Begitu mereka menaiki tangga, mereka melangkahkan kaki sebentar ke sebelah kiri lantai dua. Dan tibalah mereka di depan pintu kamar Audrey.

“Tu—tunggu Ris! Gue ada firasat nggak enak kalau kita buka pintu itu…” Ujar Rere pelan sambil gemetar. “Gue juga!” Sahut Anna. Eris mengheningkan suasana sebentar lalu bertanya “Jadi bagaimana? Buka nggak?”

Rere mengangguk walaupun tersimpan rasa ragu dalam hatinya. Sementara Anna hanya komat-kamit membaca do’a-do’a penyelamat. Eris hanya mendengus kecil, lalu ia memutar balik tubuhnya. Perlahan ia memutar kenop pintu kamar Audrey.

Kosong.

“Nggak ada apa-apa kok…” Ujar Eris kepada dua temannya yang tengah merinding. Serempak Rere dan Anna menghela nafas lega. “Terus dia dimana dong?” Tanya Rere sambil membalikkan badannya dan melihat ruangan sekitar

“Mau cek satu-satu?” Tanya Anna memberi usul. “Oh, iya juga…” Ujar Eris sambil menempelkan jari-jarinya di dagu. “Kita cari di lantai dua dulu, Anna periksa di kamar mandi ujung, Rere periksa studio sama balkon, gue bakal periksa kamar tamu sana… ya?!” Jelas Eris membagikan tugas. Rere dan Anna mengangguk sedia.

Mulailah mereka menjalankan tugas mereka masing-masing. Memeriksa masing-masing ruangan yang sudah dibagi.

“AAAAAAAAARRGHHH!!!”

Suara jeritan itu terdengar dari kamar mandi ujung. Jeritan itu milik Anna, dia tersimpuh lemas di depan pintu dengan wajah yang horror. Begitu melihat keadaan itu, Eris dan Rere segera berbondong-bondong menghampiri Anna.

“Ada ap—“

“A—AUDREY!!!”

Ketiganya langsung terbelalak begitu melihat mayat Audrey. Badannya bermandikan darah, di sekujur tubuhnya terlihat jelas bekas robekkan kulit. Matanya masih terbuka dan menatap terbelalak. Kamar mandi yang bernuansa putih itu sekarang berwarna merah darah.

Sementara ketiga gadis itu menatap mayat Audrey dengan wajah tidak percaya. Tubuh mereka bergetar begitu juga dengan keringat yang tidak berhenti menetes. Bahkan tanpa sadar air mata mereka menetes, salah satu sahabat terbaik mereka sekarang sudah mati di depan mata mereka.

Mereka bertiga akhirnya berniat menghampiri mayat Audrey yang sudah kaku tersebut. Tapi begitu mereka mengambil langkah kedua, terdengar alunan lagu samar-samar di telinga mereka.

Dari kamar Audrey.

“I—itu… bukannya suara ringtone handphone-nya A—Audrey?!” Tanya Anna

“Iya… mungkin itu telepon dari orang tuanya!” Seru Eris sambil berbalik arah dan langsung diikuti oleh Rere dan Anna. Kamar yang sudah terbuka itu langsung disambar oleh mereka. Handphone yang terus berdering itu tergeletak di meja rias. Rere yang pertama mendapatkannya langsung menjawab telepon itu.

“Halo?”

Hening, tidak ada jawaban dari seberang sana.

“Ha—Halo? Siapa ini?!”

.

.

.

.

.

“April mop empat empat empat empat!!”

Suara surau di telepon itu langsung terdengar di telinga mereka.

“AAAAAAAARRRRRGHHHH!!!”

Rere dan Anna serempak menjerit begitu melihat mayat Eris pada pantulan cermin. Tubuh itu sudah berlumur darah dengan seribu pecahan kaca yang menusuk seluruh tubuhnya. Tubuh mereka bergetar, tangan Rere sudah tidak kuat lagi untuk menggenggam handhone. Handhone itu jatuh seketika dalam hitungan detik.

“!!”

Seseorang menarik kerah mereka dari belakang.

.

.

.

.

.

Itu Eris.

“AAAAAARRRRRGHHHHHH!!!”

-The End-

__..oOo..__

~Omake~

17.17 pm – Audrey’s House

Beberapa mobil polisi dan dua mobil ambulan bertengger di jalanan depan rumah Audrey. Polisi menyebar di segala sudut-sudut rumahnya. Suasana begitu kontras keadaannya bila dibandingkan dengan suasana pada beberapa jam lalu. Rumah Audrey terlihat ramai dan menarik banyak perhatian orang-orang di sekitarnya.

Salah satunya yaitu seorang wanita yang memakai busana terusan warna putih kusam tampak sedang berjalan memasuki rumah itu. Payung yang ia pakai warnanya pun senada dengan busana yang sedang dipakainya itu. Siapa dia?

Dia Maria.

“Berhenti! Anda tidak boleh memasuki rumah ini!!” Seru salah seorang polisi yang sedang memeriksa disitu.

Maria menyimpul senyumnya kemudian berkata “Perkenalkan… nama saya Maria… tenang saja, saya bersedia menjadi saksi atas kejadian ini, percayalah pada saya…”

Kalimat yang dikemukakan secara santai itu langsung direspon oleh sang polisi “Baiklah… sini, saya catat data diri anda…”

Maria tersenyum.

“Sebelum itu, bolehkah saya melihat kedalam?” Tanya Maria

Sambil mengangkat sebelah alisnya, polisi itu menjawab “Ah… baiklah, saya persilakan…”

“Terima kasih...” Balas Maria sambil menyalami si polisi “Senang bekerja sama dengan anda…” Lanjut Maria setelah itu melepas tangannya. Kemudian ia memasuki pintu rumah itu tanpa berbasa-basi lagi dengan si polisi.

Suasana di dalam rumah pun serupa dengan suasana di luar rumah. Para polisi berhamburan di berbagai ruangan untuk menyelidiki bukti-bukti kejadian. Para wartawan juga tidak kalah banyaknya dengan polisi. Adapun 2-3 detektif yang ikut memecahkan misteri dari kejadian itu.

Baru saja Maria ingin melangkah pada lantai di zona ruang tamu. Sekelompok tim petugas ambulan membawa tandu ingin berjalan keluar. Segeralah Maria memberikan jalan pada petugas ambulan tersebut. Ketika tandu yang dibawa petugas itu melewatinya, Maria bisa melihat sedikit siapa orang yang ada di tandu itu. Itu mayat Audrey.

Maria kembali berjalan sambil tersenyum setelah melihat mayat Audrey. Kini ia ingin tahu apa yang dikerubuti oleh wartawan di lantai dua sana. Setelah menaiki tangga, Maria melangkahkan kakinya menuju arah balkon. Tanpa pikir panjang, ia ikut memasuki kerubungan manusia tersebut. Dan sedikit demi sedikit ia bisa melihat jelas apa yang terjadi disana.

Dua mayat gadis yang tersangkut di pagar.

Maria terkikik kecil sambil berbalik.

.

.

.

“Ah… Liana… sepertinya kita akan punya rumah yang baru… hihi…”
__..oOo..__

Kami berdua selaku author, Diesty dan Purpie…
Ingin mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang mendukung berjalannya fic ini, pembaca… silent reader ataupun yang mereview…
Kami selalu mengutamakan para pembaca sekalian!
Sekali lagi, terima kasih.

Regards,


~PurpCat-RedPuppy

_________________

from Zerochan #732729

First Chara - Reinette Sutcliff ### Second Chara - Minachi Sumire


Me? Just an annoying fangirl :P
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://reinettesutcliff.blogspot.com
Sponsored content




PostSubyek: Re: [GX Fantasy] 1st Day of April   

Kembali Ke Atas Go down
 
[GX Fantasy] 1st Day of April
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Kuroshitsuji Indonesian Roleplay Forum :: Library :: Your Story-
Navigasi: