Kuroshitsuji Indonesian Roleplay Forum
Welcome to our forum, Kuroshitsuji Indonesian Roleplay Forum.
Please sign in, don't have an account? You can sign up now!

Kuroshitsuji Indonesian Roleplay Forum

An Indonesian Kuroshitsuji roleplay forum, join our base!
 
PortalIndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
New storyline for roleplay! Check Roleplay section for complete information~
Bagi member lama yang sudah membuat chara, mohon disesuaikan dengan peraturan, dan storyline yang baru~
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Forum
Latest topics
» Keaktifan forum
Mon May 28, 2018 12:09 pm by

» perkenalan
Mon Jul 06, 2015 12:22 pm by

» Perkenalan
Thu Jun 25, 2015 8:10 pm by

» Jung Nanami | Human(Half Vampire) | Civilian
Sun Jun 01, 2014 10:12 pm by

» Azzura Dolores | Allence Family
Fri May 30, 2014 11:41 pm by

» mau tanya soal Civilian
Fri May 30, 2014 10:16 pm by

» Perkenalan
Fri May 30, 2014 6:28 pm by

» Poker Online, Poker Facebook, Judi Online, Nagapoker
Mon Apr 28, 2014 1:28 pm by

» Azusama Joe / Human / Chronne Family Member
Thu Apr 03, 2014 11:17 pm by

Affiliates
free forum
affhayori
affda

Photobucket

Photobucket
affliates
affliates
Top posters
Aria Chronne
 
Reinette Sutcliff
 
Nonohana Kizure
 
Ellie Xiorna
 
Sueth Yuelight
 
Wakabayashi Genzo
 
Clearesta Allence
 
Persona
 
Alaude Von Novizio
 
Licla
 
Poll
Statistics
Total 120 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah ArabelleCharleights

Total 9513 kiriman artikel dari user in 196 subjects

Share | 
 

 [GX Fantasy] Judgement

Go down 
PengirimMessage
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: [GX Fantasy] Judgement   Tue Apr 20, 2010 11:19 pm

Saya sudah punya ide buat cerita ini sejak tahun lalu (kira-kira). Tapi, saya nggak berani nuangin ide ini ke atas kertas, sampai akhirnya kesempatan menulis summarynya di atas kertas (dan dibaca orang) datang.

Ide ini datang berkat ayah saya, yang sudah memberi saya bahan untuk jadi inspirasi. Walaupun harapannya pasti jauh banget dari ini, apa mau dikata, otak saya ngembanginnya jadi kayak gini....

Dan sekarang, saya mau coba nulis ceritanya dan memajangnya disini. Tolong doakan cerita saya nggak menyebabkan efek negatif pada orang-orang.

Dis--ah, maksud saya claimer:
Cerita ini beserta detail terkecil isinya adalah milik saya seorang. Dan cerita ini adalah fiksi. Kesamaan apapun (selain nama negara dan beberapa tempat lain) adalah murni buatan saya. Kalau ada kesamaan dengan dunia nyata, itu adalah sebuah kebetulan murni

Inilah dia, saya persembahkan….
Judgement
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Judgement chapter 1   Tue Apr 20, 2010 11:20 pm

“Kode merah! Kode merah! Ada penghuni sel yang kabur”

“Haaah…. Haaaah”

“Jangan kabur, pengkhianat!!”

Pengkhianat? Kata itu terus berputar-putar dalam benakku, bahkan di saat seperti ini. Aku harus kabur dari sini! Aku tidak bersalah! Dan Anne…

“Tangkap di—“

Kalimat penjaga tadi kuputus bersamaan dengan putusnya lehernya dari kepalanya. Kenapa aku harus ditangkap? Karena keputusan yang didasari fitnah? Yang seperti itu kalian sebut “pengadilan”? Benar-benar penggunaan bahasa yang lucu… Saking lucunya, aku kembali teringat pada kejadian di ‘pengadilan’ itu… dan saat-saat sebelum aku melarikan diri…..
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Rhieve Zalther… kami sudah memutuskan hukuman untukmu”

“Jangan bodoh! Aku tidak melakukan apa-apa!”

“Kau masih mau mengelak dengan bukti-bukti yang sangat jelas seperti ini?! Jangan bercanda, pengkhianat!”

“Aku bukan pengkhianat!! Ini pasti fitnah!! Aku tidak membocorkan informasi apapun! Aku juga tidak….”

“Tidak membunuh rekan-rekanmu?”
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
“TIDAK!”

Aku menyadari diriku baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk. Mimpi yang merupakan replay dari kenyataan. Napasku tidak beraturan. Keringat dingin mengucur deras dari wajahku. Aku memeluk diriku sendiri dengan gemetar.

“Ukh—Kena…pa…?”

“Apa salahku hingga harus menanggung penderitaan ini?”

“….Menyesakkan…”

“Menyakitkan!”

Aku terus bergumam. Kupikir, setidaknya itu dapat meringankan bebanku. Aku memandang terali besi di hadapanku, lalu menerawangnya. Aku bisa melihat orang-orang berbaju motif strip hitam dan putih. Ada penjaga di setiap batas sel mereka. Benar, aku ada di dalam penjara….

“Sial! Kenapa aku harus menunggu kematianku di tempat seperti ini?! Aku tidak bersalah” Jeritku dalam hati. Aku tak akan menyerukan kalimat tadi di depan orang-banyak. Percuma saja. Dengar pun, mereka tidak akan percaya. Pasti hanya akan dianggap bualan bodoh dari mulut seorang penjahat.

Seorang pengkhianat

Seorang pendosa

“Tapi… aku tidak melakukan apapun!! Bukan aku yang melakukannya!!” jeritku lagi dalam hati. Fitnah memang lebih kejam daripada pembunuhan. Terutama untuk seorang anggota CIA sepertiku.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada malam itu, di dalam markas musuh, aku melihat mayat rekan-rekanku bertebaran di sepanjang lorong. Bagian tubuh mereka tersebar di sepanjang lorong. Dan saat aku masih dalam kekagetan dan ketakutan yang dalam, tiba-tiba saja para polisi dan agen-agen lainnya datang. Sedetik saat melihat mereka, kukira mereka akan mejelaskan apa yang akan terjadi.

Perkiraanku tidak terlalu meleset, tapi tidak kuharapkan. Mereka segera memborgolku dan mengunci gerakanku dengan mendorongku sampai menabrak tembok. Salah satu dari “rekanku” mengambil kendali dan beberapa kali membenturkan kepalaku ke dinding sambil berkata, “Pengkhianat!!”, “Bajingan sepertimu tak usah hidup di ‘dunia ini’!!”, “Apa saja yang kau bocorkan?!”, dan masih banyak lagi. Kepalaku terlalu sakit untuk mengingat semuanya.

Dan saat sadar, aku sudah berada di ruang interogasi. Kepalaku yang berdarah dibiarkan hingga bau darah yang mengering bisa tercium olehku dan orang-orang yang ada di sana. Mereka mulai menginterogasiku yang masih setengah sadar.

“Rhieve Zalther, informasi apa yang kau bocorkan pada musuh?”

‘Deg!’

Kalimat barusan…. Kalimat yang ampuh untuk membuatku terbangun sepenuhnya. Aku tidak mengerti apa yang mereka maksud. Aku membocorkan informasi ke musuh?

“Dan berapa rekan kita yang sudah kau bunuh?”

“APA?!” aku berteriak tidak percaya. Aku membunuh rekan-rekanku? Konyol! Aku tidak pernah melakukannya dan tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!!

“Aku tidak melakukan apapun!! Saat aku melihat mereka, mereka sudah…” bantahanku dipotong oleh si pemegang kendali di markas musuh yang membuat luka di kepalaku ini,

“Sudah apa?! Jangan banyak alasan, pengkhianat!!”
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku mengepalkan tanganku dengan kuat, gigiku bergemertak. Aku melihat sosokku dalam bayangan cermin di dalam sel. Aku melihat sesosok laki-laki berumur 18 tahun berambut hitam acak-acakan, bermata hitam, berpakaian strip hitam-putih, dan ekspresi seseorang yang sedang menunggu ajalnya. Ekspresi seseorang yang akan mendapat hukuman mati dalam 2 hari lagi.

“Sebentar lagi…. Sebentar lagi aku akan mati….”

“Aku tidak mau…. Tapi, apa yang bisa kulakukan?”

“Lalu, apa yang akan terjadi setelah aku mati?”

*Gasp!*

Aku langsung teringat pada sesosok gadis kecil berambut hitam panjang. Rambutnya yang agak bergelombang berpadu harmonis dengan senyumannya yang selalu bisa menenangkanku. Senyumannya yang polos dan manis, untuk dirinyalah aku terus berjalan pada jalurku sebagai CIA

“Anne!!” pekikku pelan. Para penjaga agaknya sudah terbiasa dengan tingkahnya, walaupun aku baru menetap disini selama kurang lebih 5 hari. Aku sekarang benar-benar mencemaskan adikku. Entah apa yang akan mereka lakukan pada Anne jika aku tidak kembali

“Aku… Aku harus pergi dari sini dan kembali ke rumah, lalu membawa Anne pergi dari sini. Negara ini sudah tidak aman lagi” benakku. Tapi, tidak akan semudah itu. Karena itu, aku akan menggunakan ilmuku selama menjadi CIA.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kode merah! Kode merah!”

“Tangkap dia!!”

“Grh--!!”
Aku terus membunuh orang-orang yang menghalangiku. Aku terus berlari hingga akhirnya sampai di pintu gerbang. Ada seorang penjaga disana yang mencoba menghentikanku. Aku pun menggunakannya. Aku menarik kerahnya, lalu memukulkan kepalanya ke gerbang tersebut sehingga pintu gerbang sedikit terbuka. Maklum, penjara ini adalah penjara terpencil yang sudah tua. Aku segera melempar penjaga yang sepertinya kepalanya sudah hamper hancur tersebut lalu kabur melewati celah kecil yang berhasil kubuat

“Anne, tunggu aku! Kakak akan segera menemuimu!!”
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dari penjara itu ke sini, ditambah mengecoh orang-orang yang mengejarku, aku sampai di desaku.Aku segera berlari menuju pintu rumahku lalu mendobraknya.

“Anne!!”

*gasp*

Aku terperanjat. Aku kaget. Aku tak bisa berkata-kata begitu melihat kenyataan di depan mataku

“A…a….”

Aku berjalan mendekatinya, adikku tersayang

“An…ne….?”

Sekarang aku sudah berada tepat di depannya. Atau mungkin lebih tepat kalau kusebut….

Mayatnya

Aku gemetar. Aku bisa merasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. Aku terduduk diatas genangan darah, genangan darahnya, dan memperhatikan tubuh Anne yang sudah tak bernyawa dan tertusuk pisau di bagian jantung.

Tak ada senyuman dari wajahnya

Yang ada hanya warna merah darah yang sudah menyelimuti rambut hitamnya yang indah

“Uh…UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

Saat ini, sekarang juga, aku sedang menangisi keadaan adikku, Anne yang …..

Sudah tidak bernyawa dengan mengenaskan

Dan, untuk membuatnya lebih buruk, saat aku sedang menangis, tiba-tiba….

“Aku mendengar suara dari sini!!”

“Itu pasti dia!! Tangkap!!”

“Gawat! Mereka sudah datang!!” pikirku. Aku mengambil posisi untuk berlari, tapi aku tidak segera melangkahkan kakiku.

Apa aku harus berlari dan menyelamatkan nyawaku?

Atau tetap disini, dan berharap mereka membunuhku disamping Anne?

Bodoh, sudah pasti aku harus berlari! Anne tidak akan mau melihatku mati karena menyerah di tengah jalan!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah keluar dari kamarku, Aku pun segera keluar lewat pintu belakang dan terus berlari tanpa arah. Aku terus berlari dan berlari, hingga akhirnya aku terpojok di sebuah pelabuhan. Aku bisa mendengar suara para pengejar walaupun samar. Mereka masih mengejarku. Apa yang harus kulakukan?

Pikir….

Pikir!

PIKIR!!

..!!

Apa tadi barusan?! Bunyi kapal yang akan berlayar?! Bagus!!

Aku pun segera berlari ke tempat kapal tersebut. Jaraknya cukup jauh, tapi aku berhasil sampai sebelum kapal itu terlalu jauh. Aku segera mengambil jangkar yang ada di sampingku lalu melemparnya hingga terkait di kapal. Aku pun melompat dari tempatku semula ke laut, lalu memanjat tali tersebut hingga aku berhasil sampai dengan selamat.

“Fuuh… untung aku bawa baju ganti di dalam tas waterproof” pikirku. Aku pun segera ke toilet terdekat untuk mengganti bajuku dan berbaur dengan orang sekitar. Sepertinya aku bisa aman untuk sementara.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Prediksiku tepat. Aku sudah bertahan selama seminggu di kapal ini dengan berbagai cara. Aku tidak tahu kemana kapal ini pergi, tapi lajunya sangat cepat. “Sepertinya kapal ini tidak mengarah ke suatu tempat di Amerika. Apa kapal ini menuju ke Negara lain?” pikirku sambil menikmati angin yang berhembus lembut. Sayang, angin itu tak bertahan lama

Itu…. Pesawat dan helikopter pemerintah?!?!

Me…mereka sudah mengejar, rupanya! Sial!!

Aku sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi. Mereka mendaratkan sepasukan tentara dengan sniper bertengger di pintu helikopter. Aku sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku segera berlari membelakangi mereka. Mereka mengejarku dan berusaha menyerangku. Aku menghindari serangan mereka mati-matian. Tapi, saat aku melompat, aku melihat seorang sniper terjun kearahku. Aku dapat mendengarnya dengan cukup jelas.

!!

“Go to hell in chaos… with a headshot!!”

‘DOR!’

Sial! Tembakannya memang hanya menyerempetku, tapi aku kehilangan keseimbangan di udara sehingga aku terjatuh ke lautan. Mereka menembakiku beberapa kali lagi untuk memastikan aku mati, pasti. Aku dapat melihat gerakan mereka dari dalam air, lalu….

Tebakanku tepat


Terakhir diubah oleh Alteria tanggal Thu Sep 09, 2010 11:27 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Reinette Sutcliff

avatar

Jumlah posting : 1802
Join date : 22.03.10
Age : 22
Lokasi : Fangirling Corner

Chara profile
Name: Reinette Sutcliff/Minachi Sumire
Status: Shinigami/Civillian
Race: Shinigami/Human

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Wed Apr 21, 2010 8:31 am

waaaaaaaa.... kereeen~~~ XDDD

Ceritanya ngena banget... waaa coba ada di ffn... saya langsung fave~

ngg... ya udah deh... review-nya kesitu ya?!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://reinettesutcliff.blogspot.com
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Wed Apr 21, 2010 8:46 am

Ini kan tempat khusus cerita.... review topiknya beda
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sun May 02, 2010 1:33 am

Sepertinya aku terdampar di sebuah pantai. Aku tidak tahu dimana tepatnya aku berada. Aku tidak sepenuhnya sadar. Tapi, aku bisa merasakan pasir di sekujur tubuhku. Dan aku juga bisa merasakan deburan ombak di bagian kakiku. Tapi, penglihatanku kabur.

”Siapa disana?”

Rasanya aku mendengar suara seseorang walau samar. Apa aku akan ditangkap lagi? Aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Seketika itu juga, pandanganku makin kabur hingga semuanya gelap. Mungkin... aku pingsan.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
”Apa airnya ada?”

”Sebentar!”

”Ah, sepertinya dia mulai sadar!”

“Mana?! Mana?! Aku juga mau lihat!!”

Suara manusia? Dan lagi, bahasa ini.....

”Mana airnya?”

”Waa!! Lupa!!”

Indonesia. Dari bahasa dan dialeknya, mereka pasti orang Indonesia. Tapi, ini artinya, aku sudah mengelilingi setengah dunia. Apa mereka warga Indonesia yang sedang berada di negara lain?

”Ini airnya!”

Kesadaranku mulai pulih. Aku mulai bisa melihat keadaan sekelilingku. Ada seorang wanita separuh baya berjilbab dan seorang gadis kecil yang rambutnya dikuncir. Mereka memakai baju yang tergolong cukup lusuh. Aku mengalihkan fokus pandanganku ke langit-langit ruangan. Aku melihat keadaan rumah ini sangat tidak layak. Apa ini rumah mereka?

”Waah... dia udah buka mata!”

”Ah, benar juga”

Mereka tampaknya berharap aku segera bangkit dari tempatku berbaring. Apapun itu, yang pasti ini bukan spring bed. Ini terlalu keras untuk ukuran sping bed terburuk sekalipun. Aku pun mencoba bangun dari posisiku semula. Cukup sulit, tapi, setidaknya aku berhasil duduk

”Dimana ini?” tanyaku dengan ¾ sadar. Tapi, mataku bisa melihat mereka dengan jelas. Mereka terlihat senang

”Ah, ini di rumahku” jawab wanita paruh baya tersebut

Aku mengamati mereka berdua selama beberapa detik lalu bertanya, ”Siapa kalian? Apa kalian yang menolongku?”. Aku harus memastikan mereka berdua tidak tahu identitasku. Sekalipun ini di negara lain, berita besar dari Amerika pasti bisa masuk. Bisa jadi, dua orang ini adalah warga yang akan menyerahkanku pada para pemerintah disana

”Aku menemukanmu di tepi pantai dalam keadaan sekarat” jawab wanita paruh baya tersebut.

”Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan untuk menolongmu” katanya lagi sambil tersenyum. Bukan senyum yang penuh keceriaan, melainkan sebuah faint smile.

”Tidak. Bagi saya, pertolongan anda sudah sangat berharga. Saya bahkan tidak menyangka akan ada yang akan menolong saya. Apa yang anda lakukan sudah sangat lebih dari cukup” kataku dengan sopan. Untung saja ibuku orang Indonesia, sehingga aku bisa berbicara dengan fasih. Tapi, mereka pasti bisa merasakan perbedaannya.

”Ini. Silakan diminum” tawar gadis kecil tadi sambil menyodorkanku sebuah cairan bening.

.......ini.......

Hal bodoh apa yang kupikirkan? Ini sudah pasti air. Dan aku yakin 95% ini tidak beracun. Akupun segera mengambil segelas air tersebut lalu menenggaknya

”Terima kasih” kataku sambil mengembalikan gelasnya. Air yang kualitasnya tidak cukup baik. Tapi, masih jauh lebih baik daripada air laut. Rasanya, aku mulai kembali hidup

”Kata ibu, kakak terdampar di pantai. Memangnya ada apa? Kok bisa sampai terdampar begitu?” tanya gadis itu. Aku agak terhenyak. Apa aku boleh mempercayai mereka? Tidak ada jaminan bahwa mereka 100% tidak akan mengantarku kembali ke sel.

Lagipula..... itu bukan hal yang ingin kubicarakan.

Sepertinya, lebih baik aku diam dulu

”Kenapa? Kok diem?” tanya gadis itu lagi

”Rina, kalau dia nggak mau cerita nggak usah dipaksa. Yang penting, sekarang dia kita rawat dulu” kata wanita paruh baya tadi.

”Ah, iya, bu!” jawab anak itu. Sepertinya, mereka ibu dan anak

”Kalau begitu, ambilin makanan buat dia. Dia pasti laper” kata wanita paruh baya tersebut

”Baik~” anak yang sepertinya bernama Rina itu pergi dari ruangan ini. Sepertinya, dia akan melaksanakan apa yang tadi disuruh oleh ibunya

”Tolong tunggu makanannya sebentar” kata wanita paruh baya tersebut sambil tersenyum kearahku.

”Baik” jawabku sambil mengangguk.Sepertinya mereka bisa dipercaya. Kalaupun tidak, aku akan memanfaatkan keadaan ini dulu.

”Anu... boleh saya tahu sekarang tanggal berapa?” tanyaku

”Eh? Sekarang tanggal 14 April. Ada apa?”

”Tidak, saya hanya ingin tahu sudah berapa lama saya pingsan” jawabku

Ternyata, tanpa kusadari, peristiwa itu sudah berlalu selama kurang lebih 3 bulan. Berarti aku terombang-ambing di lautan selama itu?! Tapi, aku sempat terdampar di sebuah pulau yang sepertinya tak berpenghuni dan saat aku mencoba pergi dari sana dengan rakit, ada beberapa badai. Mungkin badai itu yang mengakselerasi.

”Ngomong-ngomong, namamu siapa?” tanya wanita itu

Aku terdiam.

Aku tidak mungkin membocorkan namaku begitu saja.

Ada kemungkinan fotoku tidak sampai ke sini. Tapi, mungkin saja mereka tahu namaku. Aku tidak boleh mengatakannya! Lagipula, kalau ini benar di negara lain, aku akan dianggap pendatang ilegal dan akan dipenjara juga. Tapi, para polisi pasti diberitahu wajahku! Ada kemungkinan mereka akan menyerahkanku pada pihak kepolisian Amerika.

”Kamu juga nggak mau ngasih tahu namamu?” tanya wanita itu lagi, dan berhasil mengembalikan fokusku ke dunia nyata

”Atau kamu.... nggak punya nama?” dia bertanya lagi. Petanyaan yang cukup blunt, menurutku.

“Maaf…” Cuma itu yang bisa kukatakan. Kalau aku berkata lebih jauh lagi, mungkin akan memperburuk keadaan

Aku akan menyerahkan penafsirannya pada otaknya. Semoga keberuntungan berada di pihakku....

”Hmm.... susah juga, ya.... gimana kalau kamu ambil nama baru aja?” sarannya.

Bagus. Keberuntungan di pihakku.

”Namanya mau apa?” tanya Rina, yang tiba-tiba masuk ke ruangan ini sambil membawa makanan

”Yaah.... gimana kalau kita coba pikir sementara dia makan?” saran wanita paruh baya tersebut sambil meletakkan sebuah piring berisi nasi dan... lauk yang sepertinya pernah kulihat.

Kalau tidak salah, namanya tempe. Dan yang satu lagi, sepertinya rendang.

Ah, makanan yang diklaim berasal dari Malaysia itu, ya. Rasanya ibu pernah memasakkan ini untuk makan malam. Dan katanya, ini adalah masakan asli dari Padang, sebuah kota di Pulau Sumatra di Indonesia. Tapi, karena tidak diklaim, akhirnya Malaysia mencurinya, seperti Malaysia mencuri kebudayaan Indonesia yang lain.

Kira-kira, begitulah yang kudengar.

Aku menyadari mereka tidak memberiku sendok. Untungnya, ibuku sudah pernah mengatakan sesuatu tentang ini, jadi aku tidak merasa aneh. Aku mengambil sepotong rendang dan sedikit nasi, mengepalnya dengan jari-jariku, lalu memakannya

”Bagaimana?” tanya gadis itu

”Ini enak sekali!” jawabku setelah terlebih dahulu menelan makananku. Entah karena aku kelaparan, porsinya sedikit, atau karena memang enak, aku bisa menghabiskannya dengan cepat

”Nah, sekarang kan udah makan. Gimana? Udah baikan?”

Aku mengangguk

”Kalau begitu, kakak mau cerita?” tanya gadis itu

”Rina, kalau dia nggak mau nggak usah dipaksa....” kata sang ibu berusaha menekan rasa ingin tahu anaknya

”Saya.....” aku mulai angkat bicara.

Apa yang kulakukan? Aku kan tidak mungkin memberitahu mereka kalau aku buronan dari Amerika! Tapi, kalau Cuma sebagian terakhir mungkin bisa....

”Ngomong-ngomong, kakak kok ngomong Indonesianya agak aneh? Kakak orang luar negri?”

!!

Gawat! Dia udah curiga aku orang luar! Kalau begini, aku bisa diseret ke polisi! Kalau sudah begini...

”Benar. Saya berasal dari Inggris. Saya sebenarnya sedang menuju ke India dengan kapal karena suatu urusan. Tapi, di tengah jalan, ada badai besar. Kapal yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi didorong badai sampai menabrak karang besar. Bnyak penumpang yang segera melompat keluar dengan pelampung. Hanya saja, saya dihempaskan badai sampai jatuh ke laut beberapa puluh meter dari kapal. Dan saat saya sadar, saya sudah berada di sini” certaku panjang lebar

Wanita tersebut neanyakan sesuatu, suatu hal yang tak ingin kudengar

”Keluargamu?”

Kali ini, aku tidak bisa menjawab.

Bukan karena kehabisan kata-kata untuk berbohong

Tapi, karena aku tidak mau membicarakannya lagi

Aku tidak mau mengingatnya lagi!!

”Kak?” gadis itu menyadarkanku dari lamunanku

”Kalau kamu juga nggak mau cerita, nggak apa-apa” kata wanita itu lagi

”Lalu, apa kamu punya sanak saudara di Indonesia?”

”Tidak”

Ibuku memang berkebangsaan Indonesia, tapi, sejak menikah, dia tidak pernah meninggalkan Amerika. Mungkin hubungannya dengan keluarganya di sini kurang baik. Yang pasti, ini sama saja artinya dengan ”tidak memiliki sanak saudara di Indonesia”

”Kalau begitu, silakan tinggal dengan kami, kalau kamu mau!” tawar wanita paruh baya itu dengan gembira

”Eh? Saya tidak keberatan, tapi....”

”Waaah!! Aku bakal punya kakak!!” gadis itu ikut menimpali dengan gembira

”Kalau begitu, ayo kita temui pak RT buat ngurus surat-suratnya!” kata si ibu semangat

”Eh?! Tapi--!!”

Kenapa jadi begini?! Yah, aku senang, sih, ada yang mau menampungku.... tapi, aku sudah cukup merepotkan!! Aku nggak pantas diperlakukan sepeti ini! Lagipula, kita kan baru kenal, kenapa mereka bisa langsung mempercayaiku dan menerimaku?!

”Oh iya, namanya!!” gadis itu mengingatkan ibunya

Glek!!

”Ah, benar juga! Namanya bagusnya siapa, ya?” si ibu mulai berpikir

Gimana ini? Kalau aku ketemu sama ketua RT, bisa-bisa aku dikirim balik!

”Gimana kalau ’Rafi’? ” usul si anak

”Boleh, tuh! Nama belakangnya?”

”Hmm.... apa, ya?”

”Ah! Gimana kalau namanya ’Rafi Aditya Putra’? kamu mau?” si ibu menoleh ke arahku

”Eh?? Saya sih..... apapun boleh.....” jawabku

”Kalau begitu, gimana kalau kamu kuangkat anak?”

”EH?!”

Pertanyaan wanita paruh baya itu benar-benar membuatku kaget. Aku sama sekali tidak menyangka....

”Kakak nggak mau?” tanya si gadis dengan mata memohon

”Sa--- saya sih..... tidak masalah....” aku nggak bisa menolak permintaan dua penolongku ini!

”Kalau begitu, Kak Rafi, perkenalkan! Namaku Nurina Arifia! Panggil saja aku Rina!” anak itu memperkenalkan diri dengan semangat

”Lalu, anda...”

”Nama ibu Zubaedah. Mungkin ibu nggak bisa jadi ibu sesuai harapanmu, tapi ibu akan berusaha!”

Mereka pun pergi menuju rumah Ketua RT. Aku mengikuti mereka. Perlahan, aku melangkah menuju lembaran baru dalam hidupku. Bersama mereka....keluarga dari ”Rafi Aditya Putra”.

Tanpa sadar, aku tersenyum. Kelihatannya mereka orang-orang yang baik. Aku juga tidak bisa kembali. Kembali pun, hanya ada Anne....

Aku menggenggam lenganku dengan kuat

Anne.... Maaf..... kakak bahkan tidak bisa menguburkanmu....

Aku benar-benar kakak yang tidak berguna!

Manusia yang tidak berguna!!

Karena itu, Anne, kakak akan berusaha memperbaiki diri disini

Kakak tidak akan mengecewakanmu lagi

........walaupun semuanya sudah terlambat untukmu.....

Kalau begitu, kalau aku tidak bisa memperlihatkannya padamu....

Akan kuperlihatkan seorang ”Rafi Aditya Putra” pada dunia!!


Terakhir diubah oleh Alteria tanggal Thu Sep 09, 2010 11:47 pm, total 3 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Jun 05, 2010 8:12 pm

Setahun kemudian

Tidak terasa, sudah setahun aku tinggal disini bersama keluarga baruku. Aku pun mulai terbiasa dengan keadaan Kota Jakarta.

Selama berada disini selama setahun, aku dapat terbiasa melihat beberapa hal yang ’tidak biasa’ seperti...

Polusinya Hebat. Ketebalannya berhasil membuat bintang tidak terlihat di langit malam Kota Jakarta

Pengamen --sebutan di Indonesia untuk penyanyi jalanan yang menyanyi demi uang—berkeliaran dimana pun dan kapan pun. Mulai dari Ruko –sebutan di Indonesia untuk bangunan berupa toko dengan rumah diatasnya—sampai trotoar....bahkan di tengah jalan yang penuh mobil melaju. Benar-benar anak-anak yang berani.....

Para orang tua pun begitu. Duduk di pinggir trotoar sambil mengangkat mangkuk kecil sebagai tempat para penyumbang meletakkan sumbangannya

Dari para pengemis tersebut, tidak sedikit yang cacat. Mulai dari tangan buntung, kaki buntung, buta, bahkan semuanya. Walaupun ada juga yang menipu dengan berpura-pura cacat. Contohnya, pada bulan keenamku disini, aku melihat seorang anak berkaki buntung selesai mengemis duduk di bangku sebuah warung. Kulihat dia melakukan sesuatu dengan kakinya. Dia memasukkan tangannya kedalam lubang celananya, menggerak-gerakkan tangannya, lalu...voila! Sebuah kaki manusia yang tersambung dengan badannya keluar. Dan di pergelangan kakinya, aku melihat bekas ikatan yang cukup jelas.

Kemacetan menjadi hal yang sangat lumrah disini. Kemacetan di satu tempat bisa berlangsung berjam-jam. Aku yakin, pasti inilah sumber utama polusi di Jakarta.

Di sini, ada banyak sekali penjual jalanan yang menjajakan dagangannya di jalan raya. Tidak hanya di trotoar, tapi juga di tengah jalan. Yang mereka jajakan beragam. Ada yang menjajakan koran, makanan kecil, minuman, rokok, bahkan pajangan dan mainan. Ada pula yang modus operasinya berupa layanan seperti membersihkan kaca mobil.

Lalu, satu kejadian yang sempat membuatku terbelalak. Ada seorang supir bus yang ngebut lalu dihampiri polisi. Polisi mengecek SIM-nya lalu mencatat sesuatu di memonya. Aku berpikir, ”Bus itu pasti ditilang. Salah sendiri ngebut”. Dan ternyata, si supir bus menyembulkan kepalanya keluar lewat kaca mobil lalu menyodorkan kertas berwarna –sepertinya uang—pada poisi. Mereka terlihat berbicara sebentar. Lalu, si polisi pergi tana memberi surat tilang. Padahal, baru saja aku berpikir si supir bus memberi uang denda!

Aku juga pernah melihat kereta melintas disini dan terkaget-kaget. Bagaimana tidak, ada banyak penumpang yang menaiki kereta di atapnya. Benar-benar bahaya!! Penumpang yang berada di atap pun tidak sedikit. Bahkan, pada suatu hari, aku pernah melihat seseorang jatuh dari atap kereta. Tapi, aku tidak mendatangi TKP karena jarakku cukup jauh. Jadi, aku tidak tahu nasibnya seperti apa

Sepertinya, atap kendaraan sebagai kursi tambahan sudah bagaikan tradisi disini. Bukan hanya di kereta, di atap bus dan mobil pribadi (sepertinya) pun ada. Saat aku melihatnya, semua kendaraan itu penuh sesak dengan orang-orang berseragam seperti pemain bola yang berteriak-teriak. Bahkan, bis yang kulihat hampir jatuh.

Angkot –nama salah satu angkutan umum disini—adalah salah satu hal yang bisa membuatku berkata ”wow”. Aku tidak yakin para supir angkot itu punya SIM. Wajar aku berpikir begitu bila melihat mereka berganti supir di tengah jalan, Berhenti mendadak untuk mengangkut seorang penumpang –kelihatannya disina halte hanya untuk bis--, Drifting, Ngetem –sebutan untuk menyebut angkot yan berhenti di suatu tempat untuk menunggu penumpang memenuhi angkot mereka--, dan lain sebagainya. Bahkan dimataku, mereka bagaikan Racer wannabe yang saat drifting berhasil membuat kepalaku memar.

Ah, tanpa kusadari, aku sudah mengatai kota orang seenaknya¬.¬

Walau begitu, aku suka kota ini. Rasanya kedekatan tiap warganya lebih erat dari Amerika.

”Kakak, angkotnya udah dateng” kata Rina. ”Ah, iya. Kamu naik duluan, gih” kataku. Dalam setahun ini, aku sudah mempelajari bahasa indonesia yang biasa dipakai orang dalam percakapan biasa. Bahasa-bahasa sopan yang diajarkan ibuku tidak pernah dipakai lagi. Kami pun naik ke dalam angkot dengan belanjaan bulanan kami. Dan bisa diduga, angkot tersebut langsung tancap gas.

”Ngebut, ya.... kayak biasa....” pikirku yang sudah mulai terbiasa dengan keadaan angkot. Tiba-tiba, angkot berbelok tajam hingga kepalaku menyembul keluar dari angkot. Tiba-tiba (lagi), ada mobil yang mengklakson angkot ini... atau mungkin mengklakson kepalaku. ”WAAAAAAAAAAAAAA!!!” seruku sambil langsung memasukkan kepalaku ke dalam angkot. ¼ detik kemudian, mobil tersebut melewati angkot ini dengan kecepatan tinggi. Si pengemudi membuka jendela dan berteriak, ”BANGSAT LO!!” yang jelas-jelas ditujukan padaku.

”Kakak nggak apa-apa?” tanya Rina padaku, tidak mempedulikan cacian barusan. ”Nggak apa-apa, kok... Cuma kaget....” jawabku. ”Baguslah kalau begitu!” katanya riang. Dia sama sekali tidak mempedulikan curse orang barusan seakan itu hal yang biasa. Atau memang dia tidak dengar?

Tidak lama kemudian, Rina memberhentikan angkot di depan warung kopi yang terletak dekat dengan rumah kami. Kami pun turun dari angkot. Rina membayar angkot, lalu tidak lama kemudian setelah kami berjalan beberapa langkah. ”WOI!! KURANG, NENG!!” seru si tukang angkot. ”Gawat!! Kabur!!” kata Rina sambil menarikku. ”E—Eh?! Nggak apa-apa, tuh?” kataku sambil melihat kebelakang dan mendapati si tukang angkot masih teriak-teriak marah. ”Biarin aja!! Duit kita nggak cukup!!” jawab Rina. Kami pun terus berlari hingga sampai di depan rumah.

“Haah….haah…..” kami berdua berusaha menstabilkan napas kami. “Ber… ha…sil…!” kata Rina tersengal-sengal sambil melempar badannya ke kursi. “Wah, kalian udah pulang, ya? Kok ngos-ngosan begitu?” tanya ibu. “Tadi….kami…. lari…..” jawabku. “Kenapa lari-lari? Ada hantu?” tanya ibu setengah bercanda. “Ada… yang lebih…. Serem lagi…..” jawab Rina. Ibu hanya tertawa kecil lalu menyuruh kami masuk dan istirahat di dalam.

Setelah menyerahkan belanjaan, minum, dan istirahat sebentar, aku izin keluar untuk jalan-jalan. Aku ingin istirahat sebentar sambil menikmati segelas teh hangat dengan uang jajan bulananku. Jadi ingat masa kecil……
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku pun melangkahkan kakiku ke sebuah warung kecil di depan gang. Setelah memesan segelas teh hangat, aku duduk di kursi panjang. Tepat di depan kursiku, ada pelanggan lain yang sering kulihat disini. Sepertinya, bapak itu adalah langganan warung ini.

Setelah teh pesananku datang, aku menikmatinya sambil menonton televisi kecil yang ada di warung tersebut. Acara yang saat itu diputar adalah berita. Berita korupsi yang seakan tak ada habisnya. Aku menggenggam erat gelas tehku. “Dasar pencuri rendah!!” umpatku pelan

“Hee.. Komentar yang berani banget…. Anak muda jaman sekarang memang beda, ya….”

Aku agak kaget dengan reaksi orang di depanku. Rupanya dia mendengarku. Tapi, aku merasakan sesuatu di balik kata-katanya barusan

“A…apa ada yang salah?” tanyaku padanya, untuk memastikan. “Nggak juga~~” jawabnya ringan. Dia berhenti sebentar untuk menenggak kopi hangatnya. “Kalau dilihat, jaman sekarang nggak aneh kalau banyak yang mikir kayak gitu. Wong koruptor aja makin hari makin nambah” tambahnya

Ya, Indonesia adalah negara dengan tingkat korupsi tertinggi sedunia. Munculnya koruptor baru tiap hari dan tidak berakhirnya kasus korupsi sudah bagaikan hidangan wajib dalam sebuah berita. Padahal…. Disini banyak sekali warga miskin. Tapi, mereka malah mencuri uang warga miskin dan menggunakannya untuk berfoya-foya tanpa guna.

Hanya untuk memenuhi kepuasan batin manusia serakah yang tidak pernah bisa berakhir

“Padahal tadinya mereka juga rakyat rendah… Bisa-bisanya mereka malah makin memperburuk keadaan!! Dasar orang-orang munafik!!” kataku lagi, dengan suara yang agak dikeraskan. Si bapak langganan memerhatikanku sebentar. Dan tanpa disangka, dia mengeluarkan sebuah pertanyaan

“Lalu, kamu bagaimana?”

“Eh?” aku meminta kejelasan padanya. Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya

“Kalau kamu emang marah sama koruptor-koruptor itu, kamu mau ngapain? Kamu bisa ngapain buat memperbaiki keadaan?” tanyanya dengan lebih jelas. Jujur saja, pertanyaannya menusuk.

Aku marah

Aku memang marah, tapi…

Kenyataannya, aku memang tidak melakukan apapun

Aku tidak bisa melakukan apapun!!

Apa yang akan kulakukan pun tidak tahu

Aku hanya bisa bicara besar

Kurasa, memang itulah sifat alami manusia

Tapi, tetap saja…!!

“Kau mau membunuh mereka?”

“!!” Pertanyaannya jelas membuatku kaget. Itu bukan kalimat yang wajar datang dari seorang bapak-bapak yang kira-kira berumur 40-an di Indonesia. Bisa dibilang, itu sama sekali bukan kalimat yang wajar diungkapkan di depan umum.

“Aku tanya, kamu mau bunuh mereka, nggak? Kalau kamu marah sampe segitunya, mungkin aja, kan?” lanjutnya. Aku mengepalkan tanganku lalu berkata, “memang, sempat beberapa kali pikiran seperti itu terlintas. Tapi, itu mustahil kulakukan, dilihat dari segi kesempatan. Lagipula, hukum melarang pembunuhan, kan?”.

Dia tersenyum penuh arti setelah mendengar jawabanku. Dia pun kembali mengeluarkan pertanyaan yang mengagetkanku

“Kalau kesempatanya ada, apa kau mau mengotori tanganmu dengan darah para koruptor demi warga?”

Kali ini, bahasanya sudah berbeda dari tadi. Nadanya pun terkesan lebih dalam dan… serius…

Apa yang harus kukatakan?

Bodoh, sudah pasti, kan?

“Kalau memang kesempatan itu ada, akan kulakukan” jawabku. Aku memang tidak masalah kalau harus membunuh orang. Tapi, tidak mungkin kesempatan seperti itu datang. Orang ini juga paling menanyakan hal seperti itu karena kesal denganku yang hanya bisa berbesar mulut tanpa bisa melakukan apapun.

Lagipula, ibu tidak akan mau melihatku membunuh orang, sekalipun itu kulakukan demi Indonesia, ataupun dunia

Aku menoleh ke arah si langganan. Sepertinya dia puas dengan jawabanku. Dia tersenyum penuh arti, lalu kembali bertanya

“Kau…. Mau coba ‘kesempatan’ itu?”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Mon Jun 07, 2010 2:34 pm

“A…apa maksud anda?” Tanyaku tidak percaya.

“Kalau kau mau, aku bisa memberikannya” jawabnya ringan
Apa dia baru saja memberiku kesempatan untuk membunuh mereka?! Tapi….bagaimana caranya?! Lagipula, kita sedang bicara tentang nyawa manusia!! Kita tidak bisa semudah itu mencabut nyawa seenaknya!!

Tapi…..kalau dengan ini aku bisa memperbaiki keadaan…

Mungkin hanya ini kesempatanku….

Aku…

Aku menelan ludah

“Apa kamu siap kalau harus mengorbankan dirimu sendiri demi orang lain?” tanyanya lagi

“Kalau kamu siap dengan segala konsekuensinya, aku akan memberitahumu” lanjutnya

Aku masih bingung….. terombang-ambing antara dua pilihan

Kalau aku memilihnya, aku harus membunuh orang

Tapi, kalau tidak memilihnya, tidak akan ada yang berubah

Keduanya pasti menyakitkan hati ibu

Tapi……

“Aku siap atas segala konsekuensinya. Kalau anda tidak berbohong, tolong buktikan”

“Ufufu…. Kesiapan yang bagus…. Kalau begitu, ikut aku” katanya sambil berdiri dari tempatnya duduk

Aku pun ikut berdiri….kalau saja….

“HEI!!”

‘BUAKH!!’

“GHUOOOO!!” jeritnya kesakitan

“BAYAR DULU!! UTANGMU NUMPUK, TAU!!” seru si penjaga warung

Aku kaget….

Kalau tadi aku berdiri, pasti aku yang kena

Dengan damage yang lebih tinggi….

Eh, sekarang kan harusnya aku menolongnya. Kok aku diam saja?

“Ahh~~ jangan galak-galak begitulah, Ina~~ masa kamu ngelempar langganan pake centong nasi?” tanyanya pada penjaga warung sambil bangkit

“Kalau nggak mau dilempar lagi, cepet lunasin utangmu!!” seru si penjaga warung yang bernama Ina tersebut

“Nanti aja, kalau abang udah punya duit!” serunya pada Bi Ina

“Halah!! Nanti-nanti melulu!! Kapan bayarnya!!!” seru Bi Ina nggak kalah

“Aduuh…. Gimana, nih…” gumamnya pelan

Tiba-tiba, dia menoleh kearahku dan berseru, “Oh iya!!”

“Hah?” aku bingung

“Bayarin paman, dong!!” pintanya padaku

“EEEEHH?!?!” seruku kaget

Aku melirik uang jajanku, selembar uang 1000 rupiah yang akan segera berkurang untuk membayar minumanku. Apa aku harus mengorbankan uang yang didapat ibu dengan susah payah untuk orang yang belum tentu benar ini? Gimana kalau dia bohong?! Dia terlalu mencurigakan!! Terutama di bagian ngutangnya!!

Tapi, kalau kubantu diitung berbuat baik nggak, ya?

Ah, sudahlah… lebih baik kupastikan dulu “itu”

“Bi, teh saya berapa?” tanyaku pada Bi Ina

“300 perak, dek” jawabnya

“Err…. Kalau kopi paman ini?” tanyaku tidak yakin

“Gopek” jawabnya singkat

Gopek….?

Se—sebentar!! Gopek itu kalau nggak salah….emm…. 500, kan?! Kok bisa lebih mahal?!?!

“Mahal di gula, ya?” Tanya paman itu pada Bi Ina

“ORANG KAMU RAKUS GULA!! DASAR SEMUT!! SUKANYA AMA GULA!!” seru Bi Ina lagi, kali ini sambil melempar sendok sup

‘Buk!!’

“ADAAWW!!” jerit paman itu kesakitan

“A…anu….memang untuk kopi segitu gulanya berapa…?” Tanyaku ragu

“Biasanya sih dua sendok. Tapi……” kayaknya Bi Ina mulai marah lagi

Firasatku nggak enak…..

Si paman menelan ludah

“DIA GULANYA 8 SENDOK MAKAN!! GILA, KAN?!” serunya dengan suara toa

“APA?!” kali ini, aku ikutan ribut

Jelas aja aku kaget. Secara, 8 SENDOK, gitu!! 8 SENDOK MAKAN!! Sinting!! Aku aja 3 sendok teh udah nggak kuat!! Pantes jadi mahal banget!!

Tanpa kusadari, ternyata paman itu sudah berlutut di depanku

“Kumohon!! Tolong bayarin dulu!! Nanti kuganti kalau paman udah punya uang!!” pintanya padaku

Dia berhenti sebentar dan berganti ke mode serius

“Kalau nggak bayarin, nanti nggak kukasih tahu, looh~~” katanya pelan

“Ukh--!!” sial, kalau begini, sih mau nggak mau!!

“….Bi, biar paman ini saya bayarin dulu….” Kataku pasrah. Bi Ina memberikan sekeping 200 perak padaku. Oh, uang jajan bulananku…..

“MAKASIH!!” seru paman aneh itu kegirangan

Aku berbalik menghadap paman aneh itu, lalu berkata, “Nah, sekarang aku mau nagih janji paman!”

“Oke, oke…. Sekarang, ayo kita ke halte busway!” katanya sambil melangkah pergi

“Eh—Oi! Katanya tadi--!!”

“Kukasih tahu di tempatnya langsung, deh! Biar sekalian pengurusannya selesai” katanya lagi sambil berjalan ke halte terdekat

Aku mengikutinya

“Pengurusan apa?” tanyaku padanya

“Pengurusan kerja” jawabnya ringan

“HAH?! Aku nggak minta itu!” protesku

“Pertama, kalau kamu berani bilang koruptor itu sampah masyarakat, pengangguran juga sama!! Makanya, kamu harus kerja dulu” jawabnya lagi

Logis, tapi juga tidak logis.

Tidak lama, busway pun datang. Kami segera memasuki busway tersebut. Wow…benar-benar beda dari angkot…. Dilihat dari segi manapun, jelas ini lebih elit. Tiba-tiba, aku ingat sesuatu

“Paman, ongkosnya gimana?” tanyaku

“Ah…..”

Hening

Dia mengeluarkan dompetnya dan mengecek uangnya

“Oh, masih cukup ternyata” katanya sambil mengembalikan dompetnya ke sakunya

“*siiigh* kalau paman punya uang, kenapa tadi nggak bayar?”tanyaku lagi

“Ngepas”

Jawaban singkatnya membuatku berhenti bertanya lagi

Beberapa belas menit kemudian, busway ini berhenti di sebuah halte. Paman aneh itu turun, aku pun mengikutinya. Dia berjalan keluar halte lalu menyusuri trotoar

“Paman, sebenernya kita mau kemana, sih?” tanyaku

Pertanyaan yang sudah kupendam dari tadi

“Kan udah kubilang, cari kerja” balasnya lagi

“Maksudku, kerja dimana?” kataku lagi, untuk memperjelas perkataanku

“Disini” katanya seraya berhenti berjalan, lalu menunjuk sebuah bangunan yang sangat besar dan tinggi (pastinya. Gedung pencakar langit di Jakarta kan bejibun). Tulisannya…

“PT Farran? Yang produsen elektronik terkenal itu?” tanyaku sambil mengerutkan alis

“Yup! Nah, ayo masuk!” suruhnya sambil melangkah masuk ke dalam

Serius, nih…. Ini perusahaan yang udah terkenal ke manca Negara, kan? Kok bisa ada tukang ngutang kerja di perusahaan sebesar ini? Kalau perusahaan sebesar ini, janitor aja pasti masuk level orang kaya (di Indonesia), kan?

“Hoi! Ngapain bengong? Mau masuk, nggak?” panggil paman aneh itu

“EH? Iya!!” aku membalas panggilannya

Dia memperlihatkan sebuah kartu pada sekuriti (em… pelesetan dari bahasa inggris?), lalu diijinkan masuk. Berarti, dia memang karyawan perusahaan ini. Interiornya cukup simple tapi megah. Entah karena aku lebih terbiasa melihat sampah busuk daripada vas bunga, atau karena memang megah.

“Selamat siang, Pak Suryo! Anda bawa calon karyawan, ya?” Tanya salah seorang resepsionis disini

“Ya. ngomong-ngomong, Chris ada?” Tanya paman aneh yang ternyata bernama Suryo ini pada kakak resepsionis tadi

“Kebetulan sekali, beliau sedang ada di ruangannya” kata resepsionis tadi

Puas dengan jawaban yang diberikan, Paman Suryo tersenyum lalu memanggilku untuk mengikutinya lagi. Kali ini, kami menaiki lift lalu berhenti di lantai 5. Begitu keluar dari lift, Paman Suryo berkata, “Kita bakal ketemu calon atasanmu. Jangan lupa jaga sikap!”

Atasanku, ya….

“Siapa namanya?” tanyaku

“Namanya Chris. Dan jangan sekali-kali bikin dia marah. Bisa-bisa kamu dibikin bonyok” kata Paman Suryo mengingatkan

Dibikin bonyok…..aku nggak tahu terjemahan aslinya, tapi aku mengerti. Yang pasti, bahaya. Eh? Tunggu…kalau dia bisa bikin orang “bonyok”…jangan-jangan…..Chris John?!

‘tok tok’

“Chris!! Ada calon lagi, nih!” seru Paman Suryo di depan pinu yang sepertinya adalah ruangan “Chris”, calon atasanku

Seorang anak gadis yang kira-kira seumuran denganku membukakan pintu

“Wah, Pak Suryo, selamat siang! Silakan masuk!” kata gadis tadi dengan ramah

“Oke, ayo masuk” kata Paman Suryo sambil mengisyaratkanku untuk masuk

Tenang….mana mungkin Chris John kerja kantoran, kan?

Aku masuk ke dalam dan melihat calon atasanku di depan meja kerjanya. Dia melihatku lalu menyapa,

“Selamat datang, anak baru”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Jun 19, 2010 4:23 am

Di hadapanku, terlihat seorang wanita cantik yang menyandarkan tubuhnya yang tinggi pada meja. Umurnya kira-kira 28 tahun. Rambutnya berwarna perak sepanjang punggung dan dia bermata biru langit.

Albino?

Dia mengenakan sepuah kemeja putih dengan dasi hitam plus rok span hitam selutut. Sebuah senyuman mengembang di wajahnya

“Perkenalkan, namaku Chris Evania Puspita” katanya sambil mengulurkan tangan padaku

Aku menjabat tangannya, lalu berkata, “Nama saya Rafi Aditya Putra”

“Nggak usah kaku begitu” katanya sambil tersenyum. Wanita itu pun menepuk pundakku lalu menoleh ke arah Pak Suryo

“Hei, formulir buat dia apa?” Tanya Nona Chris pada Pak Suryo

formulir? Apa disini formulir untuk setiap pekerjaan beda-beda?

“Nggak tahu” jawab Pak Suryo. Aku bisa melihat sebuah urat muncul di wajah Nona Chris

“Kebiasaan kamu, yaa…….” Nona Chris mendekati Pak Suryo dengan aura pembunuh

“HIIII!! MAAF!! Tapi, aku punya perkiraan, kok!!” seru Pak Suryo sambil berlutut di hadapan Nona Chris dengan kedua tangannya dikepalkan tanda meminta ampun

“Apa?” Tanya Nona Chris

Pak Suryo berdiri lalu membisikkan sesuatu ke telinga Nona Chris

“Serius? Emang cocok, sih…. Tapi…..” Nona Chris terlihat ragu setelah mendengar bisikan Pak Suryo

“Tes aja” saran Pak Suryo. Entah kenapa, aku merasakan firasat buruk ketika mendengar kata-katanya

“Oke. Namia!!” Nona Chris memanggil gadis yang tadi membukakan kami pintu.

Aku memerhatikannya berjalan mendekati Nona Chris. Wajahnya ramah dan manis. Dia berambut hitam sebahu dan memakai jepit rambut berwarna coklat untuk menjepit poninya. Dia mengenakan rok lipit biru muda dan sebuah rompi berwarna biru tua. Di dalam rompi itu, dia mengenakan sebuah kemeja lengan panjang. Kelihatannya, dia adalah pekerja sambilan disini

“Namia, ‘passer’ “ kata Nona Chris pelan pada Namia. Namia menganggukkan kepalanya tanda mengerti, lalu dia berjalan ke hadapanku

“Rafi….”

“…Ya?”

firasatku betul-betul nggak enak

“Tolong jangan sampai mati” katanya pelan

“Eh?”

Tiba-tiba, dia mengayunkan sesuatu ke arahku. Aku bisa melihat seberkas sinar. Itu…. Pasti benda tajam.

‘Bats!’

Aku langsung menghindari benda yang kelihatanannya berbahaya tesebut. Aku bisa melihatnya. Dia….

Mengayunkan sebuah katana kearahku

“AP--?!” belum sempat aku bicara, dia sudah melancarkan serangannya yang kedua. Dia mengincar lenganku. Aku berhasil menghindar, tapi lenganku tergores.

“Ck!” kami berdua berdecak

Dia terus menyerangku dan aku terus menghindarinya

Tunggu dulu…. Sebenarnya ada apa ini?

Kenapa dia tiba-tiba menyerangku?

Nona Chris dan Pak Suryo tidak melakukan apapun. Ini jelas tes masuk yang harus kulalui sebelum benar-benar membunuh

Mana bisa mereka menerima orang seenaknya tanpa tahu mereka bisa membunuh atau tidak?

Tapi, kemampuan bertarungnya tidak bisa diremehkan……

Sepertinya, aku harus mulai serius…..

“Fuh…..” aku mengambil sebuah vas bunga yang terbuat dari keramik, lalu menahan serangan katananya

‘TRANG!’

“!!” Namia terlihat kaget saat aku yang dari tadi hanya kabur menahan katananya

‘Krak…’

“Gawat!” keramik ini mulai retak. Aku pun melemparnya kesamping. Namia yang katananya tertancap pada vas bisa dengan cepat menarik kembali katananya dan menebaskan katananya padaku. Dengan segera, aku mengambil benda terdekat dari tanganku dan memakainya untuk memukul perut Namia hingga dia terlempar

“Ukh--!!” Namia tampak kesakitan saat dia berhasil mendarat di lantai

“Wow…. Dia bisa melempar Nami pakai sapu ijuk!!” seru Pak Suryo sambil mengamati jalannya pertarungan kami

“Boleh juga….” Nona Chris mengembangkan sebuah senyum puas

Tapi, ternyata pertarungan belum selesai. Namia segera berdiri dan menerjangku. Aku tahu sapuku tidak akan bisa menahan serangannya. Karena itu, aku segera berlari ke arah meja Nona Chris, lalu mengambil 6 buah pena.

“Hee…. Apa yang akan dia lakukan sekarang?” Tanya Nona Chris tertarik

“Apapun itu, takkan kubiarkan kau lolos!” Namia kembali menerjangku yang sekarang berada di samping meja kerja Nona Chris. Namia mengayunkan katananya dengan kuat. Aku menghindar dari serangannya dengan sebuah lompatan

“!!” Namia hanya sempat mendongak kearahku ketika aku melancarkan seranganku yang kedua

‘Syuuung!!’

aku melempar 3 pena yang kuambil barusan dengan kecepatan tinggi. 1 menusuk tangan kanannya, 1 menggores wajahnya, dan 1 lagi menancap di bahu kirinya, luka yang terdalam

“Uuukh!!” Namia memegang pundaknya yang kesakitan. Sementara dia meringis kesakitan, aku mendarat di atas meja kerja Nona Chris, lalu mengarahkan 3 pena yang bersemayam di sela-sela jemari tangan kananku ke arahnya. “Kau pasti tahu kalau aku sengaja tidak membuat luka fatal, Nona Namia” kataku dengan nada mengancam

Sekarang, wajahku pasti terlihat seperti wajah seorang pembunuh berdarah dingin

Aku bisa melihat Namia yang kesakitan menyiratkan sebersit rasa takut dimatanya

Sedangkan mataku, aku tidak tahu…..

Yang pasti, mata seorang pembunuh…

“Apa aku perlu mewarnai matamu dengan tinta sampai kau buta?”

“Yak! Cukup sampai disitu! Pertunjukan yang bagus sekali, anak baru!!” seru Nona Chris sambil bertepuk tangan

“Gimana? Mataku emang nggak pernah salah!!” kata Pak Suryo sambil memegang janggutnya yang samar-samar terlihat

“Yah, kalau begitu, Suryo, bawa Namia ke ruang pengobatan. Biar aku yang mengurus Rafi” perintah Nona Chris

Pak Suryo mengantar Namia yang terluka keluar. Sedangkan aku melompat turun dari meja kerja Nona Chris. Nona Chris melangkah mendekatiku, lalu…..

“MAAFKAN SAYA!!” aku membungkuk minta maaf padanya

“Hah?” Nona Chris terlihat bingung

“Saya…. Saya sudah terbawa suasana sampai menghancurkan ruangan anda seperti ini!!” seruku lagi

Wajar saja, kertas kerjanya bertebaran dimana-mana, ada beberapa bercak darah di lantai, lantai basah karena vas bunga yang sekarang tinggal kepingan keramik dengan kelopak bunga bertebaran disekitarnya, mejanya teracak-acak olehku yang mencari pena, sabetan pedang dimana-mana, sapu bengkok, dan jejak kaki diatas kertas kerjanya yang terletak diatas meja. Pokoknya, sangat kacau.

“Ah, ini sih nggak usah kamu peduliin. Besok pagi juga bersih lagi” jawabnya ringan. Aku pun langsung berhenti membungkuk karena kaget

besok pagi sudah bersih lagi?! Apa ini bukan penyiksaan terhadap bawahannya yang nantinya akan membersihkan ini?!?!

“Yah, untungnya mejanya nggak patah…..” Nona Chris berjalanke arah meja kerjanya, lalu membuka sebuah laci. Dia menarik sebuah kertas dan memberikannya padaku

“Ini…. Formulir?”

“Ya. Isi aja disini” kata Nona Chris sambil menepuk mejanya. “Yang cepet, ya! Kamu kan pegang 3 pulpen!”

“Ah--!!” aku baru sadar kalau aku masih memegang penanya. Memalukan sekali! Aku pun segera mengembalikan 2 pena miliknya dan mengisi formulir dengan cepat. Tapi, aku menyadari dua keanehan.

“Erm…. Nona Chris, maaf…..” kataku pelan

“Kenapa?”

“Saya….. tidak membawa foto…..” kataku ragu

“………” Ruangan tersebut hening sesaat

“Kalau begitu…..Rafi….” Panggil Nona Chris

“Eh?” Nona Chris mengambil ponselnya, lalu memotretku secara tiba-tiba

‘jpret!’

“Wa!!” aku kaget. Tiba-tiba saja dia memotretku tanpa peringatan. Dia pun mengambil kabel data dan laptopnya yang tersimpan rapi di laci meja kerja dan mengirimkan fotoku ke laptopnya. Dia pun memutar laptopnya sehingga aku bisa melihat fotoku. Tampangku…..uh….. benar-benar tampang cengo yang bodoh sekali. Benar-benar memalukan!!

“Ahaha!! Nggak usah malu begitu! Yang penting fotonya ada!” katanya ringan. Dia pun mengeluarkan sebuah printer kecil lalu mem-print fotoku barusan.

“Nah, masalah selesai!!” serunya sambil menyodorkan foto tersebut padaku. Sebuah foto kecil berukuran 3x4 dengan sebuah wajah bodoh terpampang diatasnya

Aaahh….. sekarang image-ku di mata para atasan pasti hancur…..

“Sudahlah, tempel foto itu lalu lanjutkan mengisi formulirnya!” suruh Nona Chris

Aku pun menurutinya. Aku menulis semua data yang dibutuhkan lalu menandatanganinya. Tapi, ada yang aneh….

“Nona Chris, kenapa disini hanya ada tanda tangan calon pekerja dan atasan mereka?” tanyaku. Mendadak, wajah Nona Chris berubah menjadi serius. Tapi, aku merasakan ada sedikit rasa sedih terpancar dimatanya

“…… Tidak semua orang disini memiliki keluarga hangat yang setiap hari menunggu kepulangan mereka….., Rafi……” katanya pelan

Aku mengerti….

Aku sangat mengerti itu….

Perasaan itu…. kira-kira sama dengan yang kurasakan saat kabur dari penjara

Anne…..

“…..Sudahlah, jangan dibahas. Lebih baik kau isi saja” kata Nona Chris lagi

“Baik…” aku menjawabnya dengan singkat. Aku juga tidak mau mengingat kejadian malam itu lagi. Dadaku terasa sesak ketika mengingat wajah Anne pada saat itu….

Aku memberikan formulir yang sudah selesai kuisi pada Nona Chris. Dia mengambilnya, tersenyum, menyandarkan pinggulnya ke meja kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah kata yang maknanya tidak kumengerti

“Selamat datang….. Di ‘Messiah’!”

“Hah?” kali ini, aku benar-benar tidak mengerti maksud perkataannya.

’Messiah’?

“Apa….itu?” tanyaku dengan nada ragu. Nona Chris tersenyum penuh arti lalu menjawab pertanyaanku

“Kau datang kemari dengan tujuan ‘ingin membunuh para koruptor dan pengingkar rakyat lainnya’, kan? Apa kau pikir kita bisa melakukannya dengan cara biasa?” tanyanya

“--!! Jangan-jangan!!”

“Kami semua adalah orang yang rela mengorbankan apapun milik kami demi rakyat Indonesia. Tapi, kami hanyalah warga Negara yang lemah. Warga yang tidak bisa melakukan apapun. Warga yang hanya bisa berkata tanpa bertindak. Itulah, jika kami hanya sendiri”

Nona Chris melihat kota Jakarta lewat jendela yang ada di belakang meja kerjanya

“Kami tahu, yang berpikir bahwa ‘para pengkhianat harus mati’ bukan satu orang. Karenanya, kami harus melakukan sesuatu untuk mempersatukan mereka. Kami harus mengumpulkan mereka dan menghimpun kekuatan bersama. Kalau sendirian memang mustahil, tapi kalau bersama ‘keluarga’…..”

Nona Chris membalikkan badannya untuk melihat wajahku

“…… Apapun yang terjadi, kami pasti bisa! Bersama, kami akan ‘membersihkan’ Negara yang kami cintai ini!!”

“…” aku terdiam. Tenggelam dalam kekaguman. Barusan, Nona Chris terlihat sangat berkharisma dan bisa diandalkan. Aku rasanya mengerti kenapa Pak Suryo membawaku padanya. Dia pasti orang berpangkat tinggi disini disini

“Nah, karena aku udah selesai ngejelasin soal ‘Messiah’, baca syarat dan ketentuannya disini!” suruh Nona Chris sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. Aku membaca judulnya dengan agak ragu

“Peraturan….. ‘Judgement Passer’….?”

“Itu sebutan untuk orang-orang sepertimu di perusahaan ini. Sesuai namanya, tugas mereka adalah ‘menyampaikan hukuman’. Hanya saja, dalam menyampaikan ‘hukuman’, ada beberapa peraturan yang harus mereka patuhi. Kau bisa membacanya di kertas itu” kata Nona Chris sambil menunjuk kertas formulir yang kupegang

Sesuai sarannya, aku membaca peraturan yang berlaku disana

“Dilarang keras membocorkan informasi apapun yang berkaitan dengan’Messiah’, ya?” gumamku

“Itu sih peraturan standar. Coba baca yang lain!” suruhnya

“Emm… Para Judgement Passer tidak boleh seenaknya membunuh. Mereka harus mendapat ‘Judgement data’ dari para ‘Judge’ yang akan diantar oleh ‘Hermes’? Apa maksudnya?” aku makin bingung ketika melihat istilah-istilah baru tersebut

“Di perusahaan ini, kami menganut sistem demokrasi. Jadi, perusahaan ini tidak dipimpin oleh individu tunggal, melainkan kelompok orang-orang dari berbagai kalangan. Kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kelompok itu terdiri dari 12 orang yang mencakup kalangan-kalangan di Indonesia. Tentu saja, kalangan ini tidak dilihat dari ‘tempat’, tapi lebih ke ‘status’. Dengan melihat dari sudut pandang 12 ‘status’ itulah sesuatu akan dinilai pantas diberi ‘hukuman’ atau tidak. Ke-12 orang tersebut disebut ‘Judge’, sang penentu”

“Lalu, bagaimana dengan ‘Hermes’?” tanyaku

“Itu, sih… di mitos juga ada, kan? Hermes adalah pembawa pesan para dewa. ‘Hermes’ yang dimaksud disini pun tidak jauh berbeda. Tugas mereka adalah mengantarkan hasil keputusan para ‘Judge’ kepada para ‘Judgement Passer’. Bedanya, ‘Hermes’ disini bertugas ganda. Mereka tidak hanya sekedar ‘mengantar’, tetapi juga mencari informasi. ‘Hermes’ juga bisa mengantar kata-kata para ‘Passer’ ke para ‘Judge’, walaupun sebenernya diomongin langsung ke ‘Judge’ juga bisa. ‘Hermes’ hanya terdiri dari orang-orang yang bisa dipercaya oleh para ‘Judge’. Umumnya, para ‘Hermes’ adalah orang-orang yang cerdik dan lihai tetapi loyal”

“Hmm…..” aku manggut-manggut tanda mengerti. Aku pun kembali melanjutkan membaca peraturannya

“eh? ‘Hermes’ hanya boleh memberi ‘Judgement Data’ pada ‘Judgement Passer’ yang menunjukkan ‘lambang’nya?” kata yang membingungkan keluar lagi

“Itu akan kujelaskan kalau kau sudah menerima ‘lambang’-mu” jawab Nona Chris singkat

Aku kembali memperhatikan aturan-aturan tersebut, dan menemukan sesuatu yang agak mengejutkan

“Para anggota ‘Messiah’ yang bekerja di PT. Farran akan digaji sesuai pekerjaannya di PT. Farran? Jangan-jangan….”

“Anggota ‘Messiah’ tidak dibayar. Gaji yang mereka dapat adalah murni dari pekerjaan mereka di tempat kerja masing-masing” jawab Nona Chris

“HAH?!” aku nggak percaya. Para ‘Judgement Passer’, ‘Hermes’, dan ‘Judge’ yang bertaruh nyawa tidak dibayar sepeser pun?! Itu—itu nggak adil, kan?! TNI aja dibayar!

“Anggota ‘Messiah’ bekerja karena niat mereka untuk ‘memperbaiki’. Mereka tidak pamrih, sehingga mereka benar-benar rela dan tulus dalam melakukan tugas mereka. Uang hanya akan memperburuk keadaan dan mencemari ketulusan mereka” jelas Nona Chris

“Ah….. benar juga…..” aku tidak berpikir sampai sana. Sepertinya, setahun disini telah cukup mengubahku

“Karena itu, kamu akan mendapat kerja di perusahaan ini sebagai cover dari pekerjaanmu yang sebenarnya di ‘Messiah’. Lebih baik, seimbangkan keduanya!” sarannya

“Ah, baik!” aku menyanggupi. “Tapi, pekerjaan saya apa?”

“Besok, datanglah lagi kemari. Aku akan menyerahkan formulirmu hari ini dan hasilnya akan keluar kira-kira besok siang. Saat itulah aku akan memberitahu pekerjaan cover-mu dan setelah itu kau harus ikut aku mengurus ‘lambang’-mu. Bacalah dulu persyaratannya, kalau besok kau mau mengundurkan diri masih boleh, kok!” katanya sambil memegang pundakku

“Aku…. Aku tidak akan melarikan diri. Aku akan melakukan ‘tugas-tugas’ku dengan baik!” seruku penuh semangat

“Fuh…. Harusnya kamu mengatakan itu setelah diterima” tanggapnya

“Tenang saja, aku yakin aku pasti diterima. ‘Messiah’ menerima semua orang yang ‘berpemikiran sama’ dan ‘dapat dipercaya’, kan?” kataku penuh percaya diri

“Kalau begitu, bersiaplah untuk besok!” kata Nona Chris sambil menepuk punggungku

Aku pun segera meminta permisi untuk pulang karena matahari senja mulai tenggelam. Aku tidak boleh membuat ibu khawatir. Aku pun segera melangkahkan kakiku untuk kembali ke rumah

Setelah semua pembicaraan tadi, aku makin yakin pada keputusanku

Organisasi yang terencana dengan rapi dan anggota berbasis ‘keluarga’

Rasanya, aku merasakan suatu Thrill dalam hatiku

Mungkin, karena dengan ini, aku bisa meringankan beban ibu

Dan mengurus kebusukan internal pemerintah sebelum mereka memfitnah dan membunuh orang yang tidak bersalah

Anne, kakak tidak akan membiarkan para pemerintah melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada kita….. karena itu…..

Lihat aku, Anne….. Kakak akan mewujudkan impianmu!!


Terakhir diubah oleh Alteria tanggal Sat Jan 08, 2011 11:20 pm, total 2 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Jul 24, 2010 12:58 am

Begitu aku membuka mata, seperti biasa, yang terlihat adalah langit-langit tripleks kamarku

“Kaaak~ Udah bangun belom~?

Dan tidak seperti biasa, Rina memanggilku untuk membangunkanku

Mataku sudah terbuka dari tadi malam, tapi aku tak sedikitpun beranjak dari tempat tidurku (oh, dan tolong jangan bayangkan aku tidur di spring bed)

Sepanjang malam, aku terus memikirkan keputusanku

Aku memegang kepalaku yang terasa sakit. Pikiranku terus bekerja, mempertimbangkan segala kemunginan yang bisa kupikirkan

‘Jika aku melakukan ini, aku bisa memperbaiki keadaan’

‘Tapi, ini tindak kejahatan. Tidak beda dengan teroris’

‘Kalau aku tidak melakukannya, keadaan akan semakin memburuk jika pemerintahan seperti ini terus berlanjut’

‘Tidak masalah jika aku harus mengotori tanganku dengan darah demi kebahagiaan mereka. Tapi, mereka pasti tidak akan menyetujui tindakan seperti ini’

‘Tapi, hanya ini yang dapat kulakukan demi mereka!’

Pikiran-pikiran seperti ini terus muncul

Dan semuanya terus berkontradiksi

“…Ukh…”

Rasa sakit itu kembali kurasakan. Sepertinya, tetap berbaring dan memikirkannya bukan ide yang baik. Pikiranku terus melayang dan tidak bisa mencapai suatu kepastian

Aku pun bangkit dari tempat tidurku yang keras, dan melangkahkan kakiku ke ruang makan dengan penuh kegundahan dalam hatiku. Pikiran-pikiran itu tidak hilang, tapi setidaknya, kepalaku sudah lebih baik

“Rafi, ini sarapannya ibu taruh di atas meja, ya. Ibu mau kerja dulu” kata ibu sambil berjalan ke arah pintu, lalu pergi

“Kak, aku ke sekolah dulu, ya~ Daah~” Rina pun berlalu dengan riangnya

Dan, aku pun sendirian, seperti biasa

Aku duduk di kursi dan mengampil sarapanku. Sepiring nasi dengan kerupuk dan kecap. Tidak beda jauh dari biasa

Sebetulnya, selera makanku sama sekali tidak ada. Tapi, aku harus menghabiskan makanan ini. Aku tahu betapa kerasnya ibu bekerja demi kami bisa makan sepiring nasi. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya

Lidahku tidak bisa merasakan makananku. Bagaikan semua syarafku terpusat untuk berpikir. Hatiku tidak tenang

Setelah aku menghabiskan sarapanku dan mencuci piring, aku memutuskan untuk keluar rumah dan mencari udara segar. Aku membutuhkannya, sangat membutuhkannya untuk menjernihkan pikiranku

Dan tepat disaat aku butuh ketenangan (walaupun berada di Jakarta untuk mencari ketenangan saja sudah salah besar)…

‘BRAK!!’

“?!”

“Ada apa barusan?!” aku memutar kepalaku ke arah sumber bunyi dan melihat segerombolan orang mengerbungi sesuatu. Akupun segera berlari mendekati kerumunan tersebut dan melihat apa yang terjadi sambil berdesak-desakan menerobos kerumunan

“Mana duit lo?! Cepet kasih atau gue hajar lo!!”

Suara itu… paman tetangga, kan? Dia malak orang?

Aku terus berusaha menerobos, dan berusaha melihat apa yang terjadi

“Ti… tidak bisa!!” anak itu membalas perkataannya. Tapi, dari suaranya, jelas sekali kalau dia gadis terlalu takut dan lemah untuk berhadapan dengan paman itu

“Udaaaahh!! Jangan banyak bacot!!”

“Kyaaa!!”

Entah apa yang terjadi. Aku tidak bisa melihatnya dari sini. Tapi, sebentar lagi… sedikit lagi…!!

“Nah, serahkan duitmu kalau nggak mau gue apa-apain!!”

“Tidaaaakk!!”

Sedikit lagi!! Ah!! Paman sudah terli—Gwah!!

Sialan. Orang-orang yang berdesakan itu membuatku terlempar ke TKP. Aku tidak terjatu, tapi aku berhasil menyeimbangkan tubuhku. Akupun perlahan mendongakkan kepalaku. Firasatku tidak enak…

“Rafi…?”

Eh? Barusan… anak perempuan tadi memanggil namaku? Tapi… rasanya aku pernah mendengar suaranya…

“Rafi! Bagus!! Ayo bantu aku!!” paman menarikku untuk membantunya. Otomatis, aku pun bertatapan mata dengan perempuan yang sedang dipalaknya. Perempuan i—

EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHH?!?!

“… Nami…a?” kataku tidak percaya. Aku sama sekali tidak menyangak akan bertemu dengan gadis yang hampir membunuhku kemarin. Tapi, yang paling membuatku kaget adalah jeritan-jeritannya saat dipalak

Aku pun mengingat kembali saat-saat aku bertarung dengannya. Dia begitu gesit dan kuat. Seharusnya, paman bisa dibunuhnya dengan mudah. Tapi, Namia yang waktu itu terlihat seperti pembunuh, sedangkan Namia ini…

Dia mengenakan kemeja lengan panjang biru dengan rompi biru langit yang… sangat cewek plus rok sepanjang lutut berwarna violet dengan bulu-bulu halus tergantung di ujung roknya. Sedangkan wajahnya, matanya yang besar dan berkilauan menunjukkan level ke-innocent-an level atas. Belum lagi, jepit rambut manis yang menjepit poninya. Pemandangan yang mencengankan ini membawaku pada dua tebakan

Pertama, dia sedang menyamar atau berakting agar tidak ketahuan kalau dia anggota Messiah

Atau, yang kedua, dia berkepribadian ganda

Ah, yang manapun itu, itu tidak penting!! Yang penting sekarang aku harus menolongnya..kan…?

Kenapa aku jadi plin-plan begini?!


“Rafi, lo mau bantu apa nggak?!” seruan paman membangunkan lamunanku

“Rafi… kamu di pihak orang ini?” Tanya Namia dengan wajah sedih dan kecewa

Ah… aku harus gimana?

“Yaudah kalo nggak mau bantu!!” seru paman sambil kembali menerjang Namia, dan kali ini, pukulannya kena telak

“Kyaaaaah!!”

“!!”

Namia terlempar hingga menabrak sebuah pohon besar di dekatnya. Dia pun jatuh bagaikan tak sadarkan diri. Pingsan. Tidak bergerak…

“Na--!!” Baru saja aku akan menghampirinya, keajaiban terjadi

“Haa!!”

‘BUKH!!’

Tidak bisa kupercaya… Namia yang tadi telah berubah menjadi Namia yang kulihat kemarin. Mata pemburunya bagaikan sudah menargetkan paman sebagai targetnya yang berikutnya. Paman bisa menahan pukulannya, tapi aku tahu kalau tangannya hampir patah

“ANAK SIALAAAAAAAANN!!” seru paman sambil menggunakan kaki kanannya untuk menendang Namia. Namia pun dengan cepat mengambi sesuatu dalam tasnya dan menusukkannya kea rah paman. Dan…

‘GREP!’

“!!”

Mereka berdua kelihatan sangat kaget. Bagaimana tidak? Aku tiba-tiba mengganggu pertarungan mereka dengan menahan kedua serangan
“Maaf, tapi ini sedang di tempat umum. Kalau mau bertengkar, jangan disini” kataku, dan tentu saja aku berusaha tenang dan menahan rasa sakit yang ada di tanganku, terutama sayatan yang dibuat pulpen Namia. Darahnya mengalir

“RAFI!! Jangan ganggu!!” seru paman sambil meronta-rontakan kakinya, berusaha lepas dari cengkeramanku. Usahanya terbukti percuma. Aku bisa menahan kakinya dengan baik

Aku pun menoleh ke arah paman dan bertanya, “Paman melakukan ini karena butuh uang demi keluarga paman?”

“Tentu saja!! Emangnya lo kira gue suka ngerampok orang?!” jawab paman dengan seruan yang kasar

Seperti semua orang di gang kami, Penghasilan paman tidak besar. Penghasilannya sebagai tukang ojek mungkin tidak seberapa kalau untuk makan dan keperluan lainnya. Tapi, dia punya satu kelemahan yang membuat istrinya hampir bercerai dengannya. Dan sekarang, aku akan memakai kelemahan itu untuk menghentikan perkelahian ini.

“Kalau begitu, mau kukasih tips supaya nggak tambah miskin?” kataku sambil melepas kedua cengkeramanku, lalu menoleh ke arah paman

“Kalau paman berhenti ngerokok, berhenti judi, dan berhenti nongkrong buat minum-minum, pasti paman nggak bakal melarat sampe harus ngerampok orang”

“Ap—Jangan fitnah lo!!” paman membantah. Walau dari gesture tubuhnya dan mimik wajahnya, jelas sekali kalau perkataanku benar

“Fitnah? Bukannya itu pengetahuan umum di gang kita?” aku pun makin memojokkannya. Sebetulnya, aku merasa nggak enak hati sama paman. Tapi, apa boleh buat kalau emang ini salah dia. Lagipula, kalau dibiarkan, keadaannya bisa jauh lebih parah

“A--!!” kelihatannya paman ingin membantah lagi. Tapi, pandangan orang-orang yang dari tadi mengerubunginya sudah berubah menjadi pandangan marah, jijik, dan sebagainya. “Cih!” terpaksa, paman pun lari menjauh dari kerumunan. Sepertinya dia kembali ke rumahnya

“Fyuh… ada-ada aja…” kataku sambil memegang kepalaku dengan tanganku yang berdarah

Udah kepala pusing, ketemu anak berkepribadian ganda, tangan kesayat, paman jadi marah dan martabatnya hancur, aku nggak sanggup beli plester, mau nyari udara seger malah tambah pusing… ibukota emang edan…

“Um… Rafi!” seruan Namia (yang tampaknya sudah kembali jadi oh-so-innocent mode-nya) mengalihkan fokusku padanya

“Ah… Te—terima kasih…” katanya sambil membungkukkan badannya sedikit

“Nggak apa-apa. Aku Cuma kebetulan lewat dan nggak berbuat banyak, kok” balasku

“Kalau begitu…” Namia menyeringai

!! Ini… Namia yang kemarin!?

Uwaa… Rasanya aku bisa mencium bahaya

Namia membalikkan badannya, berjalan beberapa langkah, lalu menoleh kembali padaku

Aku menelan ludah. Pandangan matanya yang dingin membuatku merinding

“Ikuti aku, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Aug 14, 2010 8:36 am

Dia bilang mau bicara? Sudah pasti soal keputusanku, ya… Yah, tidak ada salahnya aku mendengar apa yang ingin dikatakannya lebih dulu. Tapi, dia mau bicara dimana? Kok sepertinya jalannya jauh sekali?

Selagi kaki kami saling melangkah ke satu arah, aku mulai mencurigai pemandangan disekitarku. Kami pun berjalan ke sebuah jembatan penyeberangan dan menaiki busway disana. Dan kalau perkiraanku benar, dia pasti membawaku kesana.

”Nah, ayo masuk” katanya sambil melangkahkan kaki ke sebuah bangunan. Sesuai dugaan, bangunan dengan tulisan ”PT Farran” di atasnya. Aku pun melangkahkan kakiku, mengikutinya ke tempat yang bisa kutebak.

”Ah, Rafi, aku sudah menunggumu dari tadi” kata seorang wanita yang –walau kurasa kalian juga sudah tahu—bernama Chris. ”Nona Chris, bagaimana kalau nona mulai menjelaskan mengenai ’itu’ pada Rafi?” tanya Namia. Nona Chris berjalan mendekatiku, hingga ia berhenti di depanku ”Tapi, sebelumnya, aku harus mendengar keputusanmu”.

Akhirnya, dia menanyakannya juga.

Yah, sudah bukan saatnya untuk bimbang. Deadline keputusanku sudah datang, dan seharusnya sekarang aku sudah memutuskan sesuatu.

Tenang...

Pikirlah dengan jernih...

Nona Chris melanjutkan perkataannya, ”Jadi... jawabanmu?”. Aku mengangkat wajahku. Mataku menatap matanya, walau yang ’kulihat’ adalah sesuatu yang jauh di depan sana. Perlahan, aku membuka mulutku untuk mengutarakannya.

Ya, aku sudah memutuskan...

”Aku akan bergabung dengan ’Messiah’. Mohon bimbingannya”.

Nona Chris tersenyum, lalu menjawab, ”tentu saja kau akan kubimbing. Kau tanggung jawabku juga”. ’Kau tanggung jawabku juga’, ya? Dia memang atasanku, jadi itu adalah sebuah common sense. Nona Chris berjalan kembali ke mejanya dan duduk di singgasananya --maksudku, kursinya--, lalu berkata

”Selamat bergabung, Rhieve Zalther”

’Deg’!!

Ap--?!

Dia... tahu?!
Tunggu, ini... apa ini jebakan?! Mereka sengaja memancingku untuk bergabung supaya mereka bisa menyerahkanku?!

Atau, apa mereka ingin membunuhku secara individi, tanpa hubungan dengan polisi sama sekali?! Memang, sekarang aku seorang kriminal, tapi..!!

”Ahaha!” suara tertawa barusan membangunkanku dari lamunanku. Aku juga bisa merasakan keringat dingin mengalir di wajahku. Ada apa ini sebenarnya?!

”Wajahmu sampai pucat begitu... wajar sih” lanjutnya lagi.

Wajar?

Apa sebentar lagi akan ada yang menahan atau membunuhku?!

Sekarang, semua ingatan di penjara itu seperti kembali muncul ke permukaan

Segala siksaan yang kuterima dulu

Menyakitkan...

Sesak...

Dan, tak ada yang akan mengulurkan tangannya padaku...

Siapa juga yang mau membantu seorang ’penjahat’? seorang ’pendosa’ tidak pantas dikasihani

”Ufu...fuhahahaha!!” tanpa kusadari, aku tertawa. Menertawakan betapa menggelikannya pikiranku sendiri.

Seorang ’pendosa’ tidak pantas dikasihani? Padahal semua yang bisa disebut ’pendosa’ kenyataannya malah mendapat banyak simpati!

Sedangkan ’orang-orang yang disebut pendosa’ kebanyakan tidak berdosa sebesar ’para pendosa’. ’Para pendosa’ terus menekan ’orang-orang yang disebut pendosa’, dan mereka pun bertukar status. ’Orang-orang yang disebut pendosa’, yang mendapat ’daerah aman’, kini berada di danger zone karena ’daerah aman’ mereka diambil ’para pendosa’.

Lalu, ’para pendosa’ yang masih berada di danger zone selalu berda di daerah aman danger zone. Ahaha!! Sungguh sebuah realita yang dijungkir-balikkan sedemikian rupa! ’Para pendosa’ juga mendapat tempat aman di grupnya sendiri. Seperti pejabat yang korupsi dan bisa tetap hidup bebas sampai sekarang.

Dan, warga juga tidak memberi kontribusi besar. Kebanyakan dari mereka hanya menjadi ’penonton’ atau ’pengeras suara’, terutama suara yang salah dan menyimpang. Yang bertugas menangani ’para pendosa’ pun tidak memperlihatkan perkembangan yang signifikan. Bukankan itu artinya mereka membangun kerja sama dengan ’para pendosa’ yang sudah menancapkan akar mereka di badannya masing-masing?

Lihatlah, di luar sana begitu banyak ’luka’ besar yang menyebar. Namun, yang bisa ’disembuhkan’ hanya ’luka-luka’ kecil saja. Sedang yang tidak sanggup disembuhkan, hanya diberi ’pengobatan’ seadanya. Dan pada saat seperti ini, pengadilan pun ikut membusuk bersama ’luka-luka’ besar tadi.

Sungguh lucu sekali, para pemimpin busuk! Otak kalian yang egois pasti tak pernah berpikir kalau teroris revolusi setingkat lebih mulia dari kalian yang terus menyiksa warga secara fisik maupun batin! Yah, bukankah kalian melihat warga sebagai pion untuk menggapai keuntungan pribadi?

Dan karena itulah, yang tak bersalah pun harus dikorbankan demi intrik dan keuntungan kalian.

Termasuk, aku juga

”Aha..haha...” tawaku sudah mulai terhenti. Mengingat segala yang kupikirkan, tawa ini sekarang lebih terdengar seperti desperate laugh. Aliran napasku kunormalkan. Aku pun melihat tanganku yang kubuka lebar

Dan, demi mengubah segalanya dengan tangan ini, aku membiarkan penjagaanku menurun dan malah membawaku kembali ke tempat yang bisa membuatku makin melihat kebusukan, penjara

”Sudah puas tertawanya?” tanya wanita yang duduk di hadapanku. Diluar dugaan, wajahnya terlihat tenang dengan sebuah senyuman kecil yang bisa terlihat dengan cukup mudah. ”Ya” jawabku singkat. Aku pun mempersiapkan tanganku untuk membunuh mereka, hingga...

”Kalau begitu, bagaimana kalau kau menerima tanda pengenal pekerja kami dulu?”

”hah?” aku terbengong-bengong dengan kalimatnya barusang. Nadanya... seakan nama ’Rhieve Zalther’ tidak berarti banyak dalam list kriminal. Nadanya begitu carefree, malah terkesan senang. Seriously, what the hell is going on here?!

“Kenapa bengong? Bukannya kamu bilang kamu mau bergabung? Dan berhubung kamu pengangguran, sekalian saja kami jadikan tenaga kerja disini. Maaf tidak memberi tahu lebih dulu. Kalau keberatan, silakan tolak” kata Nona Chris dengan sikap yang sangat ’biasa’.

Aku memegangi kepalaku yang terasa pusing. Apa tadi aku salah mendengarnya menyebut namaku? Ah, tapi lebih baik sekarang aku tidak mengabaikannya sebelum keadaan memburuk. ”Sa—saya tidak keberatan sama sekali, kok! Keeg—ma, maksud saya, keputusan anda sangat membantu saya!” oh, great... kata-kata yang terbata-bata plus nyaris keceplosan.

Dia pun membalas dengan sebuah senyuman puas ”Baguslah kalau begitu, Rhieve Zalther”.

Dia bilang ’Rhieve Zalther’ lagi!!

Aku nggak salah dengar kalau begitu, tapi…

”Tunggu, apa maksud anda dengan ’Rhieve Zalther’?” tanyaku dengan wajah yang kubuat senormal mungkin. Aku tidak boleh meunjukkan kecurigaan disini.

”Itu namamu, kan? Aku punya fotonya, kok. Cuma, rambutmu sekarang sudah dipotong” kawab Nona Ch—eh?! ’Punya fotonya’?!

”Aku juga sudah melakukan beberapa penyelidikan, dan statusmu sebagai imigran gelap pun terkuak. Kalau begini, tidak ada kesalahan lagi, kan?” perkataan Nona Chris bisa dibilang memojokkanku, terutama karena dia tidak memberi tahu sejauh apa penyelidikannya. Sekalipun aku berkalit dengan mengatakan ’dia saudara kembarku yang dipisah sejak kecil’ juga... itu sebuah alasan yang sangat bodoh.

”Sudah, akui saja. Kami juga menerima orang-orang berstatus kriminal, kok” kalimat yang diutarakan Nona Chris barusan... nyaris saja membuatku jawdrop. ”Bukannya ’Messiah’ itu melawan kebusukan? Kenapa malah merekrut kriminal?!” aku mulai bertanya dengan lebih blunt. Tampaknya, otakku sudah mulai menumpul selama berada disini, plus impact yang baru kuterima.

Nona Chris menjawab pertanyaanku, ”Kebanyakan bergabung dengan keinginannya sendiri. Hanya segelintir yang kami rekrut secara khusus. Dan lagi, kau pasti tahu kalau ’orang-orang berstatus kriminal’ dan ’kriminal’ memiliki makna yang berbeda”. Aku tahu, tapi... tunggu, bukankah pola pikir ini cocok untuk mereka? Pola pikir untuk menegakkan sebuah ’kebenaran’ dan ’keadilan’.

”Dan, bisa dibilang kasusmu masuk dalam ’perekrutan khusus’, terutama karena kami tahu kau tidak bersalah” lanjutan kalimatnya membuatku refleks berlari kearahnya dan membantingkan kedua telapak tanganku ke mejanya. ”Kau tahu sesuatu soal kasusku?!” seruku dengan balutan berbagai macam emosi. ”Sayangnya, yang kami tahu hanya sebatas ’kau tidak bersalah’. Dan kalaupun kau bersalah, tampaknya kamu sudah sadar” jawabannya membuatku agak down. Aku sudah terlalu berharap, tampaknya.

”Dan kami membutuhkan kemampuanmu. Sebagai anggota CIA muda, kemampuanmu akan sangat kami butuhkan” katanya lagi. ”Tapi, kemampuanku tampaknya sudah menumpul selama setahun aku berada disini...” kataku dengan nada yang agak... aku agak sulit menjelaskannya. ”Tidak apa. Asal otak dan skill bertarungmu masih ada, kau bisa tetap menjadi seorang ’passer’ ” jawabnya.

Baiklah... sekarang apa yang harus kulakukan. Keheningan ruangan tidak terlalu membantu dalam berpikir. Apa aku harus mempercayai mereka? Apa ada jaminan atas semua perkataannya barusan?

”Nah, sekarang, gimana kalau kamu ambil tanda pengenalmu dulu?” tawar Nona Chris. Tunggu... TADI AKU SUDAH BILANG MAU BERGABUNG. Kalau tidak terlalu menarik perhatian, aku pasti sudah menepuk keningku dari tadi. Eh, tunggu... kalau aku menolak juga...

Mereka sudah membocorkan informasi rahasia mereka?!

Berarti, kalau menolak aku bakal dibunuh, dong!! Aku belum tahu kekuatan lawan, dan sudah jelas aku kalah jumlah! Dan, kalau mereka bisa tahu aku nggak bersalah... artinya mereka sudah cukup luas!! Jangan-jangan, di cabang luar negeri mereka juga...

Kalau sudah begini, sih...

”...Baiklah, dimana tanda pengenalku?” ya, satu-satunya cara hanyalah mengalir dengan keadaan. Aku juga sudah terlanjur bilang mau bergabung, sih. Lagipula, kalaupun aku nantinya akan diserahkan juga, bukannya lebih baik mencoba hidup lebih lama dulu? Dan selama itu, aku bisa sedikit membantu negara ini...mungkin...

Aku melihatnya membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kotak berornamen yang jelas terlalu mewah untuk sebuah kartu tanda pengenal. Dan saat dia membukanya di hadapanku, ada satu pertanyaan yang timbul di otakku.

Apa dia salah ambil kotak?

“Ini tanda pengenalmu, ambillah” katanya. Tapi... ini benda padat berbentuk bola kecil berwarna merah ruby, kan? Apa ini batu hias kesayangannya? ”Nona, anda belum menjelaskan soal tanda pengenalnya, kan?” kata Namia –dan kalau dari reaksi ekspresional Nona Chris—untuk mengingatkan Nona Chris.

”Oh, iya. Sebagai ’Judgement Passer’, inilah tanda pengenalmu. Orb berisi data diri secukupnya dengan sensor pengenal. Dengan ini, saat kau menerima tugas, kau bisa memastikan apakah orang yang memberimu tugas adalah ‘Hermes’ atau bukan” jelas Nona Chris padaku. Ternyata, teknologi mereka maju juga. Tapi, kalau aku (yang miskin ini) harus membawa ini selama kerja, apa nggak terlalu mencolok?

“Maaf, apa ada bentuk yang lain? Rasanya ini akan terlalu mencolok untukku” kuutarakan saja langsung padanya. Tak ada gunanya juga terus disimpan. ”Ya, aku juga sudah mengira begitu. Karena itu, aku sudah meminta agar tanda pengenalmu dilebur” EH?!

”Dan menjadi ini” katanya sambil mengangkat sebuah dog tag berukiran dan berwarna merah ruby. ”Fungsi masih sama dan utuh. Tenang saja” lanjutnya. Aku menghela napas lega.

Jujur, sebenarnya, aku ingin bisa menjadi ’passer’. Tapi, membunuh orang bisa membawa keluargaku dalam masalah. Inilah dilema yang kuhadapi. Dan sekarang, kelihatannya aku harus berusaha agar mereka tidak terseret masalah.

”Kau bisa mulai bekerja besok. Bawa dog tag ini dan juga kartu ini” katanya sambil menyerahkan jedua benda itu padaku. ”Dog tag ini untuk tanda pengenal ’Messiah’, sedangkan kartu untuk tanda pengenal ’pekerja PT Farran’. Ada yang mau ditanyakan?” oh, kelihatannya penjelasan pembukanya sudah selesai.

”Oh, iya. Saya dipekerjakan sebagai apa?” tanyaku. ”Supaya nggak mencolok, kamu kuangkat sebagai cleaning service” katanya. CIA pelarian menjadi cleaning service? Hmm... rasanya tidak cocok, tapi juga cocok.

”... Merangkap OB juga boleh” katanya dengan wajah berpikir. Entah kenapa, rasanya kalimat terakhirnya berasal dari keputusannya sendiri. ”Sepertinya kita lihat nanti saja” jawabku sambil menghela napas. ”Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau kau perkenalkan dirimu ke tim-mu?” katanya lagi.

”Eh? ’passer’ menjalankan tugasnya dengan berkelompok?” tanyaku. ”Kadang. Tapi biasanya kelompoknya ditentukan sesuai keadaan. ’Tim’ yang kumaksud itu divisi kerjamu sebagai ’pekerja PT Farran’, Rafi” jawabnya, dan sekarang dia memanggilku dengan nama samaranku. ”Yang tahu identitasmu hanya orang-orang tertentu saja. Lebih baik jangan memberi tahu siapapun soal identitasmu yang asli” sarannya.

”Kenapa?” tanyaku. Bukankah ada kriminal juga disini? Atau, ’kriminalitas’-ku terlalu besar dan bisa membuat kekacauan? ”Nanti, kalau semuanya pada ribut, takutnya bocor ke luar” jawab Nona Chris.

Aku mendengar suara tawa kecil, yang ternyata bersumber dari Namia yang sudah normal, kelihatannya. ”Maksudnya takut bocor keluar dan nanti jadi merepotkan anda, kan?” perkataan Namia barusan sepertinya telah meng-ekspos sedikit kekurangan Nona Chris, dan bisa sedikit melunturkan rasa kagum pada Nona Chris. ”Diam, Namia... kau antar saja dia ke ruangannya” kata Nona Chris yang terlihat agak terganggu.

”Ufufu... Baiklah, ikuti aku, Rafi” katanya sambil tertawa kecil. Setelah mengucapkan salam, Namia mengantarku ke ruanganku. Aku sedang menghapal jalannya, hingga tiba-tiba...

’tap’

”Eh?” aku berpaling ke arah sumber bunyi. Dan rasanya, aku melihat seorang gadis berbaju putih sedang berlari di persimpangan yang baru kami lewati. Wajahnya tidak dapat kulihat, tapi postur tubuhnya... juga rambut pirangnya yang melambai lembut diterpa angin...

Jangan-jangan dia...

”Ada apa, Rafi?” tanya Namia padaku yang masih terpaku pada persimpangan tadi. Gadis itu sudah tidak ada. Dia pasti sudah berlari cukup jauh sekarang. ”...tidak, bukan apa-apa” jawabku. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ruangan yang akan sering kudatangi.

Apa yang kupikirkan? Mana mungkin dia ada disini, kan?
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Tue Sep 07, 2010 10:52 am

Aku menelan ludah. Otakku terus bekerja, memikirkan apa yang harus kukatakan dan kulakukan ketika memasuki ruangan di depanku. Yang pasti, aku tidak boleh menciptakan impresi buruk di hari pertama!

Aku menggenggam kenop pintu. Dan ketika aku baru saja hendak membuka pintu tersebut…

“AAAAAAAAAAAAAAAAAKH!!”

Seseorang dari dalam menjerit?!

Aku pun segera membuka pintu tersebut. Kuharap semuanya baik-baik saja... Sungguh, aku berpikir begitu. Dan di dalam, aku tidak melihat apapun yang mengindikasikan bahaya atau sejenisnya. Melainkan...

”AAAAAAARGH!! DOWNLOAD-AN KUUUUUU!!”

”STREAMINGNYA BERHENTI!! AAAAAAKH!!”

Aku melihat keadaan yang bisa dibilang kacau. Di sini ada banyak game dan konsol berserakan, seorang pria 20-an yang sedang memainkan game perang, dua orang yang sepertinya masih berumur belasan yang merupakan sumber teriakan, komik-komik berserakan, dan sama halnya dengan bungkus makanan dan kaleng minuman.

Ini... tempat apa?!
Ini sama berantakannya dengan puing helikopter yang tertembak rudal!!


”Padahal tinggal sedikit lagi, sialan!!” seru seorang perempuan berkuncir dua yang baru saja berteriak di depan layar komputer. ”Aaaaah!! Albumnyaaaa!!” laki-laki yang ada di sampingnya memegang kepalanya sambil berteriak dengan stress-nya. ”Dieeem!! Gue nggak konsen nge-aim musuhnya, nih!!” seru pria yang paling tua, yang sedang sibuk memainkan XBOX 360.

”...hah?” aku terbengong. Tempat ini... sama sekali tidak mencerminkan sebuah ruangan yang dihuni para janitor. Selain karena kotornya ruangan ini (padahal mereka mem-provide sebuah cleaning service, kan?), juga karena 3 orang anggotanya sibuk dengan alat elektronik yang menyerang mata mereka dengan serangan radiasi.

Apa... Namia salah tempat?

Aku menoleh ke arah Namia, hendak memastikan terkaanku. Tapi, saat aku melihatnya, auranya agak berbeda. Badannya gemetar, tapi dia tersenyum. Yah, bukan senyum bahagia, sih...

”Kalian....” kata Namia dengan suara yang rendah dan mengerikan

”Hii!” dua orang yang tadinya tidak berhenti mengutuk koneksi internet tampak kaget mendengar pangilan Namia. Dengan perlahan, dan ketakutan yang terpancar jelas di wajah mereka, mereka menoleh ke Namia. Keringat dingin dan wajah pucat, dua hal yang menggambarkan kedua orang itu.

”Jadi... ini kerjaan kalian?!” seru Namia marah sambil menerjang mereka berdua, dan mengguncang-guncang kerah seragam keduanya dengan kedua tangannya. ”Aaaaa!! Maaf!! Maafkan kamiii!!” pinta laki-laki yang tampak makin pucat akibat guncangan hebat pada kepalanya. ”Nami-chan, ampuuun!!” sekarang, giliran si perempuan yang meminta belas kasih Namia yang sudah berganti sisi.

”AAARGH!! Berisik!! Bisa diem nggak sih?! Chara gue mati, nih!!” seru pria yang kira-kira berumur 20-an tahun yang tadinya sedang sibuk dengan controller XBOX 360. ”Haah? Mau protes?!” Namia memasang tampang kesal yang agak mengerikan. ”Iya! Gue protes karena gue nggak salah tapi ketiban sialnya juga!” balas si gamer tidak mau kalah.

Aku memerhatikan keadaan ruangan ini yang... hancur, dalam arti luas. Rasanya aku diabaikan, ya? Yah, mungkin lebih baik aku mencoba mengalihkan perhatian mereka padaku agar keadaan lebih tenang.

”A... anu...”

Oke, panggilan pertama. Dan tak ada satupun yang kelihatannya mendengarku. Mereka masih sibuk dengan perdebatan mereka yang di mataku terlihat sangat tidak penting.

”Kau lengah!” laki-laki itu menarik tangan Namia yang sedang mencengkeram kerah bajunya, lalu mengarahkan sebuah pukulan ke arah wajah Namia. ”Cih!” Namia menghindar dengan selisih jarak yang cukup tipis. Saat itu dimanfaatkan gadis berkuncir dua untuk melancarkan sebuah pukulan susulan.

”Heiits!!” Si gadis memukul, tapi lengannya berhasil ditahan Namia dengan lengannya yang satu lagi, sehingga laki-laki yang dicengkeram Namia bisa terbebas. ”Guh...!!” si gadis berusaha membebaskan kedua tangannya, tapi cengkeraman Namia sukses mencegahnya. Mereka tidak bergerak sedikitpun, hanya tangan mereka tampak gemetar karena saling berlawanan tujuan.

”Yosh! Saatnya bantuan datang!”

’buk!’

”Kh...!”

laki-laki itu memukulkan sebuah mug ke arah tangan Namia yang mencengkeram pergelangan tangan gadis berkuncir dua. Pukulannya tampak cukup keras, sampai cengkeraman Namia terlepas dan punggung tangannya sedikit berdarah.

Si gadis berkuncir dua berhasil lolos sepenuhnya dari Namia saat perhatian Namia terpusat pada laki-laki yang menyerangnya barusan dan tangannya yang berdarah. Si gadis itu pun menoleh ke arah penyelamatnya dan berkata, ”Ehehe~ sankyuu!”. ”Yah, kalau mau berterima kasih... gimana kalau kamu gantikan aku menghadap nona Chris saja?” balas laki-laki tadi.

”Hah?! Ogah!” tolak si gadis dengan cepat. Mereka pun malah berdebat sendiri. Sementara Namia juga me-recover dengan cepat. Dan saat Namia bersiap untuk sekali lagi menghajar duo itu...

’Bletak!!’

”Aduh!” Namia mengaduh kesakitan saat kepalanya digetok sebuah NDS oleh pria gamer yang tampak sangat murka. ”Gara-gara kalian...” dia mengatakan kalimatnya dengan aura membunuh yang cukup kental, membuat kedua temannya bergidik. Namia sedikit mengintip ke belakan pria itu.

Penasaran, aku pun ikut melihat ke arah Namia mengintip. Aku melihat sebuah TV dengan layar berwarna hitam. Dan, terpampang sebuah tulisan disana. Sebuah tulisan ”GAME OVER”.

”ITU UDAH NYARIS MENANG LAWAN LAST BOSS!!” seru sang pria dengan amarah yang amat sangat. ”Padahal hit point nya tinggal setengah senti lagi!!” serunya lagi. ”Siapa peduli!” balas Namia lantang. ”Lagipula, kenapa kalian nggak kerja?!”.

”Ka... kami baru mau kerja...” kata laki-laki dan gadis tadi berbarengan. Saat aku melihat mereka lagi, mereka sudah menjauh beberapa meter dari Namia dan pria gamer yang sedang berdebat. ”Jangan bohong! Jam kerja kalian kan mulai pagi dan istirahat jam 11!! Sekarang baru jam 10.37!!” seru Namia galak pada duo yang makin ketakutan itu.

Semakin melihat mereka, rasanya aku makin terasing...

Apa aku perlu memecah suasana yang sudah terbagi dua ini?

”A... anu...” Sekali lagi, aku mencoba memecah suasana dengan panggilan yang sama persis. ”Eh?” oh, dua orang itu melihat kearahku. Akhirnya mereka sadar juga kalau aku ada disini.

Member baru, ya?” tanya laki-laki itu, masih di tempat mereka semula. Kurasa, aku tahu alasannya tidak menggerakkan kakinya. Atau, lebih tepat kalau kukatakan dia tidak bisa menggerakkan kakinya.

”Begitulah” jawabku singkat. Mereka berdua saling pandang, lalu mendiskusikan sesuatu sambil berbisik-bisik. Entah kenapa, firasatku tidak enak...

”Kalau begitu, bagaimana kalau kau hentikan mereka dulu? Perkenalan tidak akan bisa dimulai kalau mereka terus ribut” kata gadis itu dengan agak ketakutan. Aku menghela napas, lalu melangkahkan kakiku melewati barang-barang yang berserakan, menuju ke tempat mereka berdua.

Aku pun mencoba untuk mengeluarkan sebuah kalimat yang berpotensi untuk membuat keadaan menjadi normal. ”Bisaka—Waaaa!!” tampaknya, usahaku melerai mereka tidak diberi tanggapan positif. Belum aku bicara satu kata, pria gamer dan Namia melempariku dengan barang terdekat dari posisi mereka sekarang. Aku menangkap kedua barang itu, sekeping CD dan sebuah NDS.

”Lho? Sejak kapan Rafi ada disitu?” tanya Namia, yang tampaknya sudah kembali normal. ”Ah, baru saja. Tadi, aku disuruh mereka berdua melerai kalian” jawabku sambil menunjuk kedua orang itu. Aku cukup yakin, sebutir keringat singin mengalir di wajahku. ”Namia, siapa dia?” tanya si pria gamer pada Namia.

”Oh, iya! Tadi aku mau memperkenalkan dia pada kalian, tapi malah jadi teralih. Maaf, ya” kata Namia, tak lupa meminta maaf padaku. ”Ini anggota baru kita, Rafi Aditya... siapa?” tanya Namia. Aku menghela napas, ”cukup panggil Rafi saja” kataku dengan nada yang agak pasrah.

”Hee... 'passer', ya?” tanya si gadis berkuncir dua sambil berjalan mendekatiku. ”Iya” Namia mengangguk. ”Nggak apa-apa dia disini? Kamu tahu kan kita kayak gimana” si laki-laki berjalan mendekati Namia, dia tampak ragu dengan keputusan Nona Chris.

”Mungkin, Nona Chris sengaja memasukkannya ke sini agar kalian bisa benar-benar BEKERJA?” terka Namia dengan penekanan pada kata terakhir. ”Eeerh... masuk akal...”

Keadaan sudah mulai mencair. Mungkin sudah saatnya aku mengetahui identitas mereka. ”Kalau boleh tahu, kalian ini...”

”Oh, kita belum memperkenalkan diri, ya? Panggil saja aku Ardi!” kata laki-laki itu. ”Aku Renata. Yo—maksudku, salam kenal” gadis twintail memperkenalkan dirinya. Entah apa yang ingin dia katakan tadi...

”Gue Galuh, ketua tim ini” kata si pria memperkenalkan diri. “Jangan ganggu aku pas lagi main, itu udah perintah Chris” lanjutnya. Wow... Nona Chris bisa memberi perintah seperti itu, ya... eh, tunggu dulu!

“Ketua memanggilnya ‘Chris’ saja?!” tanyaku dengan agak kaget. ”Apa salahnya? Kedudukan yang lebih tinggi bukan berarti perlu dikasih embel-embel, kan?” dia balas bertanya. Dia betul, sih...tapi tetap saja rasanya aneh kalau bawahan memanggil atasannya seperti itu.

”Kalau kami biasa memanggilnya ’Albino Kaichou’. Kalau mau, kau juga boleh memanggilnya begitu” tawar Ardi padaku. ”... Tidak, terima kasih” jawabku dengan diselingi sebuah pause pendek. ”Rafi memangil Nona Chris dengan ’Nona’ juga ya?” tanya Namia. ”Itu sih... kukira keharusan” kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

”Kalau begitu, coba cari panggilan lain. Hampir semua orang punya panggilan sendiri buat Albi-chou, soalnya” kata Renata. “Albi-chou?” aku menaikkan alisku. “Singkatan Albino kaichou” jawab Ardi menggantikan Renata.

“Yah, sudahlah. Akan kupikirkan nanti. Sekarang, mungkin lebih baik kita kembali ke jalur awal” saranku

”Jalur awal? Oh, pengetahuan umum untuk anggota baru!” seru Ardi riang dengan bahasa yang cukup aneh, menurutku. ”Yak, silakan, leader!!” kata Renata riang sambil menepuk punggung Galuh. ”Tolong jangan bicara yang aneh-aneh” Namia memperingatkan Galuh. Mungkin, dia tipe yang suka memberontak atasan?

”Oke, gampangnya, ini salah satu divisi pembersih gedung. Kita ada di section 5 gedung timur, yang bertugas mengurus kebersihan lantai lima. Walau kadang, kita juga mengerjakan tugas OB kalau dompet lagi tipis” jelas Galuh dengan normal, walau kalimatnya jelas mengatakan sesuatu yang kurang normal.

”Salah kalian, seenaknya menipiskan dompet sampai harus kerja ganda begitu” tanggap Namia sambil menghela napas. ”Kalau begitu terus, nanti akan kulaporkan pada Nona Chris kalau kalian hanya bekerja seperlunya dan menghabiskan waktu kalian dengan bemain-main dengan fasilitas yang sudah diberikan, atau dengan kata lain, penyalahgunaan fasilitas”. ”JANGAN!!” seru Renata dan Ardi berbarengan dengan nada ketakutan dan cemas.

Tampaknya, level ketergantungan mereka pada alat elektronik penghibur sangat tinggi

”Hei, memangnya kau sudah lupa apa yang dia bilang waktu ngasih kita PS2 dulu?” tanya Galuh pada Namia. ”Tentu saja idak. Tapi, ini berlawanan dengan yang dia harapkan”

Sekarang aku jadi penasaran, kenapa Nona Chris memberi mereka fasilitas yang membuat mereka malas dan jelas tidak cocok untuk profesi mereka? Ah, apa gunanya aku bertanya pada diriku sendiri... Lebih baik, aku tanyakan pada orang yang mungkin tahu jawabannya.

”Kalau aku boleh tahu, untuk apa konsol game ada di ruangan para janitor?” tanyaku pada mereka. ”Oh, soalnya, ini guru kita!” jawab Renata dengan antusias. ”Guru? Apa ada yang membuat game edukasi disini?” tanyaku lagi. Mungkin saja, mereka adalah anak-anak yang putus sekolah, sehingga Nona Chris memberi mereka bererapa buah software edukasi agar mereka bisa terus belajar dengan bebas

Pikiran itu langsung kubuang jauh-jauh begitu ingatan tentang “download-an”, “streaming”, dan "meng-aim musuh” muncul ke permukaan

”Jadi, karena saat bergabung masih amatir dalam bertarung, kita disuruh belajar seni bertarung dan membunuh dari game, anime, manga, dan referensi lainnya. Dan, cara itu sangat ampuh!” jelas Ardi dengan nada promosi. ”Oh, jadi begitu...” tanggapku, kehabisan kata-kata. ”Lalu , kenapa kalian main?” tanya Namia dengan aura yang menggelap, pertanda sisi lainnya akan berganti dengan Namia yang normal.

”Gue nggak salah. Main First Person Shooting kan diitung latihan” jawab Galuh santai. ”Aku streaming anime bantai-bantaian, loh! Cek history[i/]nya kalau nggak percaya!” Renata melindungi diri.

”Nah, kalau Ardi~?” Namia memalingkan wajahnya yang sudah berubah ke arah Ardi yang wajahnya memucat dan terus meneteskan keringat dingin. ”A... aku juga ikut nonton, kok!” Ardi tampak berusaha membela diri, walau firasatku mengatakan usahanya akan sia-sia. ”Tapi, kamu [i]download
album, kan?” kata Renata. ”Penjualan teman!!” seru Ardi kaget mendengar ucapan Renata,

”Tapi, kalau kalian sedang ’berlatih’, berarti lantai lima sudah bersih, dong? Waah! Padahal masih siang!” seru Namia dengan wajah riang. Aku tahu, pasti maksudnya menyindir.

Sindiran Namia mengeluarkan hasil. Mereka bertiga tampak bereaksi saat mendengarnya, dan gerak-gerik mereka menunjukkan kalau mereka belum bekerja sama sekali. Namia menghela napas, ”Sudah kuduga... nanti akan kuajukan pada Nona Chris untuk membatasi konsumsi lisktrik dari ruangan ini”

”JANGAAAAAAAN!!” Ardi dan Renata memohon sambil berlutut di depan Namia. Dan dari mata mereka... air mata? Mereka menangis karena tidak bisa menyentuh komputer?! Anak Indonesia jaman sekarang ternyata seperti ini, ya?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil meletakkan tanganku di kening karena pikiranku sendiri. Untungnya, tak ada yang memperhatikan tindakanku.

”Ya sudah. Kalau begitu, aku permisi dulu” Namia tampaknya sudah selesai berunding(?) dengan mereka bertiga. ”Lalu, berhubung ada anggota baru, kalian harus menjadi ’pembimbing’, dan bukannya ’orang yang dibimbing’. Sekian”

Namia melangkah keluar ruangan, meninggalkanku bersama mereka bertiga di dalam ruangan janitor. Rasanya... agak aneh berada di antara mereka. Dunia mereka terasa begitu berbeda. Aku jadi canggung untuk memasukinya.

”Sekali lagi, selamat datang!” seru Renata tiba-tiba, hingga aku agak kaget. ”Maaf kalau kamu agak kesulitan dengan kami. Tapi, beginilah kami” tambah Ardi. ”A...ah, baiklah...” aku menjawab dengan nada ragu.

Mungkin tidak ada salahnya mencoba dulu. Kalau memang tidak cocok, aku pasti bisa meminta untuk bertukar divisi, kan? Jadi, untuk sekarang, aku akan berusaha berbaur dengan mereka. Semoga saja aku bisa berbaur dengan baik...

”Nah, sekarang, ayo kita perkenalkan gedung ini pada Rafi!” seru Ardi, diikuti seruan tanda setuju oleh Renata. Mereka tampak bersemangat. Mungkin karena mereka memang ingin alasan untuk tidak bekerja?

Aku tersenyum kecil, lalu membalas ajakan mereka. ”Terima kasih pertolongannya. Aku akan sangat membutuhkannya”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

’Tok tok’

”Masuk”

Namia membuka pintu ruangan Chris, Di dalamnya, Chris sedang mengerjakan beberapa paperwork di mejanya. ”Nona Chris, saya sudah kembali” sapa Namia sopan. ”Ya, aku bisa melihatnya”

Namia hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Chris. ”Dari dulu, anda selalu seperti itu, ya. Seperlunya melhat orang lain jika sedang tenggelam dalam tugas” kata Namia sambil tertawa kecil. ”Kenapa? Mau protes?” tanya Chris tanpa melihat Namia. Pikirannya sepenuhnya terpusat pada lembaran kertas dihadapannya

Namia tersenyum semakin lebar. Perlahan, dia melangkahkan kakinya menndekati meja Chris. ”Anda tahu kalau itu tidak mungkin, kan?” tanyanya. Chris melanjutkan pekerjaannya, ”kau mau mengatakan itu lagi?”. Namia menjawab. ”Ya. Sebagai keluarga yang bertugas untuk mengabdi pada keluarga anda, protes adalah hal yang dilarang”

Chris menghentikan pekerjaannya. Dia memutar kursinya sehingga dia menghadap ke depan Namia. ”Sudah kubilang, aku nggak suka didiskriminasi karena faktor darah. Kamu disini bukan sebagai pelayanku, tapi sebagai anggota ’Messiah’ atas kemauanmu sendiri”

”Yah, ketentuan keluarga itu wajib diikuti, bukan?” kata Namia lagi. ”Sudahlah, lupakan saja topik bodoh itu. Pikirkan topik lain” Chris kembali pada pekerjaannya, menyudahi pembicaraan mereka.

Namia menghela napas, lalu bertanya ”Kalau harus mengganti topik, saya ingin menanyakan bagaimana kabar Nona Renver”. ”Dia? Tadi dia lari ke kantorku, buru-buru pamit karena pesawatnya yang katanya di-delay ternyata nggak jadi didelay” jawab Chris. Chris mengangkat wajahnya dari kertas-kertas kerjanya, dan menyanggah dagunya dengan tangannya yang masih memegang sebuah pena.

”Anak itu... untung dia nggak ketemu Rafi, ya”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Thu Oct 07, 2010 11:59 am

“Nah, ayo kita mulai ‘New Member Socializing Tour ala Higashi no Fifth Section’ sekarang!!” seru Ardi bersemangat. Ah, apa ini kegiatan official yang punya nama? “Nama apaan, tuh?” Tanya Galuh. “Nama tur instan! Keren, kan?!” jawab Ardi dengan wajah berseri-seri. Ternyata ini memang bukan kegiatan official yang punya nama program, ya...

“Kalau tur, berarti ada jadwalnya, ya?” tanyaku dengan agak ragu. Bukan ragu karena takut ini saat yang tidak tepat untuk bicara atau ragu karena takut salah bicara, melainkan ragu karena aku meragukan keberadaan jadwal yang kumaksud.

“Nggak” jawab ketiganya dengan kompak dan singkat, sesuai dugaanku. Renata menyangga dagunya dengan jemarinya, “Hmm… apa dia kita bawa ke tempat paling penting dulu?”. “Maksudmu daerah keramatnya Ryou-Chan?” Tanya Ardi memastikan. Renata mengangguk “Ya. Itu tempat paling krusial disini, kan?”

“Oke. Kalau begitu, kita mulai dari sana. Sekalian makan siang” kata Galuh memutuskan nasib kami berempat untuk beberapa puluh menitu ke depan.”Setujuuu!” seru Ardi dan Renata kompak. Sedangkan aku… sulit bereaksi.

Baru saja Galuh hendak melangkahkan kakinya, Renata mengucapkan sesuatu, “Ah!”. Otomatis, Langkah Galuh pun terhenti.”Kenapa lagi?” tanyanya dengan nada malas.

“Krusial itu artinya apa, sih?”

Hening…
Chris memutar-mutar pena yang yang diapitnya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil memperhatikan selembar kertas yang ada dihadapannya. Diamatinya kertas itu dengan seksama, menelusuri tiap detailnya. “… Boleh juga…” gumamnya setelah selesai menganalisis kertas tersebut.

“Ada apa, Nona?” Tanya Namia yang sedang merapikan tumpukan kertas yang telah Chris tuntaskan. Dengan cepat, Chris mengambil kertas putih baru dan menggoreskan sesuatu diatasnya dengan penanya. Setelah selesai, dia menyerahkan kertas itu pada Namia.

“Berikan ini untuk Rafi. Kalau dia punya pertanyaan, kau jawab saja” perintah Chris dengan nada tenang namun tegas. Namia hanya tersenyum dan mengambil kertas itu. “Baiklah. Tapi mungkin ada baiknya kita biarkan dia berorientasi sebentar?” kata Namia, yang terdengar seperti sebuah kalimat Tanya.

“Berorientasi dengan tenang, maksudmu? Boleh saja” jawab Chris dengan segaris senyuman di wajahnya yang ditopang oleh tangannya. “Baiklah, kalau begitu, saya akan merapikan kertas-kertas ini sebentar lagi” kata Namia seraya melanjutkan pekerjaannya. “Jangan sampai tercampur, lho” Chris memperingatkan Namia, dan dibalas dengan sebuah senyuman yang mengatakan “Itu tidak akan terjadi, dan anda tahu itu”
“Oke, inilah dia! Kantin kesayangan kita semua!” kata Renata sambil melebarkan kedua tangannya. Aku mengamati kantin ini dengan seksama. Kantin ini cukup besar, dan sangat bersih (dengan warung di atas trotoar Jakarta–pemandangan sehari-harinya Rafi—sebagai tolok ukur perbandingan). Kursi panjang di sisi meja besar tertata rapi dalam jumlah banyak, begitu pula dengan food counter yang ada di sepanjang sisi kiri ruangan.

Beberapa orang tampak sudah mulai memesan makanan atau sekadar duduk-duduk sambil mengobrol santai di meja masing-masing. Sedangkan mereka bertiga mengajakku untuk memesan makanan di food counter. Mereka asyik memilih makan siang mereka, begitu pula halnya denganku, yang sedang mencari makanan yang menarik diantara banyaknya pilihan makanan yang sangat beragam. Mendadak, aku ingat sesuatu yang sangat penting.

Aku nggak punya uang!!

Dasar bodoh! Ingin rasanya aku membenturkan kepalaku ke dinding. Tapi niat itu kuurungkan, agar orang-orang tidak melihatku sebagai makhluk gila yang stres. Aku pun mendatangi mereka, yang kebetulan sedang mengantri di kasir untuk membayar pesanan mereka.

“Ma… Maaf, sepertinya aku tidak akan makan siang hari ini…” kataku pada mereka. “Kenapa? Nggak punya uang?” Tanya Galuh. “Yah, begitulah…” jawabku dengan sebuah senyuman yang agak dipaksakan. Mereka bertiga saling pandang, lalu Ardi berkata “Rule nomor 57 di section 5, Anak baru dapet hak buat ditraktir sampe pertama gajian”

“Eh?! Nggak usah repot-repot!” kataku canggung sambil memberikan isyarat menolak dengan kedua tanganku. “Tenang, itu peraturan kita. Jadi tenang saja! Semua anggota baru yang datang setelah peraturan itu dibuat pernah merasakannya, kok!” kata Renata sambil tersenyum.

“Ta—tapi…” walau harus kuakui, aku merasa lebih tenang setelah mendengarnya, tetap saja rasa canggung itu ada. “Sudah… ambil saja apapun yang kau mau dan bawa kesini. Asal jangan mahal-mahal, lho ya!” tambah Ardi. Rasanya tidak enak… mana aku belum menentukan pesananku, lagi…

“Cepat pilih dan kita bayar. Kita masih banyak kerjaan yang harus selesai hari ini juga” kata Galuh tegas. Kata-katanya berhasil membuatku merasa makin tidak enak dan memutuskan untuk menggerakkan kedua kakiku untuk mencari makanan. “Baiklah, akan kupilih dulu” kataku sebelum memutar badanku dan melanjutkan pencarian makan siangku.

Setelah aku melangkah menjauhi mereka, Renata mencolek bahu Ardi, ”Hei, memangnya peratuan kita ada 50 lebih, ya?” tanya Renata dengan mata tidak yakin. ”Nggak ngitung, tuh” jawab Ardi dengan ringannya. ”Terus, angka tadi apaan?” tanya Renata lagi. ”Sudah pasti angak random, kan? Tadinya malah mau kukasih ratusan, tapi nggak jadi” bener aja... dia ngasal.

Yah, sudahlah...

Aku menelusuri food counter yang cukup panjang dengan tangan menopang dagu. Mataku berusaha mencari makanan yang tidak mahal, namun mengenyangkan. Dan tentunya, itu harus cukup enak untuk bisa masuk ke dalam kerongkonganku. Hanya saja, variasi makanan yang terlalu beragam membuatku kesulitan membuat keputusan.

“Apa ada yang bisa saya bantu?”. Aku mendongakkan wajahku, melihat sesosok wanita berkerudung dan bercelemek yang ada di balik food counter. “Ah, saya sedang mencari makanan yang cukup mengenyangkan untuk makan siang yang harganya bisa dijangkau orang miskin. Apa ada?” tanyaku. Dan aku baru sadar aku telah memilih kata yang salah setelah beberapa saat.

“Ah, maaf! Pilihan kata saya memang sering aneh!” kataku untuk memperbaiki keadaan, yang mungkin tidak membaik sama sekali. Wanita itu menanggapinya dengan sebuah senyuman, lalu tertawa kecil. “Pilihan katamu kacau karena gugup, ya? Tidak perlu gugup begitu”

Yah, aku memang agak gugup tadi, mungkin karena auranya yang… sangat alim, mungkin? Lagipula, aku belum pernah melihat wanita berkerudung di tempat ini. “Mungkin nasi timbel cukup terjangkau?” tanyanya lagi. “Berapa harganya?” tanyaku.

“Satu porsinya hanya lima belas ribu rupiah” aku agak kaget mendengar jawabannya. Tapi, aku lebih kaget ketika mendengar Ardi berteriak, “Lebih murah dari komik, dong?!”. “Komik naik, sih… padahal sebelum naik harganya sama…” Renata menghela napas. Kalau begitu… ini sudah termasuk murah atau komiknya yang memang mahal?!

“Masih terlalu mahal? Bagaimana kalau mie ayam saja? Hanya delapan ribu rupiah satu porsinya” tawar wanita itu lagi. “HAAH?! Harga DVD sama game bajakan udah sama kayak mie ayam?! BBM sialan!!” seru Renata marah, dan aku kaget. Itu artinya, mereka sudah membuang banyak uang untuk “belajar” dari barang-barang yang seharga dengan makanan yang bisa mengenyangkan perut seorang miskin!!

“Erm… apa ada yang lebih murah lagi?” tanyaku. “Hmm… mau ketoprak? Satu porsinya hanya lima ribu rupiah” tawar wanita itu untuk yang kesekian kalinya. “Seharga CD-R sekeping, tuh…” kata Ardi pada Renata, yang sialnya terdengar olehku.

“Mungkin… ada yang lebih murah lagi?” Tanyaku lagi, mulai tidak enak pada wanita yang berusaha memberi solusi, tapi dihancurkan oleh Renata dan Ardi. “Paling mie instan. Tiga ribu rupiah per porsi” tawarnya lagi. Aku diam sebentar, menunggu apa lagi yang akan mereka berdua katakan.

Mereka tidak mengatakan apapun. Syukurlah... “Baiklah, tolong mie instan seporsi” kataku akhirnya memesan sesuatu. “Baiklah!” wanita itu menulis pesananku dan segera memberikan bonnya padaku. “Silakan bayar di kasir” katanya dengan sebuah senyuman hangat.

“Ah… terima kasih…” aku agak membungkukkan badanku, lalu pergi ke kasir. Wajah wanita itu tadi… benar-benar terlihat seperti orang yang sangat taat agama. Bersih, dalam arti luas.

Aku mempercepat langkahku. Perasaanku tidak enak berlama-lama menatapnya. Rasanya… dunia kami begitu berbeda. Dunia yang gelap, dimana manusia yang berdosa bernaung, dengan dunia yang terang, dimana manusia yang dekat dengan tuhan bertahta.

Sangat kontras.

Apa mungkin, mereka juga mengalami perasaan yang sama denganku? Mungkin lebih baik kutanya kalau kita sudah duduk di meja. Setelah memberikan bonku pada Galuh, dia membayar makananku dengan uang yang dipinjamnya dari Renata dan Ardi. Sepertinya aku telah menitipkan bonku pada orang yang salah…

“Maaf malah jadi merepotkan…” kataku sambil berjalan mengikuti mereka menuju meja. “Nggak apa-apa. Aku nggak bayar ini” kata Galuh cuek. “Nggak apa-apa, kan aku patungan sama Ardi, jadi Cuma bayar sepersepuluh harga komik sebelum naik!” jawab Renata, yang sukses membuatku ngeri dengan harga komik.

Kenapa, ya? Padahal dulu satu juta dolar pun rasanya masih cukup murah. Apa karena hidup di lingkungan miskin, rupiah yang kalah jauh dari dolar jadi terasa mahal? Atau karena hidupku dulu memungkinkanku memegang jutaan dolar tiap hari? Atau keduanya?

Ah, sudahlah. Kenapa aku mempersoalkan hal tidak penting seperti itu? Itu dibayar perusahaan demi mendukung perkembangan ‘passer’, kan?

Ardi segera mengambil tempat di meja yang berada tepat di depan jendela yang cukup besar. Galuh duduk di dekat jendela dan di sampingnya duduk Ardi yang tergeser dari tempat duduknya semula, yang merupakan tempat duduk Galuh sekarang. Renata segera mengamankan tempat di seberang Galuh agar tidak direbut Ardi yang ingin duduk di dekat jendela. Aku pun duduk di tempat yang tersisa, di samping kiri Renata sekaligus di depan Ardi.

“Tadi leader nggak ikut komentar harga, ya?” kata Renata memulai pembicaraan setelah menelan sesendok nasi goreng. “Dia pasti Cuma mau komentar soal harga game ps3, kan?” kata Ardi sambil tertawa kecil, tidak dengan makanan di mulutnya, tentunya. “Jelaslah! Harga satu gamenya aja 700 ribuan lebih!!” seru Galuh, yang sukses membuatku tersedak mie instan.

“Uhuk! Uhuk!” aku masih terbatuk-batuk setelah kerongkonganku tidak lagi tersumbat. 700 ribu lebih katanya?! Cuma buat satu game?! Memangnya bajakannya belum sampai sini?!

“Lihat! Kegilaan harganya sampe bikin Rafi keselek, kan?!” seru Galuh berapi-api, curhatan penuh amarah dari gamer yang sulit main game, ya… wajar sih kalau game ps3 dibatasi perusahaan karena mahal. Tapi katanya game-game untuk konsol next-gen lebih cenderung ke ps3, ya? Pantas saja dia sampai membara seperti itu…

“Sudahlah, kalau jam istirahat habis dan kita belum kerja, nanti harus siap jiwa dan raga buat amukan albi-chou atau bawahannya” kata Ardi setelah beberapa kali meniup makaroni yang dibelinya tadi. “Bener juga!” Renata segera menyambar nasi gorengnya dan memakannya secepat mungkin. Galuh kembali melanjutkan kegiatannya yang sebelumnya, menghabiskan dan mencerna roti buayanya. Untungnya, para juru roti Indonesia masih mau memproduksi roti buaya setelah para demonstran melindas roti-roti buaya mereka yang mereka buat dengan sepenuh hati dengan mobil, bahkan truk.

Sedangkan aku memakan mie instanku dalam kecepatan normal. Biasanya, 8 menit juga habis, beda dengan nasi atau makanan berat lainnya. Menurut kalkulasiku, mereka semua akan selesai makan dalam waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Waktu yang lebih dari cukup untuk menghabiskan makan siangku dan puas mi...

Oh, shit!! aku lupa pesen minuman dengan bodohnya!!

Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku, dan menundukkannya menghadap permukaan meja. Dasar bodoh... aku bener-bener nggak enak kalau harus minta uang buat beli minum. Uangku juga... Aaaaahh...!!

”Kenapa?” Renata tampaknya menyadari sikapku yang tidak terlihat wajar itu. ”Nggak apa-apa... Cuma ingat sesuatu...” elakku. Sudahlah... nanti juga aku bisa minum air keran di toilet. Kalau disini, pastilah airnya jauh lebih bersih dari kali di dekat rumah.

Aku pun menghabiskan mie instanku dengan kecepatan yang agak menurun. Setelah mereka selesai makan (dan menghabiskan minum mereka...), Galuh mengeluarkan selembar kertas seukuran A4 yang telah terlipat kecil. ”Sekarang, kita bagi-bagi tugas”

Kami bertiga terdiam saat Galuh membuka kertas itu. Tampaknya, itu adalah peta lantai lima bangunan ini. “Oke, gampangnya, kita bagi empat sama rata,” Galuh menggaris bagian tengah kertas secara horizontal dan vertikal. ”Ini daerah kerja kita... pas keadaan normal”

“ ‘Pada keadaan normal’?” aku menanyakannya dengan alis yang agak diangkat. ”Ya. Makanya...” Galuh membuat empat garis lagi di atas kertas. Pembagiannya kira-kira tiga bagian 20% dan satu bagian 40%. ”Ini daerah selama masa orientasi anggota baru”

Kemudian, Galuh pun melanjutkan penjelasannya, ”Jadi, buat ngeganti gaji para senior yang dipake junior buat makan, junior kudu ganti rugi dengan ngerjain 40% daerah kerja kita”. ”A--?!” Apa katanya?! Kerjaanku dua kali lipat mereka, hanya dengan bayaran mie instan?!

”Tapi, ada sedikit perubahan...” Galuh mengangkat pensilnya, dan memegang kedua ujungnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. ”Perubahan gimana?” Renata bertanya. mungkin agak keberatan karena Galuh mengganti peraturan seenaknya?

Galuh kembali membuat empat garis di atas kertas tadi. ”Karena Rafi Cuma pesen mie instan, dan ada orang yang bikin DS gue mati buat ngegetok Namia...” Ardi kelihatannya mulai merasakan firasat buruk. ”Kita bagi jadi, bagian gue 20%, Renata 20%, Rafi 25%, Ardi 35%. Setuju?”

”SETUJUUU!!”

”EEEEEKH?!?!”

Dua seruan tadi terdengar bersamaan. Tadinya, kupikir dia akan membaginya jadi 30-30, ternyata aku cukup beruntung hanya mendapat 25%. Apa DS-nya sudah tidak bisa nyala lagi? Pastinya, pesananku yang sangat murah dan tidak terlalu mengenyangkan itu tidak akan dimasukkan dalam hitungan pemberian keringanan oleh orang-orang ini.

”Oke, udah ditentuin” kata Galuh tiba-tiba. ”Haah?! Kok bisa?!” Ardi segera menyemburnya dengan ketidak-setujuan. ”Karena ada dua orang yang setuju, Renata sama gue” jawab Galuh dengan tenang. Rasanya agak sepihak, sih...

”Tunggu!! Kita belom denger pendapatnya Rafi!!” Radi menggebrak meja dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya menunjuk wajahku. ”Nah, katakan sesuatu!!”.

Aku terdiam sebentar melihat mereka. Ardi jelas mengharapkan bantuan. Sedangkan Renata dan Galuh jelas berharap hasil akhir polling ini akan menyiksa Ardi. Tak perlu membaca wajah mereka, semua terbaca jelas dari dialog-dialog barusan.

Sudahlah, kujawab sejujurnya saja...

”Ehh... aku sudah pasti lebih senang kalau kerjaanku diringankan...”. ”Okee!! Sudah diputuskan!!” Renata segera berteriak girang sebelum kalimatku selesai. ”Hei!! Aku kan udah ikut patungan bayar makan siangmu!!” Ardi balas membentakku. Pelampiasan kekalahan, tuh...

”A—aku sih nggak masalah kalau harus ngerjain 30%...” jawabku akhirnya. Ardi berhak mendapatkannya, dia sudah membayarkan separuh dari harga makananku. Kalau begini adil, kan? Yah, kukira dia akan bereaksi senang karena aku mencoba meringankan bebannya.

Kenyataannya, tak beda secara konteks. Tapi, beda jauh dari apa yang kupikirkan.

”Ternyata benar!! Hutang itu ancaman yang bagus!!” itulah sorakan kemenangan yang pertama dikumandangkan Ardi. Aku jadi agak menyesal membantunya. Aku menoleh ke arah Galuh dan Renata. Mereka sedang berdiskusi cukup serius, walau aku yakin isinya tidak jauh dari membebankan pekerjaan pada orang lain.

Tak lama kemudian, Galuh yang tampaknya sudah selesai berdiskusi dengan Renata mengumumkan keputusannya. ”Oke, gue udah ambil keputusan. Nggak ada yang boleh protes”. Aku menyadari ada sedikit perubahan ekspresi pada wajah Galuh. Kelihatannya akan ada sesuatu.

”Pembagiannya, Gue 20%, Renata 20%...” Ardi berkomat-kamit, berharap dia mendapat jatah lebih sedikit dari Renata dan Galuh.

”... Rafi 20%, Ardi 40%”

”APAAAA?!” Ardi jelas tidak puas dengan keputusan dua orang itu. ” Kenapa malah tambah banyak?!!” Serunya. ”Soalnya, tadi gue liat, save-an game DS gue ilang. Entah gara-gara digetok atau dilempar” Galuh memberi alasan yang kurang logis, menurutku.

”Nggak masuk akal!! Kan itu salahmu sendiri!!” Ardi berteriak kesal sambil menggebrak meja, sehingga gelasnya nyaris jatuh. ”Emangnya siapa yang bikin Namia ngamuk?” tanya Galuh balik. ”Kan waktu itu dia marah gara-gara aku sama Renata, bukan aku sendiri!!” Ardi membela diri.

”Tapi, akarnya kamu yang salah, kan?” kata Renata dengan kalemnya sambil menyanggah dagunya dengan tangan. ”Enak aja!!” Ardi menyanggah, dan tidak adanya pembelaan menunjukkan kalau dia sudah kehabisan kata-kata untuk membalas. ”Kalau nggak mau, mau gue yang lapor ke Chris?”

Bagaikan Harimau Sumatra yang populasinya menurun karena terus diburu olah para pemburu dengan obat super kuat, kalimat Galuh barusan dengan gemilang berhasil menghentikan deretan protes Ardi. Bahkan, daripada kesal, wajahnya lebih ke takut.

”Memangnya Nona Chris sekuat itu, ya?” tanyaku. ”Sangat” ketiganya menjawab bersamaan, kompak total. ”Dia salah satu dari tujuh top passer, sih...” lanjut Galuh dengan volume kecil. ”Tujuh top passer itu...” baru aku mau bertanya, Renata sudah menjawabku.

”Jadi, di ’Messiah’ kan ada banyak passer. Dan tujuh orang terkuat biasanya kta sebut dengan sebutan ‘top passer’. Memang nggak ada hak-hak khusus buat mereka secara official, sih... habisnya, itu emang murni julukan dan bukan pangkat” jelas Renata. ”Hee...” aku manggut-manggut mengerti. Tujuh orang terkuat, ya... pantas Ardi sampai diam total begitu.

”Nah, karena udah pada setuju, kita musti kerja sekarang” kata Galuh mengomando sambil mengembalikan nampannya yang cukup kotor dengan remah-remah roti. Kami bertiga pun melakukan hal yang sama. Di tengah jalan menuju ke food counter, suatu pertanyaan terlintas di otakku.

“Aku mau tanya, kenapa kita harus punya dua tanda pengenal?” tanyaku pada mereka bertiga. Mereka tampaknya mendengarku. Tapi, kenapa mereka malah celingukan?

”Oke, aman” kata Renata setelah puas celingukan. ”Ada apa?”. ”Soalnya, nggak semua orang disini anggota ’Messiah’” Ardi menjawab pertanyaanku. ”Dan, nggak semua anggota ’Messiah’ ada di sini” tambah Galuh.

”Jadi... mereka ada di mana-mana?” tanyaku. “ya, mereka bisa ada dimanapun sebagai apapun” jawab Galuh. “Makanya, jangan heran kalau ada orang-orang yang ‘mengejutkan’ waktu dapet tugas” saran Renata sambil menepuk punggungku. Aku tidak terlalu kaget, sebenarnya. Orang-orang CIA sudah biasa menyamar, walau mungkin untuk kasus ini, itu adalah status asli dan bukan penyamaran.

Tepat ketika obrolan kami berakhir, kami sampai di food counter. ”Sudah selesai?” wanita berkerudung itu menghampiri kami dan mengambil nampan-nampan yang kami pegang untuk dicuci. ”Tunggu, Ryou-chan!” Renata menghentikan langkah wanita itu dengan panggilannya. ”Kok rasanya kue susnya kurang dari biasanya? Padahal aku mau beli... tapi takut yang lain nggak kebagian”

Kue sus...?

”Oh, hari ini ada gadis dari cabang Inggris berkunjung kemari. Tadi dia beli banyak. Buat di jalan, katanya” jawaban wanita itu... apa dia gadis yang tadi kulihat?

”Apa dia gadis berambut pirang yang mengenakan dress putih?” tanyaku. ”Iya, temanmu?”. ”Ah, bukan. Tadi kebetulan aku melihatnya di jalan” jawabku jujur. ”Oh, kukira... habis aksenmu agak aneh, sih” katanya sambil tersenyum.

”Yah, aku tinggal di Amerika sejak kecil, jadi terbawa-bawa...” ucapku sambil menggaruk kepalaku dan menundukkan wajahku, tentu saja ada senyuman di wajahku. Penguasaan panggung, hal yang sangat lumrah di CIA. ”Wow...” Ardi dan Renata tampak takjub mendengarnya.

Semoga saja mereka tidak pernah dan tidak akan pernah bertemu dengan ibu atau Rina. Kalau sampai kebohonganku bertabrakan, bisa-bisa mereka mencurigaiku dan berujung identitasku ketahuan.

”Kenapa pindah ke Indonesia?” tanya Ardi. Aku berpikir cepat untuk membuat kebohongan baru, “Orang tuaku punya sedikit masalah keluarga disana, jadi aku dititipkan di rumah kerabat yang ada di Jakarta. Kebetulan, ibuku orang Indonesia”.

“Hee... lalu, bagaimana keadaan orang tuamu?”

!!

Aku menggenggam erat lengan kiriku, menahan memori-memori yang memaksa muncul ke permukaan. Menahan segala macam perasaan yang timbul. Dan tentunya, aku tidak boleh membuat mereka curiga atau bertanya lebih jauh.

“Sebetulnya... aku juga tidak tahu... mereka tidak menghubungiku sama sekali”. Dengan ekspresi sedih yang setengah buatan, aku berhasil mengelabui mereka. Mereka tidak lanjut bertanya. Aku pun segera mengubah wajahku ke ekspresi faint smile, ”Tapi, aku percaya mereka baik-baik saja disana”.

Hening. Tak sepatah kata pun terucap dari bibir mereka. Hingga, Galuh memecah keheningan, ”Udah jam setengah satu”. Renata dan Ardi menoleh ke arah jam dinding, dan mengeluarkan ekspresi kaget yang cukup luar biasa.

”AAAAAAAKH!!” Jerit mereka berdua. ”Ka—kalau begitu, saya permisi dulu” wanita berkerudung itu mengambil langkah untuk menjauhi kami, menuju dapur. Dari reaksi mereka, aku menebak kalau jam kerja mereka sudah datang.

”Jam kerja...” kata Galuh sambil menghela napas. ”Ah... aku masih belom mau kerja!!” kata Ardi dengan nada malas. ”Terus? Mau berurusan sama albi-chou? Tanya Renata pada Ardi, yang membuat Ardi kembali ke pose normal dari pose malasnya. Aku hanya bisa menanggapi scene ini dengan senyuman kecil.

Tiba-tiba, aku teringat niatku yang sebelumnya. ”Oh, iya. Wanita berkerudung disana itu siapa?” tanyaku. ”Ryo—” Ardi menghentikan ucapannya, sadar kalau aku harus lebih dulu mengetahui nama-nama asli. ”Maksudku, dia Bu Aisyah, yang kadang kita panggil Ryou-chan, dari kata ryouri. Dia head chef disini, yang otomatis bikin dapur dan kantin jadi tempat keramatnya”.

Aku manggut-manggut mengerti. Selang beberapa detik, Renata menimpali, ”Dia juga anggota ’Messiah’, lho... jangan bikin dia marah di dapur”. “Oke...” aku akan berusaha mengikuti nasihat bijakmu, Renata... Karena kemarahan orang alim patut dihindari dan dicegah, common sense yang patut diingat.

”Kalau dia udah di tempat keramatnya, dapur, kekuatannya mendekati top 7. Apalagi kalau dia udah ngamuk, bisa setingkat, tuh” Galuh menambah informasi untuk otakku. ”Malah, katanya ada anggota yang nyaris mati karena bikin ryou-chan ngamuk. Waktu diselamatkan, tulang-tulangnya patah, bersimbah darah, pisau-pisau dapur nancep, pecahan pisau nancep-nancep di kulit, belom lagi garpu—”

”Cukup. Aku sudah bisa membayangkan betapa berbahayanya dia” kataku menghentikan kalimat Ardi yang mulai terasa seperti usaha pemanjangan waktu istirahat. ”Nah, waktunya kerja” kata Galuh dengan smirk tipis, Renata tampak ceria, dan Ardi tampak down. Aku mengikuti mereka ke lantai lima sambil menahan haus yang mungkin bisa segera kuhilangkan dengan air keran, kalau memang boleh kuminum.

”Oke, sekarang kita langsung ambil alat-alat dan langsung kerja. Yang males urusannya ke atas” Galuh memberi komando singkat pada kami, dan kami pun langsung menuruti komandonya. Aku mengambil sebatang mop dan sebuah ember berisi air sabun, Renata mengambil sebuah kemoceng dan sapu, Galuh mengambil seperangkat pembersih kaca, sedangkan Ardi kedapatan membawa sapu, mop, dan ember. Agak kasihan, sih... walaupun kerjaan pertamaku lebih ringan berkat tindakan bodohnya.

Kami berselisih jalan ketika pergi meninggalkan ruang janitor. Aku terus melangkahkan kakiku ke bagian barat laut yang merupakan daerah kerjaku hari ini. Sudah cukup lama sejak aku menyamar menjadi janitor dulu. Kuharap, kemampuanku masih cukup baik untuk tidak mengacaukan hari pertamaku.

Mendadak, sesuatu terlintas di kepalaku

”Nanti aku minum air keran nggak, ya?”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Nov 06, 2010 12:48 am

Sudahlah, kenapa aku meributkan hal nggak penting begini? Lebih baik aku lihat keadaan nanti saja. Sekarang, aku harus konsentrasi menyelesaikan pekerjaanku.

Aku mulai menyiramkan sabun lantai ke atas lantai yang akan kubersihkan. Sebetulnya lantai di sini tidak bisa dibilang kotor (dengan WC umum Jakarta sebagai tolok ukur), tapi tetap saja masih perlu dibersihkan (untuk ukuran kantor elit Amerika). Aku menggenggam mop di tanganku untuk mulai membersihkan lantai. Aku tidak yakin genggamanku benar, tapi aku tidak peduli.

Ada hal lain dalam pikiranku.

Apa penerimaannya tidak terlalu mudah? Kalau begini agen pemerintah yang bisa menyusup ke dalam dengan mudah, kan? Harusnya, mereka sadar dan berusaha mengantisipasinya. Tapi, kenapa aku bisa diterima hanya karena aku mengatakan aku bersedia membunuh dengan berlandaskan kebencian?

Kurasa, entah sistem ”Messiah” masih terlalu rawan,

Atau sengaja disederhanakan agar orang-orang yang ingin masuk bisa bergabung,

Mungkin posisi mereka masih cukup aman di mata pemerintah, yang kemungkinan besar belum mengetahui keberadaan ”Messiah”. Tapi ini cukup beresiko, terutama kalau pemerintah mengetahui keberadaan ”Messiah” lebih dulu dari ”Messiah” mengetahui kalau pemerintah sudah mengendus keberadaan mereka. Apalagi kalau pemerintah sengaja merahasiakannya agar kita juga tidak mengetahuinya.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku setuju kalau posisi ”Messiah” yang belum pernah muncul di media bisa dibilang cukup aman. Apalagi dengan maraknya kasus teroris belakangan ini. Kalaupun polisi mencurigai adanya gerakan yang ingin menghabisi para petinggi, normalnya mereka menumpahkan kecurigaan pada kelompok teroris yang sudah lebih dulu muncul ke permukaan dan mempunyai tanda bahaya tinggi yang jelas.

Yang jadi masalah, “Messiah” berasal dari rakyat. Sebenci apapun mereka pada pemerintahan busuk, bukankah mereka bisa mengancam “Messiah” kalau mereka tidak punya kekuatan yang cukup dan kesediaan yang loyal? Seharusnya, sudah cukup banyak yang gagal dalam misi dan itu memperbesar kemungkinan tahunya polisi akan keberadaan “Messiah”. Walau begitu, kurasa para petinggi “Messiah” pun tidak akan asal memilih dan pasti mereka mengambil orang-orang yang berpotensi besar dan bisa dipercaya.

Artinya, pasti akan ada tes untuk menguji kesanggupanku.

”Yah, kurasa itu cukup masuk akal” gumamku sambil melihat lorong yang sudah bersih sepenuhnya. Aku pun melangkahkan kakiku untuk membersihkan lebih banyak bagian di daerah kerjaku, hingga seseorang tiba-tiba memanggilku dari belakang. ”Rafi...” aku kenal suara itu. Aku memutar badanku untuk melihat Namia membawa beberapa lembar kertas.

”Boleh kulihat dog tag-mu?” tanyanya sambil mengadahkan tangan. Aku pun mengeluarkan dog tag merah yang tergantung di leherku keluar. Namia memegang dog tag itu lalu mendekatkan cincin yang bersemayam di jari manisnya. Tampak cahaya berwarna merah keluar dari masing-masing benda, dan mereka saling men-scan satu sama lain.

Batu yang ada di cincin Namia mengeluarkan sedikit cahaya hijau, begitu pula dengan dog tag-ku. Dia melepas genggamannya sehingga aku bisa kembali menyembunyikan dog tag-ku. Sepertinya, cahaya hijau itu menandakan approval hasil scanning barusan.

”Selamat! Aku membawa misi untukmu, misimu yang pertama” kata Namia dengan senyuman yang... mungkin memang otakku saja yang menganggap senyumannya lebih seperti senyum bisnis agar para member baru tidak takut pada misi pertama mereka. Aku tidak mau membuang waku dengan mempersoalkan senyum bisnis, lebih baik kutanya saja langsung, ”boleh kulihat misinya?”. ”Kau ditugaskan untuk membunuh koruptor yang namanya belum terlalu terpublikasi” kata Namia sembari menyerahkan kertas-kertas itu. Aku melihat foto seorang bapak-bapak paruh baya lengkap dengan datanya.

”Namanya Stephanus Sugeng, koruptor yang mengkorupsi 5 milyar dari kas negara. Jabatannya sebagai anggota KPK membuatnya terdengar lebih busuk, kan?” kata Namia, yang tampaknya dark side-nya mulai ter-switch. ”Kasusnya tidak teralu mencolok karena dia hanya mengkorupsi sedikit, ya?” aku menerka. ”Ya, begitulah kurang lebih pikiran media yang selalu berusaha mencari perhatian” jawabnya.

”Kurasa dia mengkorupsi sesedikit itu karena selain mencari aman, uang yang dikorupsinya terkikis untuk menyuap jaksa, hakim, dan polisi agar posisinya aman” lanjut Namia. ”... dasar orang-orang busuk...” gumamku dengan nada geram. Jelas saja, bahkan nama ”keadilan” berhasil dikalahkan ketamakan manusia. Dan yang kita bicarakan adalah orang-orang dari daerah Yudikatif.

Benar-benar patut ditertawakan.

”Bagaimana pengamanan rumahnya?” aku menanyakan informasi yang paling kubutuhkan. Namia terdiam sebentar, ”... penjagaan tidak ketat. Hanya seorang satpam di gerbang rumahnya. Tidak ada CCTV atau alat penyadap”. ”Bukankah harusnya gajinya cukup besar untuk setidaknya menyewa dua satpam?” kataku sambil menaikkan alis.

”Mungkin dia merasa tidak membutuhkan satpam tambahan. Atau mungkin dompetnya terlalu tipis” jawab Namia sambil mengangkat kedua bahunya. ”Oh, uangnya habis karena kebanyakan foya-foya, ya?” tebakku sarkastik. ”Entah sudah berapa milyar yang dia habiskan untuk istrinya dan anak-anaknya yang tidak produktif”.

”Bukan Cuma itu, dia juga tiap akhir minggu menghabiskan uangnya untuk mabuk-mabukkan dan membayar wanita-wanita tuna susila. Belum baju-baju dan perhiasan-perhiasan istrinya, apalagi anak-anaknya juga pasti memnita barang-barang elektornik yang mahal. Kurasa dia memang mengorupsi terlalu sedikit untuk memuaskan hasratnya” penjelasan Namia memperjelas betapa busuknya target, apalagi dia anggota KPK!

Benar-benar lucu... seorang pemberantas korupsi ternyata adalah koruptor itu sendiri! Bukankah seharusnya mereka memberantas diri mereka sendiri?

Sayangnya, jika dikaitkan dengan egoisme manusia, kenyataan terdengar lebih masuk akal dari teori.

”Kau bisa bekerja pada malam hari ini. Para hermes telah menyelidiki waktu-waktu yang memungkinkan untuk ’bekerja’, dan hasil akhir penyelidikan adalah malam ini. Dia sedang ada di rumah sendirian, sedangkan anak-anak dan istrinya menginap di Puncak selama 2 hari. Ingat, jangan sampai mereka mengetahui keberadaanmu. Jangan tertangkap dan jangan sisakan jejak apapun, sebisa mungkin” Namia mengakhiri penjelasannya akan misiku.

”Di kertas itu ada beberapa hasil penyelidikan yang mungkin berguna. Silakan dimanfaatkan” aku mengembalikan fokusku ke kertas tadi. Dan memang, disana tertera fakta-fakta yang bisa dimanfaatkan seperti rutinitas target dan keadaan di sekitar rumahnya. ”Apa ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Namia

Aku agak ragu menjawabnya, tapi memang ada suatu pikiran yang mulai mengganggu otakku. ”Apa aku boleh bertanya hal diluar misiku kali ini?” tanyaku untuk mengawali. ”Silakan. Sebagai anggota baru, pasti ada banyak yang ingin kau tanyakan. Tapi, kalau kau menginginkan jawaban yang lebih memuaskan, lebih baik tanya langsung pada Nona Chris”

”Kau ini sebenarnya... ’Hermes’ atau ’passer’?” tanyaku. Namia hanya menanggapinya dengan senyuman kecil, diluar dugaanku. ”Aku seorang Hermes. Tapi, tidak salah kan kalau aku bisa bertarung?” balasnya lembut. Oke, dia sudah kembali normal.

”Untuk jawaban pertanyaan ini, tampaknya akan lebih jelas kalau kau menyaksikan sendiri” lanjut Namia sambil mengambil langkah untuk pergi. Aku masih penasaran dengan kalimat terakhirnya, tapi lebih baik aku konsentrasi pada misiku dulu.

Tunggu... kalau aku langsung mendapat misi, berarti tidak ada tes atau semacamnya?

Aku mengelengkan kepalaku dan kembali melanjutkan pekerjaan. Aku berusaha memusatkan konsentrasiku, tapi tetap saja tidak bisa. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Dan ada satu hal yang makin mengganjal pikiranku.

Aku agak meragukan keamanan internal ”Messiah”.
Bunyi ketukan pada pintu ruang kerja Chris terdengar, dan saat itulah Chris langsung mengalihkan perhatiannya yang semula tertuju pada pekerjaannya yang seperti tak pernah ada habisnya. ”Masuk” . Seiring dengan ucapan Chris, pintu terbuka dan terlihatlah sosok gadis berambut hitam pendek. ”Namia, kau sudah menyerahkan misinya?” tanya Chris lurus to the point.

Namia mengangguk, ”ya”. Chris mengembalikan fokusnya pada kertas kertas yang ada di atas mejanya, ”tanggapannya?”. ”dia tampak biasa. Tak ada perubahan ekspresi yang berarti begitu mendengar dia harus membunuh orang” jawab Namia singkat sambil berjalan menuju sisi Chris untuk merapikan tumpukan kertas-kertas yang sudah selesai urusannya dengan wanita albino itu.

”Sudah kuduga... ekspresi yang wajar dari seorang anggota CIA, bukan?” tanya Chris, senyuman tipis terlukis di wajahnya. ”ya, tugasnya pun masih sekitar pembunuhan. Kurasa itu bukan hal sulit untuknya, kalau dia belum menumpul selama setahun berada di sini” komentar Namia yang sedang mengurutkan beberapa lembar kertas. Chris terdiam sebentar.

”Menurutmu, apa menyerahkan penyelidikan ’itu’ pada Renver adalah pilihan yang tepat?” tanya Chris yang sedang memainkan penanya. ”Itu berdasarkan persetujuan para ’judge’, karena itu saya percaya kalau memilihnya adalah pilihan tepat” jawab Namia yang tampak sudah selesai mengurus kertas-lertas tadi. ”Lagipula, Nona Renver memiliki banyak Hermes loyal padanya”

”Hmm... tapi, aku merasa ada sesuatu yang lain dibalik terpilihnya anak itu. Apa kau tidak merasa begitu?”. ”Maaf, saya tidak merasa ada sesuatu yang aneh dengan itu” jawab Namia setelah mengangkat kertas-kertas milik Chris. ”Apa kertas-kertas ini sudah boleh saya berikan?”. ”Silakan. Aku malas berhadapan sama pak tua Hades” jawab Chris dengan nada agak malas.

”Tuan Hadianto pasti akan menegur anda kalau dia dengar. Lagipula, umur kalian tidak terpaut jauh” kata Namia sambil tertawa kecil. ”Baiklah, saya pergi dulu untuk mengantar ini” ucap Namia sebelum menutup pintu ruangan. Chris menyangga wajahnya dengan tangannya sambil memikirkan sesuatu.

”Renver... apa dia memiliki suatu hubungan dengan Rhieve?”
Matahari telah menyembunyikan dirinya, bulan pun muncul menghiasi langit malam bersama bintang-bintang. Kami semua telah menyelesaikan pekerjaan untuk hari ini. Semua cukup letih, kecuali satu orang yang kelihatan benar-benar kecapekan.

”Sele....sai....” kata Ardi sambil menjatuhkan dirinya ke atas kursi komputer. ”Ahaha! Capek, ya?” Renata menghampiri Ardi, entah karena khawatir atau ingin menertawakan nasib sial pemuda itu. ”Aah... kalau udah capek gini... enaknya ketemu sama Livia-Chaaaaaann!!” Ardi mendadak jadi bersemangat sebelum menekan tombol power CPU dengan penuh nafsu. Jelas dia berniat main untuk melepas penat.

”Hah... nijikon mode-nya Ardi nyala” komen Renata singkat. ”Nijikon?” Mulai lagi, penggunaan bahasa yang tidak kumengerti. ”2-D Complex, artinya dia suka sama karakter, bukan manusia asli yang nyata” jelas Renata dengan bahasa yang mudah dimengerti. Intinya, Ardi itu cowok delusional.

”Tapi kamu hebat juga, Raf! Rajin pula!” kata Renata tiba-tiba mengganti topik. ”Kenapa?” aku balas bertanya, walau aku sepertinya tahu yang dia maksud. ”Karena aku mau merapikan tempat ini supaya jadi lebih layak kita pakai?”. ”Yak!! Betul sekali!”

Aku melihat ruangan yang bisa disebut ”ruangan”, berbeda dengan keadaan tempat ini sebelum dirapikan. Aku selesai lebih cepat dari mereka, dan aku memutuskan untuk membereskan tempat ini agar lebih layak ditinggali. Lagipula, apa enaknya istirahat kalau pemandangannya saja seperti tempat sampah?

”Tapi aku kaget, ternyata di sini ada matras” kataku sambil melihat matras yang sudah kugulung rapi dan kusandarkan di dinding. ”Soalnya, kita biasanya nginep di sini” jawab Galuh yang sedang menghabisi zombi-zombi dengan controller berbentuk senapan. ”Eh?! Kalian nggak pulang?” tanyaku agak kaget. ”Habisnya lebih enak disini~ Mau makan tinggal turun pake lift, makanan bawa ke atas terus makan sambil main semaleman” jawab Ardi yang tampaknya sedang sibuk dengan karakter perempuan dalam game yang sedang dimainkannya.

”Yah, buat yang kerjaannya main galge terus sih pasti betah disini malem-malem. Nggak ada gangguan pekerjaan, sih” kata Renata sambil mengambil sebuah komik dari rak buku (yang hanya berisi komik, majalah, light novel, dan buku panduan game). ”Iya, dong!” jawab Ardi mantap dengan bangganya. ”padahal kamu pasti lebih seneng kalau mereka betulan ada disini” lanjut Renata lagi.

”Iya, lah!! Kalau karakter-karakter pada jadi nyata semua, dunia bakal jadi surga para nijikon!!” seru Ardi dengan wajah bahagia, walau entah kenapa pikiranku sepertinya agak berbeda. Ini pasti karena aku menyambungkan kalimat Renata tadi dengan yang sebelumnya. Kantor yang sepi, cewek, malam, ruangan, dan matras, lima hal yang membuatku agak merinding membayangkannya. Bayangkan saja, manusia asli melakukan ”hal-hal seperti itu” pada karakter dua dimensi, sulit dibayangkan.

”Yah, kalau begitu, aku pulang dulu, ya? Sudah jam 7” kataku. ”Sudah mau pulang? Hati-hati di jalan, ya~” Renata melambaikan tangannya. Ardi hanya mengangkat tangannya. Sementara Galuh, walau aku yakin dia mendengarku, tetap sibuk membuat badan zombi-zombi bolong.
” ’Berjalan pulang ke rumah’, ya?” gumamku sambil memandang langit malam. Yang terlihat hanya langit hitam dan rembulan yang tetap bersinar, sesekali awan terlihat saat disinari cahaya bulan atau lampu. ”Bintang pun sudah tidak terlihat lagi...”

”Mau pergi?”

Suara yang kukenal, dan tampaknya ditujukan padaku. Kubalikkan badanku dan terlihat sosok Nona Chris, sendirian. Dia melangkah mendekatiku. Tatapannya lurus dan tajam, bahkan terkesan agak menusuk.

”Ya” jawabku singkat. Aku bermaksud untuk memutar badanku, lalu pergi, tapi dia menghentikan langkahku dengan ucapannya. ”Hati-hati. Kalau keadaannya jadi berbahaya, kau boleh kabur”. Nadanya serius dan lurus, membuat kata-kata yang terkesan meremehkan itu tidak terdengar demikian.

”Aku akan hati-hati” jawabku. Mendengarnya, Nona Chris mengangkat bibirnya. Senyum tipis pun terlihat saat dia mengatakan, atau lebih tepatnya, menanyakan, ”tanpa senjata?”.

”Ah...”

Hening. Dengan bodohnya, aku lupa aku tidak membawa senjata. Kalau penjaganya hanya satpam biasa, tangan kosong pasti lebih dari cukup. Tapi, kalau dia membayar tinggi untuk keamanan rumahnya, setidaknya aku pasti membutuhkan pisau kecil untuk keadaan terdesak. Pistol mungkin cukup bagus, tapi terlalu menarik perhatian dengan suaranya.

”Nih” Nona Chris menyodorkan sebuah benda yang dibungkus kain putih. Dengan agak ragu, kubiarkan tanganku mengambilnya dan membukanya, untuk mengekspos isinya.

”Kotak apa ini?” tanyaku saat melihat sebuah kotak berwarna coklat. Sungguh simple, tak ada ornamen yang berarti. Aku pun berinisiatif membukanya, walau aku sudah bertanya pada Nona Chris tentang isinya. Kurasa, dia juga lebih senang kalau aku melihatnya sendiri.

Aku melihat beberapa benda tajam yang bersinar perlahan terekspos saat tanganku perlahan membuka tutup kotak. Stainless steel yang masih berkilau dan mulus. ”Ini...”. Nona Chris menyeringai kecil, lalu berkata, “gunakan sebaik mungkin. Kalau kurang, bilang saja”

Aku terdiam sebentar, memandang Nona Chris yang kembali melangkah memasuki bangunan gedung. “A—ah… Terima kasih banyak!” seruku, cukup keras untuk didengar Nona Chris. Dia tersenyum tipis saat membalikkan badannya sebentar.

Dengan ini, aku sudah siap menjalankan misi pertamaku!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Dec 11, 2010 2:33 am

Tapi tentu saja, aku harus lebih dulu kembali ke rumah sebelum menjalankan misi dari “Messiah”.

Aku menyimpan sekotak pisau yang diberikan Nona Chris dan melangkahkan kakiku menuju rumah. Masih ada cukup waktu untuk sedikit mengistirahatkan otot-ototku yangg telah bekerja seharian. Pekerjaanku cukup melelahkan, memang. Tapi, berhubung hari ini jatah kerjaku dipotong, rasa letih ini tidak terasa mengganggu.

Lagipula, aku harus menyimpan tenaga untuk berjalan kaki ke rumah, yang entah jaraknya berapa kilometer. Mungkin lebih dari 10?

Semoga saja aku benar-benar sempat istirahat...

Sudahlah, memikirkan ini hanya membuang waktuku. Walau kakiku terus bergerak, pikiranku tidak bisa konsentrasi. Tapi, aku harus konsentrasi ke jalan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti tersesat, menabrak tiang listrik atau yang lebih parah, tertabrak... apa itu?

Aku melihat ke samping, sebuah cahaya yang sangat terang datang membesar dengan kecepatan tinggi ke arahku. Aku berusaha melihat sumbernya, yang ternyata adalah sebuah...

’DIN DIIIIIIIIIN!!’

Mobil

Jaraknya cukup jauh untuk kuhindari, cukup mengambil sebuah backstep untuk menghindari mobil itu. Tapi...

”KYAAAAAAAAAAAAAA!!”

Itu cewek... bukannya buruan menjauh dan kabur, kenapa malah berdiri disana sambil menjerit?! Emangnya ini sinetron?! Ah, sudahlah, lebih baik kudorong dia supaya terhindari dari—

”HEEEEIIII!!” sebuah seruan menarik perahtianku, memngajakku menyaksikan sebuah pemandangan yang... oke, sangat unbelieveable.

Ada seorang POLISI berwarna rambut mencolok yang mengendarai motornya menuju mobil itu DARI ATAS (bahkan tepat membelakangi bulan). Dia melompat dengan motornya untuk menghancurkan mobil itu dari atas?! Tunggu—dia kan polisi!! Hal seperti ini seharusnya--

’BRAAAAK!!’

Sesuai dugaan, dia benar-benar menghentikan mobil itu dari atas, sekaligus merusaknya. Ini memang polisinya nggak waras, polantas Jakarta emang begini, atau dia orang yang berprofesi sebagai pengendara motor yang suka berakrobat di dalam tong besar dan sedang menyamar menjadi polisi? Dasar, dunia makin lama makin aneh aja... Bisa-bisanya ada polisi ekstrim begini di Indonesia. Rasanya sudah seperti film-film action Hollywood

Setelah menghentikan laju motornya dengan sebuah drift yang cukup memekakkan telinga, dia segera berlari menghampiri gadis tadi dan berkata, ”Apa nona tidak apa-apa?”. Harus kuakui, melihat seorang polisi menanyakan keadaan calon korban memang wajar, tapi...

Kenapa dia harus menanyakannya seperti... sedang menggoda cewek yang nyaris jadi korban kecelakaan?

”HEEEIII!!” seorang polwan datang menghampirinya, atau mungkin lebih tepat kubilang kalau polwan itu sedang menerjangnya dengan tongkat satpam di tangannya? ’BUK!’ serangannya kena, tepat di kepala polisi tadi. ”Jangan ngegodain cewek melulu!! Itu mobilnya ganti rugi dulu!!”

”Haaah?! Ngapain ganti rugi buat mobil pemabuk yang nyaris saja melukai nona cantik ini?” nadanya berubah di akhir kalimat, dan dia langsung memalingkan wajahnya ke arah gadis tadi. Mendadak, dia berlutut di depan gadis itu dan berkata, ”syukurlah kau baik-baik sajaAAAKH!!”. dan, polwan itu menyuruh gadis itu kabur, masih dengan kakinya diatas badan polisi aneh itu.

”Fuh, mau pulang malah ke-delay sama pertunjukan komedi aksi jadi-jadian gini...” pikirku sambil menghela napas. Aku pun melangkahkan kakiku melewati scene ”kecelakaan” itu. Si pengendara sedang diinterogasi oleh polisi lain, sepertinya. Yang pasti, polisi itu rambutnya tidak mencolok.

Yak, saatnya kembali melanjutkan perjalanan. Lagipula, disini sudah cukup ramai. Aku tidak butuh keramaian seperti ini untuk bisa istirahat dengan tenang.

Entah sudah berapa jam aku berjalan, tapi rasanya tidak terlalu panjang. Jangan-jangan busway yang menuju kantor muter-muter dulu? Oke, lupakan busway dan jalan kaki mulai sekarang. Lebih sehat, mengurangi emisi, lebih murah, dan tidak terlalu melelahkan

”Assalamu alaikum” ucapku setelah mengetuk pintu terlebih dulu. ”Wa alaikum salam” balas ibu ketika membukakanku pintu. ”Ayo masuk, Fi! Makanannya udah hampir dingin, tuh!” ajak ibu sambil menuntunku ke meja makan

Sesaat, aku bisa melihat pintu kamar Rina terbuka. Dan rasanya, aku mendengar pouting dari dalam. ”Oh, Rina lagi ada masalah di sekolahnya. Gimana kalau nanti kamu ngobrol sebentar sama Rina biar dia baikan?” saran ibu lebih terdengar seperti permintaan di telingaku. Tapi, tidak diberitahu pun aku memang berencana untuk menanyakannya

Setelah menghabiskan makan malamku dan mencuci piring, aku segera mengerjakan permintaan ibu.Aku mendatangi kamar Rina, dan tentunya mengetuk pintu lebih dulu. Pokoknya, aku harus memasang wajah yang tidak membuat keadaan makin buruk

”Rina, boleh kakak masuk?” aku mengawali pembicaraan, karena aku memang sudah masuk. Rina tidak menjawab. Dia hanya melirikku dengan wajah yang setengah terbenam di dalam bantal.

”Lagi ada masalah, ya?” aku mendekatinya, tapi dia memalingkan wajahnya. Membenamkannya di dalam bantalnya. Aku tersenyum, lalu aku duduk di sampingnya untuk mengusap kepalanya. ”Kalau ada yang bisa kakak bantu, bilang saja”

Rina terdiam, tapi tak lama dia menanggapi perkataanku. ”Kak...”. ”Ya?” aku menyambut balasannya dengan sebuah senyuman. Kuharap dia juga membalasnya.

”Bisa tolong... tinggalkan aku sendiri, untuk sekarang?”

Dia memang mengatakannya dengan sebuah senyuman, tapi... jelas wajahnya tak menyiratkan sedikitpun kebahagiaan atau ketenangan. Aku ingin membantunya, tapi kelihatannya dia tidak ingin membicarakannya. Atau setidaknya, untuk sekarang.

”Kalau begitu, kakak keluar dulu” aku bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu. ”Selamat tidur, Rina”. Aku menutup pintu, tapi dia tak melihatku sama sekali tadi. Yah, percuma bicara kalau dia bahkan tidak mau membicarakannya. Itu bisa memperburuk keadaan.

Aku mendongakkan wajahku untuk melihat jam. 21.50? Dari sini ke rumah target kira-kira satu jam. Berarti, aku bisa beristirahat sebentar, dan berangkat jam 11 malam, dengan menyelinap tentunya.

Aku pun membaringkan badanku di atas kasur, dan memutuskan untuk memejamkan mataku sebentar.

... Dan saat aku membuka mata... ”Jam 11.05?!” seruku kaget. Untungnya, suaraku tidak cukup keras untuk menembus sekat ruangan dan membangunkan ibu atau Rina. Aku pun segera bergegas mempersiapkan segala yang kubutuhkan. Aku membuka jendela, dan keluar untuk membunuh seorang—

Ralat, seekor makhluk busuk

Aku segera berlari menuju rumahnya, sesuai kertas yang telah diberikan Namia tadi siang. Dan tak lama, aku sampai di rumahnya. Entah sudah tengah malam atau belum, yang penting, aku bisa memiliki kesempatan untuk membunuhnya secepat mungkin tanpa bukti.

”penjaganya ada satu, dan sekarang dia sedang menguap? Orang ini kok milih satpam nggak becus, sih?” pikirku. Seharusnya aku bersyukur dia telah mempermudah pekerjaanku, tapi ini malah jadi terkesan meremehkan. ”Yah, sudahlah... lebih baik aku segera menyelinap ke dalam”

Untuk masuk, aku tidak membawa alat apapun yang bisa membuka kunci, kecuali kalau pisau ini cukup kuat untuk memotong gembok. Dan aku yakin, pisau ini tidak cukup kuat. Tapi, tidak ada salahnya juga untuk moncobanya. Kalau gagal dan aku ketahuan oleh satpam itu, aku tinggal membunuhnya tanpa menghasilkan suara.

Oke, rencana sudah selesai

Aku berjalan dengan tenang menyeberangi jalan, dan berjalan menjauh beberapa meter dari pos satpam itu. Setelah jaraknya cukup, aku segera berbelok masuk ke sisi kiri trotoar yang masih penuh dengan tumbuhan. Aku memasuki kehijauan itu cukup dalam, sebelum berbalik arah kembali ke arah rumah target.

Setelah keluar dari kumpulan daun itu, aku berhasil mencapai dinding yang berfungsi sebagai pagar rumah mewah ini. Dasar koruptor, bikin rumah mewah-mewah, padahal di sekitarnya rumah kecil semua. Kelihatan jelas kalau dia tipe orang yang suka menyombongkan diri.

”Pintu belakangnya dijaga sebuah gembok, ya? Entah ini beruntung atau sial...” gumamku pelan sambil mengeluarkan pisau yang diberikan Nona Chris. ”Berhubung PT. Farran itu produsen mesin, mungkin ternyata pisau ini pisau khusus bertenaga kuda...” aku diam sebentar, ”Ngayal banget”. Sudahlah, lebih baik kucoba dulu memotong besi gembok—

Nya...?

Bo...hong...

Tanganku dengan agak gemetar memegang gembok tersebut—atau lebih tepatnya, gagangnya. ”Beneran... bisa dipotong?!” seruku dalam hati, kaget dan tidak percaya menyatu menjadi satu. Bunyi yang timbul pun sangat minim.

”kekuatan Farran, ya?”

Oke, penghalang pertama berhasil dilewati. Aku pun masuk dengan meminimalisir suara, dan melangkah dengan cepat namun hening ke dalam halaman rumah target. Aku mencari jalan untuk masuk, tapi tampaknya tidak ada yang bisa dijadikan pintu masuk.

Aku menatap tanganku yang sedang menggenggam pisau, dan mempertimbangkan sebuah cara untuk masuk. Ide gila yang patut dicoba, menurutku.

Aku segera berlari ke bagian belakang rumah, dan tepat sesuai dugaanku, ada pintu yang pastinya terkunci. Tapi, aku tidak mengincar ataupun berharap pintu itu akan terbuka secara ajaib hanya dengan sebuah open sesame. Aku mengincar hal yang lebih logis.

Jendela

Tanganku menekan jendela, untuk mencegah bunyi akibat sela pemuaian. Kutusukkan pisau ditanganku ke jendela, dan rupanya jendela itu tidak pecah. Hanya terpotong tanpa suara, tepat seperti yang kuharapkan. Aku pun memotong jendela besar itu secukupnya, dan menjadikan itu pintu masuk yang lebih efektif

”Hup”, aku berhasil menyusp ke dalam rumah dengan cukup mulus berkat pisau aneh ini. Dengan perlahan namun cepat, kulangkahkan kedua kakiku ke lantai dua. ”Menurut informasi dari Namia, biasanya saat ini target sedang tidur di kamarnya. Tinggal menyusup masuk dan membunuhnya” ingatku.

Harus kuakui, informasi yang mereka berikan sangat detail. Entah karena informasinya mudah didapat atau memang para ”Hermes” sangat hebat. Bahkan, mereka memberiku denah rumah ini. Benar-benar membantu ”passer”

Tak lama, aku sampai di depan sebuah pintu ruangan, yang tertulis sebagai kamar tidur target di denah. Tanpa membuang waktu, aku memotong sedikit bagian pintu di bagian yang dekat dengan lubang kunci. Kelihatannya sudah cukup untuk memotong pengunci pintu ini.

Aku mengangkat lenganku bersiap untuk menjatuhkan pisau ini diatas pengunci dan masuk ke dalam untuk membunuh target busuk itu.

’Jreb’

”!!” tak kusangka, ternyata ini lebih sulit dibelah dibanding gembok. Tekanannya terasa lebih kuat, dan aku yakin ini akan menimbulkan bunyi yang lebih besar jika kulanjutkan. Kalau target sampai bangun dan mengetahui keberadaanku, habis sudah. Bisa dijerat pasal berlipat, dan tidak bisa dikurangi karena aku tidak memiliki uang jutaan rupiah

...Masa bodoh dengan semua itu...

Aku mengambil sebuah pilihan, terus menekan pisau itu untuk membelah pengunci pintu sialan ini. Sepertinya pisauku sudah berhasil membelah lebih dari setengah panjang pengunci itu, karena aku unggul dengan adanya gravitasi plus tekanan dari benda tajam. Aku memaksakan pisauku untuk memotong pengunci yang mulai menimbulkan bunyi yang lebih terdengar dari tadi, walau masih tergolong senyap

Sudah tiga per empatnya berhasil kupotong! Tinggal sedikit lagi...

Tapi bunyi itu pun makin keras, walau mungkin tidak sampai bisa membangunkan babi rakus yang tertidur lelap, tetap saja ini sudah mencapai batas dimana bisa terdengar oleh manusia dewasa yang sedang terjaga. Kecuali kalau telinga babi ini sudah mulai rusak

Bunyi clash terdengar dari pisauku dan pengunci yang saling beradu. Aku bisa merasakannya... tinggal sedikit lagi...

’Syat’

Pisauku sudah menembus! Berarti pengunci itu sudah terbelah. Sebentar aku menoleh ke arah jam. Ternyata, pemotongan pengunci yang terasa sangat lama ini hanya berlangsung selama empat puluh menit lebih. Aku menghela napas, ”sepertinya aku terlalu terburu-buru... atau terlalu bersemangat?” pikirku

Aku mencoba mendorong pintu yang sudah berhasil kubuka. ’Kriiit’ bunyi kedua belah pengunci yang telah kubelah ternyata terdengar bergesekan. Suara yang cukup nyaring, membuatku agak kaget dan lebih waspada. Dan ini baru bergeser sedikit.

Tampaknya aku harus menimbulkan sedikit bunyi disini

Yah, biarlah. Lebih baik maju mengambil resiko kecil daripada berdiam disini, yang resikonya lebih besar. Asal tidak terdengar satpam dan aku bisa ”membungkamnya” sebelum target mulai bertingkah untuk menggagalkanku. Aku menarik napas dengan tenang, dan mendorong pintu dengan decitan yang nyaring.

”nggh..” sial, tampaknya target terbangun. Kesadarannya makin jelas seiring dengan langkah kakiku mendekatinya. ”Hah?!” matanya yang tadi tampak sayu sekarang membelalak lebar begitu melihatku. ”Si—siapa ka--!!”

’Craaaasshh!’

Aku memotong kalimatnya dengan memotong urat nadi di lehernya. Dan dengan ini, aku telah memotong kehidupannya, straight to hell. Mayatnya terjatuh, kepala di lantai dan badannya yang ada di pinggir kasur. Darah menetes, berceceran, mengalir...

mission complete” ujarku tenang dengan nada dingin yang menusuk. Aku memandang manusia rendah yang kini telah terbujur kaku di depan kakiku. Kakiku menginjak kepalanya dengan keras, dan terus menekan agar kepalanya bisa pecah di hadapanku. Tapi, tidak ada gunanya berlama-lama disini hanya untuk melihat hancurnya kepala sebuah babi.

”Darah sampah busuk ini menempel di bajuku. Sial. Kalau begini, pulang lebih susah, nih” gumamku datar, masih dengan rasa dingin tersirat pada nada bicaraku. Aneh rasanya kalau aku menyadarinya, tapi memang benar. Aku menyadari perbedaan tone itu

Aku ingin menghancurkan sampah-sampah ini

Aku ingin membunuh mereka

Mereka yang hanya memikirkan cara untuk menebalkan dompet mereka

Dan akhirnya ”membunuh” para rakyat miskin yang seharusnya menikmati harta mereka walau hanya sedikit

Menggunakan harta mereka untuk membeli jiwa, kekuasaan, bahkan keadilan

Tidakkah makhluk seperti itu busuk?

Lalu, kenapa kita tidak boleh membunuh mereka?

Apa mereka membawa pengaruh positif pada bangsa dan negara?

Padahal, banyak orang yang sengsara karena mereka, terutama dari kalangan bawah

Kalian pikir, aku akan membiarkan kalian melanjutkan penyiksaan ini hingga mempengaruhi keluargaku secara langsung?


Pikiran-pikiran seperti itu terus berkecamuk dalam kepalaku. Mungkin, karena itulah aku ingin menginjak kepala babi ini hingga pecah. Dan mungkin karena itu jugalah, tekadku untuk bergabung dengan ”Messiah” sangat kuat.

Aku mendongakkan kepalaku, melihat jam dinding besar bertaburan emas yang tergantung di atas lemari. Jam 12.43 malam, atau 00.43 p.m. ”Tinggal lapor saja, kan?” gumamku sambil sedikit membersihkan bajuku yang terciprat darah makhluk busuk ini. Aku tidak punya apapun untuk menghubungi Namia ataupun Nona Chris, punya pun aku tak memiliki nomor mereka

”Oke, saatnya pulang” aku melangkahkan kakiku dari rumah mewah yang kini sudah ditinggal pergi kepala penghuninya. Untuk pulang, aku mengambil rute yang sama dengan rute pergi. Kaca jendela yang telah kupotong kutenggelamkan di kolam renang setelah lebih dulu dibersihkan dari sidik jari. Setelah memastikan semuanya aman, dan semua sidik jari telah dihapus, aku segera menuju pintu belakang yang tak lagi bergembok untuk pulang

”Kalaupun para polisi bisa tahu rute dan cara pembunuhanku, selama mereka tidak memiliki bukti aku aman” pikirku. ”yang jadi masalah tinggal menghilangkan noda darah di bajuku”. Malam hari harusnya tidak ada banyak pejalan kaki di jalan menuju rumah, tapi noda ini cukup mencolok untuk disadari seorang pejalan kaki. Aku harus berusaha mengantisipasinya.

Setelah cukup panjang berlari, aku kembali sampai di rumah. Beruntung, aku hanya melihat tiga pejalan kaki yang sedang mengobrol dengan asyiknya. Aku masuk ke dalam melalui jendela kamarku dan segera mengganti baju. Baju penuh darah itu akan kuurus belakangan, dan tentunya tanpa diketahui ibu ataupun Rina. Sepatuku kulepas, dan aku membawanya keluar dengan suara seminim mungkin untuk kembali meletakkannya.

Sesampainya di kamar, aku membaringkan tubuhku di atas ranjang. Aku menatap tanganku, masih ragu kalau aku telah benar-benar membunuh seorang koruptor. Perasaan yang sulit dideskripsikan menyelimuti. Rasa bersalah, kesenangan, amarah, rasanya semua itu bercampur menjadi satu, tapi tak tampak pada wajahku.

”Kukira aku bakal bertemu dengan polisi-polisi itu lagi... untung mereka nggak lewat” pikirku lega. Itulah yang tadi kucemaskan saat pulang. Tapi, mengingat kasus kecelakaan tadi tidak terlalu kompleks, mereka pasti sudah pergi ke kantor polisi untuk menginterogasi si pengendara.

Kuputuskan untuk segera tidur agar di kantor kinerjaku tidak memburuk, apalagi pekerjaanku akan lebih banyak be—salah, hari ini. Aku menutup kedua mataku, dan meresapi kenyamanan yang bisa kudapatkan sekarang diatas tempat tidur yang tidak terlalu empuk ini.

”Benar-benar... hari pertama yang melelahkan...”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Jan 15, 2011 4:41 am

"Wah, dateng pagi, nih?" entah harus disebut sapaan atau tidak, itulah yang pertama kudengar saat memasuki ruangan para--kalau sebutannya di sini-- cleaning service. Dan seperti yang sudah kuduga, mereka sedang memanjakan mata mereka dengan radiasi alat elektronik.

Ardi segera membalik badannya, kembali ke komputer yang sedang menampakkan gambar perempuan ala anime dan kotak percakapan di bawahnya, yang terus bergerak cepat. Tampaknya dia sudah terlatih membaca cepat berkat hobinya.

Renata sedang sibuk dengan PSP yang terus mengalunkan sebuah lagu. Rythm game, mungkin? Yang pasti, jika dilihat dari vokalnya, lagu itu tidak terdengar menggunakan bahasa Inggris maupun Indonesia.

Galuh, seperti biasa, sibuk mendominasi TV dengan main game yang rasanya tidak ada habisnya. Seperti menyerukan shoot 'em all tanpa makna tertentu, hanya berlatar perang.

Dan aku langsung tahu, mereka pasti akan mengundur jam kerja. Jadi agak ragu kalau harus meninggalkan mereka sebentar. Tapi, kewajiban tetaplah kewajiban

"Kalau begitu, aku mau ke tempat Nona Chris dulu" ucapku, sekadar memberi tahu saja. Bisa susah kalau mereka nggak mau kerja karena mengira aku pergi main, kan?

"Oh, iya... Kenapa kamu manggil albi-chou dengan sebutan 'nona'?" tanya Renata padaku. Jujur, aku bingung harus menjawab apa, jadi kujawab saja seadanya.

"Emm... aku tidak tahu harus memanggilnya apa lagi. Lagipula, Namia memanggilnya begitu" jelasku. "Kalau Namia, sih, kasusnya lain. Kalau orang lain nggak ada yang manggil dia begitu" Ardi mendadak ikut dalam pembicaraan. Sepertinya, dia ingin sedikit melepas rasa stress dari apa yang baru saja dialaminya di alam game. Aku bisa melihat ada gambar perempuan menangis di layar.

"Kalau kalian punya panggilan yang bisa kupakai, itu lain soal"

Renata dan Ardi saling pandang, hal yang telah membuatku tersambar firasat tak enak. Mereka pun berbisik-bisik, tampaknya sedang berdiskusi? Apapun itu, aku bisa merasakan adanya unsur freshman bullying, walau aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

"Nah, kita sudah mencapai sebuah kesepakatan yang terbaik!" ucap Renata setelah mereka selesai berdiskusi. "Kamu mau pakai panggilan yang normal aja, kan?" Aku mengangguk dengan firasat buruk. Ardi melanjutkan deklarasi Renata, "Kalau begitu, panggil saja dia..."
---------------------------------------------------------------------------------
Dengan berkas-berkas informasi di tanganku, aku melangkahkan kakiku menuju ruangannya. Aku tidak yakin apa yang mereka katakan benar atau tidak, tapi aku yakin itu lebih baik daripada dianggap aneh.

Aku melihat-lihat koridor yang sudah mulai kuhapal. Mulai dari tikungannya, letak pintu-pintu, sampai vending machine dengan bangku di sebelahnya. Beberapa tanaman pun disertakan sebagai penghijau ruangan. Sepertinya, keuntungan bersih perusahaan ini tak perlu diragukan lagi, mengingat namanya sudah cukup terkenal dimana-mana sejak lulus standar WTO.

Tak lama, pintu ruangan tujuanku telah ada di depan wajahku. Aku menelan ludah, berharap dia tidak akan merasa aneh kalau aku memanggilnya dengan panggilan yang berbeda dari sebelumnya. Dan tentunya, disertai dengan do'a agar apa yang dikatakan mereka benar.
-----------------------------------------------------------------------------------
'tok tok'

Beberapa detik setelah ketukan pintu berkumandang, pintu terbuka tanpa perintah dari baliknya. Dan seperti sebelumnya, Namia membukakan pintu untukku. Atau, itu hanya ada dalam dugaanku saja.

"Maaf, bisa tolong kembali lagi nanti? Nona Chris sedang sibuk" ucapnya dari balik pintu yang hanya dipuka sedikit. Bahkan, tidak seluruh wajahnya terlihat oleh mataku. "Aku hanya ingin mengembalikan data ini, tanda tugasku telah selesai" aku menyerahkan apa yang sudah digenggam tanganku sepanjang perjalanan. Target sudah dibunuh, aku tidak membutuhkan ini lagi.

"Baiklah, kuterima ini. Tapi..." dia melirik wajahku, entah apa yang aneh. "...Santai saja disini".

"Apa maksudnya?"

"Bagaimana kalau kita tinggalkan saja etika untuk berbicara dengan bahasa yang terlalu resmi? Kau bisa sulit mendapat teman kalau begini terus" ujarnya dengan cukup frontal. "Tapi, kalian kan...".

"Walau status kami disini lebih tinggi, PT. Farran menganut sistem kekeluargaan. Kebanyakan dari kami lebih suka bicara dengan bahasa sehari-hari. Tidak banyak yang masih bicara seperti itu, itu pun lebih karena keadaan dan 'benih' yang tertanam" sarannya panjang lebar.

"Hanya beberapa orang serius dan kaku yang suka memakainya. Bahkan, Nona Chris tidak akan memakainya kalau bicara dengan orang yang sudah dikenalnya"

Aku cukup terkejut mendengarnya. Mungkin, kebersamaan ini adalah salah satu faktor kesuksesan mereka. Tapi, pastinya kata sehari-hari itu masih perlu dibatasi. Mengingat kata-kata seperti "bangsat", "kampret", dan nama-nama hewan sudah menjadi bagian dari perbendaharaan kata pengganti subyek. Atau mudahnya, mereka menghina orang dengan itu, dan itu sudah sangat lumrah disini.

"Ngomong-ngomong, kenapa buka pintunya tanggung begitu?" tanyaku sambil menunjuk pintu yang tampaknya gaganya masih digenggam erat oleh Namia di baliknya. "Aku khawatir akan mengganggu nona..." ujarnya, sambil sedikit melirik ke belakang. Padahal, saat aku menemuinya dulu, sepertinya dia juga sedang bekerja. Mungkin, dia sedang bertemu dengan atasannya dan membicarakan hal yang masih rahasia?

“Ya sudah, tolong sampaikan salamku pada ‘Bu Chris’ “ ujarku dengan tidak yakin. Aku melihat Namia, penasaran akan reaksinya. Dan dia... sedang berusaha menahan tawanya yang nyaris meledak. “Ada apa, Namia?” sebuah suara, yang aku sangat yakin itu adalah suara...err... ‘Bu Chris’, menegur Namia yang sedang menahan tawanya. “Aha...ha... bukan apa-apa...” Namia mencoba mendorong rasa tergelitiknya untuk menjawab. Apa seaneh itu?

"Akan kulaporkan pada Nona Chris. Selamat bekerja" tepat setelah ucapannya selesai, pintu itu di tutupnya dengan cukup kuat. Seperti menolak keberadaanku saja. Yah, mungkin asumsiku tentang pembicaraan dengan atasan itu benar? Kalau benar, aku pasti dinilai sangat mengganggu.
-----------------------------------------------------------------------------------
"Yo! Gimana tadi? Lancar?" sapaan dan pertanyaan ganda telah diluncurkan oleh Ardi yang sekarang sedang bermain PSP, sedangkan Renata menguasai komputer untuk menjelajahi internet.

"Aku nggak boleh masuk. Katanya, lagi ada urusan penting" jawabku sambil melangkah meunuju lemari penyimpanan alat-alat pembersih. "Oh, kalau begitu, nanti coba saja lagi" jawabnya sambil kembali memainkan PSP yang ada di tangannya. Aku menghela napas. Setelah mengambil sebuah tongkat pel, aku mencoba membuat mereka sadar akan dimana mereka berada.

"Kalian nggak kerja?"

'deg!'

Bunyi detak jantung itu sepertinya tidak berhasil menembus kulit, tapi aku dapat mendengarnya--atau merasakannya. Mereka diam, bahkan tak bergerak untuk menekan tombol. Akhirnya, waktu yang serasa terhenti sejenak itu kembali berjalan.

"Ya-- abis download-annya mulai, ya? Tinggal pencet, kok!" Renata memberi alasan dengan cukup gugup.

"Sabar, tinggal di-save~" jawab Ardi dengan cukup--atau berusaha--tenang.

"cih" Galuh hanya menanggapinya dengan decakan, dan dia pun mematikan XBox 360 yang masih menyala. Dengan setengah hati, dia mengobrak-abrik lemari untuk mencari alat-alat yang dia butuhkan, diikuti Renata dan Ardi

Mereka meninggalkan ruangan ini dengan alat bersih-bershi di tangan masing-masing, yang aku yakin mereka lakukan dengan setengah hati. Aku melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul 08.05. Setelah mengambil sebotol S*per Pe** dan ember, aku pun keluar untuk membersihkan bagianku.
-------------------------------------------------------------------------------
Pekerjaanku kumulai dari toilet. Karena toilet ini sudah terlihat cukup bersih, sepertinya ini akan cukup cepat selesai. Aku pun melai mengisi ember dengan Air, dan menuangkan S*per Pe** secukupnya. Aku mengaduknya dengan mop di tanganku, dan mulai membersihkan lantai. Untung dulu aku masih sempat membersihkan rumah dengan Anne, karena selama di sini, aku memakai kain pel untuk membersihkan lantai.

Sekitar satu jam kemudian, sebagian telah bersih. Yang tersisa hanya daerah wastafel. Saat aku akan membersihkannya, pintu toilet terbuka. Tapi, terbuka dengan kecepatan yang tidak terlalu wajar. Sedikit lebih lambat dari normal.

Setelah melihat siapa yang membuka pintu, aku merasa wajar pintu itu terbuka dengan lambat. Yang membukanya adalah anak SD, sepertinya kelas tiga atau empat. Tapi, ada yang aneh.

Ini kan bangunan perusahaan, kenapa bisa ada anak SD disini? Walaupun sanak saudaranya ada yang bekerja disini, menurutku ini sudah cukup tidak lazim. Sambil berlari-lari kecil, dia mendatangi wastafel terdekat, dan mencuci tangannya disana. Tiba-tiba, sesuatu berbunyi.

"Ah, ada telepon, ya?" anak itu mengambil handphone yang dia masukkan dalam saku celana seragamnya. Ternyata... anak jaman sekarang memang lain. Jaman sudah berubah, ya. Padahal, aku saja tidak punya

"Mama? Maaf, tadi bubarannya telat! Jadi aku kesini naik taksi sendiri"

Dia bilang... NAIK TAKSI SENDIRI?! Orang tua macam apa yang membiarkan anaknya yang masih kecil naik taksi sendiri?!

"Ya, nggak apa-apa, kok! Ini udah mau kesana. Aku lagi cuci tangan, biar nanti nggak bolak-balik"

"..." aku masih terdiam mendengarnya, sambil menggeser mop untuk membersihkan lantai.

"Oke!"

Anak itu tampaknya sudah membuat persetujuan dengan siapapun yang meneleponnya. Paling akhirnya dia akan bertemu dengan ibu atau ayahnya, lalu pergi jalan-jalan.

Kecuali, kalau anak ini juga anggota "Messiah"

Anak itu segera pergi setelah menutup teleponnya. Padahal, handphone adalah salah satu barang lazim yang menjadi sarang banyak kuman. Harusnya, dia mencuci tangannya lagi kalau dia tidak mau dijangkiti penyakit, atau bahkan mati.

Yah, sudahlah. lebih baik kuselesaikan saja pekerjaanku hari ini lebih dulu. Supaya aku masih punya tenaga kalau-kalau ada diantara mereka yang nggak selesai.
------------------------------------------------------------------------------------
“Akhirnya sele—A--!!”

Ardi tampak kaget saat melihatku. Apa Karena tumben-tumbennya aku membaca majalah anime? Yah, mau bagaimana lagi. Aku sudah selesai bekerja kurang lebih setengah jam yang lalu. Daripada bengong, kucoba saja memenuhi rasa penasaranku atas apa yang mereka lakukan sehari-harinya.

Atau, dalam bahasa yang lebih mudah, aku penasaran kenapa mereka bisa jatuh ke jurang seperti ini.

Lagipula, yang ada hanya bacaan seperti ini saja. Benar-benar orang-orang yang santai, dan juga jauh dari dunia nyata. Rasanya aku mengerti kenapa mereka diperintahkan untuk bermain game disini.
“kok... kamu udah sampe sini...?” tanya Ardi dengan tampang yang penuh ketidak percayaan dan kekagetan. Tangannya menunjukku, atau menunjuk majalah yang kupegang.

“Soalnya aku udah selesai” jawabku singkat sambil melipat kembali majalah aneh itu. “NGGAK MUNGKIN!!” serunya kaget. Yah, tidak aneh dia curiga. Bagianku lebih banyak, tapi aku selesai lebih dulu. Aneh?

Kurasa tidak. Ini namanya selisih kerajinan dan niat.

“Ah!! Pasti mereka sengaja, deh! Siaaaal!!” gerutu Ardi dengan maksud yang tak terlalu jelas. Mungkin dia sedang bergulat dengan otaknya sendiri?

“Yah, setidaknya, yang lain kerja lebih lambat darimu” ujarku, bangkit dari tempaptku duduk tanpa tujuan. “Tinggal tunggu dua orang itu”. Ardi tidak berkata apapun, tanda setuju. Dia pun dengan tenang mengambil PSP dan memainkannya lagi.

Di depan pintu, aku melayangkan pandanganku ke seluruh ruangan ini. Dari sisi ke sisi, dari sudut ke sudut. Aku sadar, sudut ruangan ini tak dapat terlihat. Bahkan, lantainya pun...

“Kalian... kapan terakhir bersih-bersih ruangan ini?” tanyaku, siap mendengar jawaban mereka yang kuduga adalah...

“entah kapan. Udah lama banget pokoknya. Itu juga bukan kita yang beresin”

Sesuai dugaan. Bahkan, plus-plus!

Aku jadi ragu, entah ruangan yang mereka bersihkan selama ini benar-benar bersih atau tidak. Jangan-jangan mereka sudah diujung tanduk untuk dipecat. Karena itukah aku dimasukkan ke sini?

Dengan satu helaan napas, aku kembali mengambil peralatanku. “Mau ngapain? Bersih-bersih jatah mereka?” tanya Ardi tanpa mengalihkan perhatiannya dari PSP-nya yang sedang mengeluarkan desahan-desahan erotis. Tanpa menjawab, aku mengayunkan sapu tepat di depan wajah Ardi.

“Waa--!!” serunya kaget. “Ini ruangan kita berempat. Bersihkanlah kalau masih mau hidup” ujarku sambil menyerahkan sapu yang nyaris menebas wajahnya. “Hi... dup?” Ardi berpikir sebentar, mencerna apa yang kumaksud dengan “hidup”. Dan dalam sekejab, ekspersi ketakutan yang mencekam tampak dari wajahnya. Entah apa yang dia bayangkan, aku tidak tahu.

Yang kumaksud dengan “hidup” adalah “tidak terjangkit penyakit lalu mati menyedihkan”. Tapi… dia pasti mencernanhya dengan berbeda. Mungkin dia takut dihajar sampai sekarat?

Dalam ketakutan, Ardi meletakkan PSP diatas meja dan mulai membereskan barang-barang yang berserakan dengan bebasnya di lantai. Tak lama, suara pintu dibanting menggema dalam ruangan yang tak terlalu luas ini.

“Halo semuaaaa!!” seru Renata yang baru memasuki ruangan dengan semangat. Aku melihat sekaleng jus di tangannya. Bagus, sampah baru…

“Eh?! Pada mau beres-beres, ya? Tumben. Padahal, paling besok juga berantakan lagi” ujarnya. “Ini demi nyawa kita bodoh!! Kemaren udah ketahuan Namia, kan? Nggak ada jaminan kalau kita belom dilaporin ke albi-chou!!” seru Ardi, membalas kalimat Renata barusan.

“Ah…” ekspresi Renata berubah 180 derajat. Sepertinya dugaanku benar. Dan sekarang, mereka mau membersihkan ini walau tujuan kami berbeda. Setidaknya, ini lebih baik daripada hidup dalam tempat sampah. Apalagi, aku bisa melihat kaleng kopi kosong yang entah sudah berapa lama tergeletak bebas di atas lantai.
Pintu kembali terbuka, menyingkap sosok seorang pria yang kita kenal bernama Galuh.

“wah?”

Lantai bersih tanpa sampah sedikitpun. Segala barang sudah tertata rapi di tempat yang seharusnya. Ruangan sudah lebih harum. Beberapa kantong plastic besar berisi sampah di pojok ruangan yang siap dibuang. Dan dua orang yang sedang terduduk lemas di kursi.

Tidak aneh kalau dia sedikit terkejut. Malah akan lebih wajar kalau dia lebih terkejut lagi, melihat kedua temannya seperti itu. “Tumben pada rajin” komennya datar terhadap sebuah ruangan yang telah berubah 180 derajat. Tidak ada salahnya kalau dia lebih terkejut lagi.

“oh, iya. Tadi Rian manggil kita ke ruangannya Chris” ujarnya sambil mengecek keadaan game-game miliknya yang kini telah disusun beraturan dengan rapi. “Ada apa lagi? Kita udah beres-beres loh...” Ardi berujar dengan lemah. “Inget, hari ini tanggal berapa?” Galuh memulai kuis setelah lebih dulu meletakkan alat-alat yang telah selesai dia gunakan.

Kami bertiga berpikir. Aku tidak merasa di tanggal 17 Apil ada sesuatu yang besar. Ardi mengecek handphone miliknya, lalu terlonjak dari singgasananya semula. “TANGGAL 17 APRIL!!” serunya mendadak. “Ooooooh!!” Renata pun bangkit dari duduknya, menanggapi seruan Ardi.

“Nah, makanya kita mesti dateng sekarang. Ntar imbasnya ke Health point, lho” ucap Galuh datar, bersiap membuka pintu untuk keluar. “Okeeee!!” Ardi dan Renata mengikuti Galuh dengan semangat. Sedangkan aku masih terdiam, bingung akan apa yang terjadi.

“Rafi!! Ayo ikut juga! Masih mau hidup, kan?” ajak Renata. “Masih mau hidup”? Apa maksudnya itu? Apa ini menyangkut life and death matter? Yah, apapun itu...

“Ya” balasku singkat sambil mengikuti mereka
--------------------------------------------------------------------------------------
Aku mendekatkan tanganku untuk mengetuk pintu ruangan—Ah?!

‘BRAAAAAAAKK!!’

KAICHOOOOOOOOU!!” Ardi dan Renata mendobrak pintu?! Dan lagi... ditendang?!

“MASUK YANG TENANG!!” balas seseorang, yang kita ketahui bernama Chris, dengan galak pada mereka. “Oh, ayolah~ Kita hanya memeriahkan pesta, kok!” ujar Renata, seakan meminta kompensasi atas apa yang telah diperbuatnya bersama sang partner. “terserah, deh” Bu Chris menghela napas. “Oh, dan satu lagi”

Dengan mata yang terbakar, Bu Chris mendekatiku dengan langkah-langkah yang kuat. Satu langkah terakhir, dan, “Jangan.sekalipun.memanggilku.seperti.tadi”. Ucapannya terdengar marah dan serius, bahkan terkesan mengancam. “Ba...baik...” aku bisa merasakan aura pembunuh yang pekat darinya, bahkan membuatku berkeringat dingin. Instingku merasakan, dia bukanlah orang sembarangan, seperti kata Ardi dan Renata selama ini.

“Sudahlah, Ma. Itu bukan masalah besar”

Sebuah suara menasihati atasanku. Suara anak kecil? Aku menolehkan pandanganku ke arah sumber suara, dan mendapati seorang anak laki-laki yang memakai seragam SD. Tampak tak asing, karena dia adalah anak yang tadi kulihat di toilet.

“Sudahlah, sana gabung sama yang lain” Bu Chris menunjuk kumpulan orang-orang yang sedang mengerubungi berbagai makanan dan anak tadi. Dilihat dari dekorasi meriah yang berwarna-warni, confetti, balon dalam beragam warna, topi kerucut bergambar, dan sebuah kue yang besar dan tampak meriah, jelas ini adalah acara ulang tahun anak ini. Akuy menilainya dari keadaan sekitar, bukan karena ada spanduk besar bertuliskan “Happy Birthday Rian”

“Rian, selamat, ya!!” Renata menyalami anak, yang diketahui bernama Rian itu

“Akhirnya nambah setahun juga! Semoga tambah tinggi, deh!” Ardi mengacak-acak rambut anak itu hingga topinya terlempar

“Met Ultah” Galuh member ucapan selamat dengan datar dan garing. Sebagai latar belakang, sebuah benjolan yang cukup besar menyembul keluar dari kepala Ardi. Tentu saja itu hasil pukulan sang ibu yang tidak terima topi anaknya dilempar paksa dengan tidak sopan.

Aku mendatanginya dengan ragu. Aku tidak mengenalnya, dan aku datang kesini hanya karena mengikuti yang lainnya. Tapi, kurasa mencoba sedikit tidak masalah.

“Se… selamat ulang tahun…” ya, dengan senyum yang agak dipaksakan, aku mengucapkan selamat pada anak itu. Dia pasti akan melihatku dengan pandangan aneh. Pada saat itu, aku cukup kabur dan dia tidak akan mengingatku.

Tapi, kenyataannya agak terbalik

“Kakak orang baru itu, ya?” tanyanya padaku. “Eh? Ya… mungkin…?” aku menjawab penuh keraguan. Mungkin anak ini sudah diceritakan tentang keberadaanku. Apalagi, mengingat ibunya adalah atasanku.

“Waaah!! Jadi begini ya orangnya? Salam kenal!” serunya riang sambil menyalami tanganku. “Salam kenal juga…”.

Setelah berjabatan tangan, aku segera meninggalkan anak tadi dan bergabung dengan kelompokku. “kamu tahu anak itu siapa?” Tanya Renata padaku setelah menelan apa yang tadi sedang dikunyahnya. “Anaknya Bu—Nona Chris, kan?”. “Kalau bingung, pangil ‘bos’ aja. Netral” ujar Galuh menyarankan.

“Saran yang bagus. Akan kucoba” jawabku. “Nah, kembali ke topik. Kamu Cuma tahu sampai situ saja?” Renata meneruskan pembicaraannya, yang tentunya harus kujawab. “Ingat baru berapa lama aku disini?” Aku membalasnya dengan pertanyaan, berharap dia sadar kalau ini adalah hari keduaku disini. Ya, HARI KEDUA.

“Oh, iya…” dia menepukkan kedua tangannya, dan aku ingin menepukkan tanganku ke keningku. “Yah, kalau begitu, biar kukasih tahu. Anak itu…”

Aku menunggu pause singkat yang dibuat Renata untuk mendramatisir. Hei, aku juga cukup penasaran, walaupun aku bisa menduga kalau anak itu terlibat dengan ‘messiah’. Tapi, aku membutuhkan kepastian.

“dia ‘judge’ “

Ardi memotong kalimat Renata. Tepat sebelum kata pamungkasnya keluar, dia telah menyerobotnya lebih dulu. Sepertinya mereka mengharapkan sebuah reaksi kaget yang berlebihan, tapi sayang sekali, aku sudah menduganya. Karenanya, yang dapat kukatakan sebagai tanggapan hanya sebuah “oh…”

“Ah, nggak seru, nih! Bereaksi apa gitu, kek!” protes Renata, yang niat untuk melihat reaksinya sudah terlihat sejak awal. “Coba bikin reaksi-reaksi lebay kayak di komik masakan!”. Renata protes, tapi harusnya dia tahu kalau itu sangat-tidak-Rafi-sekali.

Yah, walau bisa diblang “sesuai dugaan”, tentu saja rasa kaget mendengar konfirmasi itu tetap ada. “Judge” adalah yang teratas, dan tugas itu diserahkan pada seorang anak kecil? Walaupun 11 orang lainnya adalah orang dewasa, tetap saja ini aneh!

Pesta berjalan, dan semua tamapk menikmati berbagai hidangan dan permainan di dalamnya. Tapi, pikiran-pikiran terus berkecamuk dalam kepalaku, walaupun mulutku terus mengunyah kue-kue yang disajikan di meja yang kugunakan untuk bersandar.

Apa… pilihanku sudah benar?

Dibalik wajah-wajah ceria ini, tersembunyi sebuah kegelapan pekat

Mereka percaya, kegelapan itu akan melahirkan cahaya

Tapi, apa cahaya akan lahir dari kegelapan yang dihabisi dengan kegelapan?

Mengotori tangan dengan darah, dan menyembunyikannya dari dunia luar

Membunuh para “Kriminal”

Mereka menganggap tak ada jalan lain untuk menyelamatkan negeri ini, selain cara ini

Terpaksa, atau…

…Dan sekarang, arus ini telah membawaku ke sini…

Apa… aku pun telah salah?

Yang mana “kebenaran”, dan yang manakah “kesalahan”?

Apakah ini sebuah “kesalahan”?

Haruskah aku berhenti sebelum semuanya terlambat,

Atau melanjutkannya dengan mempercayai mereka?

Banyak hal yang belum kuketahui, tapi sepertinya aku harus mengenal batas dari apa saja yang perlu kuketahui

Aku tak akan tahu bila sudah menginjak “ranjau” atau menyalakan “bom waktu”

Dan juga… mungkin Anne tidak pernah mengharapkanku menjadi seperti ini…

Tentu saja dia tidak akan mengharapkannya! Dia tidak pernah menyukai hal semacam ini!

Tapi…

.
.

‘pok’

“!” sesuatu telah memebntur kepalaku dengan pelan. Dan sepertinya benda itu tidak tebal maupun berat. Kekuatannya sangat kecil. Tapi, itu cukup untuk membuatku sontak tersadar. Sepertinya aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri hingga tak menyadari kalau pesta sudah hampir usai. “Ya ampun… apa sih yang membuatmu termenung sapai tidak sadar dipanggil?” Namia, yang jelas baru saja memukul kepalaku dengan beberapa lembar kertas, tampak sedikit jengkel. Pasti dia sudah beberapa kali memanggilku, tapi aku tidak menjawabnya. Tentu saja, mendengar pun tidak.

“Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu” jawabku sekenanya. Walau sedikit tampak tak puas, dia tetap menerima alasanku. “baiklah… kalau begitu, aku akan memberitahu dua hal” ucapnya sembari membereskan kertas-kertas itu. Misi baru kah?

“Pertama, tesmu sukses. Sekarang, kau telah menjadi anggota resmi ‘messiah’!” dia mengatakannya dengan cukup ceria, tapi itu benar-benar tidak ada pengaruhnya. Aku tidak tahu harus senang atau tidak mendengarnya. Mungkin ini karena pikiranku sedang kacau.

“Dan yang kedua…”

“Misi baru?”

“Ya, kau cukup tajam” Namia memberikan kertas yang tadi dipegangnya. “Tajam”? Bukankah wajar aku berkata begitu jika melihat dia memukulku dengan kertas dan masih memegangnya sampai sekarang? Tentu dia tidak punya urusan lain denganku selain mengantarkan tugas

“Seperti sebelumnya. Yang kau butuhkan ada di kertas-kertas ini. Kalau ada yang kurang, tanyakan saja. Karena tugas kali ini tidak ada batas waktunya” seiring dengan kalimat terakhir, dia pergi menuju atasannya.

“Kayak di RPG aja, kan? Dapet beragam mission, tapi yang kita lawan bukan monster di dunia khayalan” Ardi melangkah ke meja belankangku untuk mengambil sebuah mini tart. “Rasanya, kayak main character dalem RPG. Menjalankan story dipadu action yang real. Hebat, kan?”

Jujur, aku merasa ada yang aneh. Dia mengatakan semuanya seakan menikmati ini semua, dari membunuh orang sampai melawan hukum. Dia mengatakan seolah-olah apa yang mereka lalui hanya sebuah game yang tak memiliki fasilitas save. Jadi, dia…

“Tapi, mereka memang pantas mati, jadi nggak masalah”

Aku segera menolehkan wajahku ke arah Ardi. Berbeda dengan ekspresi happy-go-lucky yang selama ini setia terpampang di wajahnya, kali ini rasanya ada sesuatu yang lain. Entah kegelapan atau kesedihan. Atmosfer di sekitarnya berubah menjadi berat.

“Lagipula, aku sudah…”

“…?” Aku memperhatikan tindakannya yang tidak biasa. Kalau kalian pernah melihat hal yang langka, kalian pasti akan memperhatikannya, bukan? Kurang lebih kaidahnya sama.

“…nyaris menamatkan Prince of Harem dengan sempurna!”

“…hah?”

“Yak, abis isi perut pake gratisan, lanjutin kejar!!” Ardi pun kembali mengambil beberapa kue yang tersisa. Sepertinya, memang dia berniat memanfaatkan kesempatan makan gratis ini sebaik-baiknya.

”tidak semua orang disini mempunyai keluarga hangat yang setiap hari menunggu mereka, Rafi…”

Ingatan akan perkataan sang atasan kembali terngiang. Tentu saja, tidak semuanya mengalami itu, tapi, aku tahu sesuatu yang pasti. Tapi orang punya latar belakang masing-masing. Dan mereka pun pasti punya alasan masing-masing saat bergabung dengan “Messiah”.

Mereka pun mungkin banyak yang mengalami latar belakang yang kelam. Belum lagi ditambah tekanan batin dari diri mereka sendiri. Mereka harus membunuh orang, padahal memegang senjata pun belum pernah. Dan mereka berusaha terus maju, walaupun batin mereka tertekan atau terluka. Dan, tentu saja kemungkinan itu terjadi pada orang-orang di sekelilingku bukan nol.

Aku menggenggam kertas di tanganku.“Aku harus melakukannya. Sudah terlambat untuk mundur” tetapku dalam hati. Aku juga memiliki alasan untuk tetap berada di sini, walau mungkin mereka tidak akan menyukainya jika aku menjadi pembunuh.

Tapi, aku sudah pernah membunuh banyak orang dulu. Tanganku sudah sejak lama ternoda oleh darah. Sudah jelas jiwaku akan ditolak oleh surga. Karenanya

Aku akan menghuni neraka berapa tahun pun lamanya, asal aku dapat membawa mereka dan orang-orang lain menuju surga
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sun Feb 27, 2011 11:26 am

‘klek’

Pintu kamar kubuka dengan tenang, pertanda sang penguasa ruangan siap beristirahat. Dengan handuk yang masih tergantung di kepala, aku mengerinkan rambutku yang basah. Dan saat itu, mataku tertarik pada sesuatu yang entah kenapa tadi kutinggal di atas meja kecil di kamarku

Judgement Data

“Kok bisa kutinggal disini? Bodoh…” pikirku menanggapi tindakan ceroboh yang telah kulakukan. Masih sambil mengeringkan rambut, aku pun duduk di kasur untuk sedikit mengurangi rasa lelah hasil bekerja seharian disertai pesta. Dengan tangan kanan, kuambil judgement data itu untuk membacanya. Tapi…

‘BRAK!!’

“Kakak!!”

Rina masuk dengan begitu mendadak ke kamarku, dengan disertai pembantingan pintu kamar yang seharusnya bukan pintu yang kuat seperti pintu jati. Tentu saja, dalam seper-entah berapa detik, aku segera menyembunyikan Judgement data, dan separuhnya adalah gerak refleks. Saat aku menyadarinya, ekspresi wajahnya telah berubah. Dia tampak heran.

“Kakak…?”

“Ya?” Aku menjawab dengan ekpresi yang kubuat senormal mungkin. Tapi, karena aku tidak bisa melihat wajahku sendiri, aku tidak terlalu yakin dengan hasilnya.

“Kakak sedang… apa?”

Dia menunjukkan jari telunjuknya ke arahku. Aku pun sadar, tanganku telah menyembunyikan judgement data di bawah bantal! Dan tentu saja, ini semua kelihatan mencurigakan dengan jelasnya. Tindakan bodoh kedua…

“A..ahaha… ini Cuma…” ya, menghindar dengan kata-kata, atau juga disebut ngeles disini, bisa jadi satu-satunya jalan yang kupunya sekarang

“Kak…”

“hm?”

“Wajar, sih… tapi, jangan suka nyimpen majalah playboy disini” satu kalimat barusan, ditambah satu helaan napas yang baru saja meluncur keluar dari Rina.

“A--!! Siapa yang nyimpen majalah kayak begitu?!” bantahku jujur. Sebersit seringaian pun terlihat pada wajah Rina. “Emangnya apa lagi yang patut disembunyiin pemuda sehat umur 19?” dia perlahan berjalan kearahku, masih bersama seringaian yang belum hilang dari wajahnya. “Yah… nggak Cuma itu kan…” pikirku.

“Ada apa ke sini malem-malem? Tumben” tanyaku pada Rina yang sekarang sudah duduk di sampingku. “Emang nggak boleh?” tanyanya balik. “Bukannya nggak boleh… Cuma tumben aja” jawabku.

Dia terdiam, begitu pula denganku. Atmosfir di sekitar kami pun terasa berubah. Suasana ceria barusan telah ditelan oleh kesunyian, menjadikannya cukup berat.

“… kak…”

Akhirnya dia mengatakan sesuatu. Apa mungkin, dia ingin bercerita tentang masalahnya yang kemarin diberitahu ibu? Apapun masalahnya, sepertinya sekarang dia sudah siap untuk menceritakannya.

Aku mengunci mulutku, menunggu dia mengatakan sesuatu

“Apa sih gunanya sekolah?”

“… hah?”

Aku tidak percaya mendengarnya. Setahuku, Rina bukan anak yang malas bersekolah, malah sebaliknya. Kalau dia menanyakan hal seperti ini, artinya masalah ini cukup serius. Apa dia di-bully di sekolah, sampai dia mau berhenti?

“Tunggu dulu… emangnya kenapa?” tanyaku, mencoba memastikan alasannya.

“Habis… kan sebentar lagi UN, terus SMA!” serunya. Wajah seriusnya menampakkan kecemasan yang dalam. “Terus, wajib belajar kan Cuma 9 tahun, jadi SMA pasti bayar, dan pasti mahal!!”

“Sedangkan, kalau aku nggak sekolah, aku bisa bantu cari uang, kan? Makanya…” Rina menggenggam erat tangannya, wujud pelampiasan perasaannya. Aku tidak bisa berbuat banyak, karena kesulitan ekonomi ini memang fakta yang sulit diubah dalam waktu dekat. Aku pun mengusap kepalanya, dan berkata,

“Rina mau berhenti?”

“Nggak mau! Aku mau terus sekolah, tapi…” Rina berhenti sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya lagi. “… Kalau begini terus, aku Cuma akan jadi beban keluarga…”.

Aku melihatnya dengan pandangan iba. Seorang anak yang ingin sekolah, tapi terbentur masalah keluarga. Sedangkan anak-anak orang kaya yang diberi kesempatan malah menjauhinya? Padahal, akan terjadi simbiosis mutualisme kalau keadaan itu dibalik. Sayangnya, kenyataannya tidak begitu.

Anak-anak yang ingin sekolah harus berhenti, dan bekerja walau mereka belum memasuki umur produktif. Sementara, orang kaya menghambur-hamburkan harta mereka dengan menyelimuti tubuh mereka dengan kebutuhan tersier yang tidak penting. Di dunia ini, begitu banyak orang miskin dan orang kaya tinggal di satu kota, tapi kenapa yang terjadi malah melebarnya kesenjangan social dan bukannya kesamarataan strata?

Sudah jelas, bukan? Inilah egoisme manusia-manusia busuk

Sedangkan kami disini, hanyalah rakyat miskin yang tidak dapat berbuat banyak. Berusaha bertahan hidup, dengan hal-hal terbatas yang dapat kami lakukan.

“Sudahlah… nggak usah khawatir sama biaya. Kan ada kakak!” Ujarku yang terus berusaha menyemangatinya. Aku tidak boleh membiarkan masa depannya hancur karena masalah ini.

“Tapi… kalau aku berhenti sekolah, kan--!”

“ibu akan sedih”

Mata Rina membelalak kaget. Wajahnya menyiratkan penyesalan, mungkin karena dia tidak memikirkan perasaan ibu dalam argumennya. Badannya tampak bergetar, dan butiran air mata menetes jatuh dari pelupuk matanya. Saat ini, perang pasti sedang berkecamuk dalam batinnya, dan semua itu pasti menyiksanya.

Aku mendekatinya, dan memeluknya dengan hangat. “Kakak juga nggak mau Rina berhenti sekolah, jadi kakak pasti akan melakukan sesuatu. Tenang saja” aku menenangkannya dengan kata-kata yang lembut dan hangat. Rambutnya kubelai lembut dengan penuh kasih sayang. Kuharap, aku dapat menghapus kesedihannya walau hanya dengan ini saja.

“Kalau mau membantu ibu, silakan… tapi, belajar tetap nomor satu. Karena, masa depan keluarga ini ada di tangan Rina…”

Rina, masih dalam diamnya, turut memelukku dan menangis. Aku pun membiarkannya membuang seluruh kesedihannya. Walaupun terlihat klise, tapi memang begitulah adanya. Begitu banyak anak Indonesia yang tidak bisa sekolah, sampai masalah besar ini dianggap sebagai tema cerita yang pasaran. Selain edukasi, kurasa, dia pun tidak mau meninggalkan teman-temannya.

teman-teman, ya…

sudah lama sekali, ya…
-----
Bulan pun berganti dengan matahari, menandakan aku akan kembali bekerja hari ini. Untung saja tugas kali ini tidak ada batas waktunya, karena tadi malam aku tidak sempat membaca satupun huruf dari judgement data. Ini membuktikan kalau “Messiah” masih manusiawi dengan tidak memberikan member mereka pekerjaan secara non-stop.

Dan sesampainya di ruangan…

“Gekh--!!”

Untuk ketiga kalinya, ruangan ini terlihat tidak bersih dan tidak rapi pada pagi hari dimana seharusnya karyawan baru datang. Dan, ruangan ini ternyata telah berpenghuni.

“Siaaaaaaal!! Kok Li* Kang lemah banget, sih?!” seru Renata kesal. Dia pun hampir membanting controller PS, dan akan berlanjut kalau Ardi tidak mengingatkannya akan Galuh. Dilihat dari apa yang tertera di layar, mereka sepertinya sedang duel… dan game ini penuh darah.

“Kalian… kok bisa ngeberantakin ruangan ini tiap hari?” tanyaku pada mereka. Aku pun berhati-hati dalam mengambil langkah agar tidak menginjak apapun, apalagi kalau ada benda penting yang terjatuh. Karena jam kerja masih belum datang, aku pun memutuskan untuk duduk sebentar di depan meja dan menentukan apa yang akan kulakukan untuk menghabiskan waktu disana.

Aku mengambil sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Jepang (kayaknya), yang sama sekali tidak bisa kubaca. Sesekali, aku melihat mereka berdua yang bermain dengan asyiknya. Sesekali mereka bertengkar, tetapi masalah selalu selesai setiap stage berganti.

Kinda brings back memories, huh?

Memori-memori lama itu mulai memenuhi permukaan pikiranku. Mulai dari saat-saat yang membahagiakan, sulit, bahkan sedih. Saat bertengkar dengan teman, saat kita bermain bersama, saat kita menyusun rencana untuk menjahili guru, segalanya kembali teringat. Masa-masa yang normal dan tenang.

Masa-masa yang tak dapat kembali lagi

“…..”

… yah, sudahlah. Namanya juga masa lalu… mana bisa diulang?

Mataku kembali mencari sesuatu, apapun itu. Pikiranku mungkin melayang cukup jauh, dan aku tidak mau membiarkannya terbang lebih lama lagi. Bisa-bisa, waktu bekerja sudah lewat tanpa kusadari. Tapi…

“… Mereka semua… bagaimana kabarnya, ya?”

Sejak lulus SMP, aku tidak pernah mendengar apapun dari mereka, dan tak ada berita mengenai mereka. Atau mungkin, akulah yang sudah terisolasi dalam dunia intelejensi. Sudah hampir 4 tahun… mungkin mereka bahkan sudah tidak mengingatku lagi karena terlalu sibuk dengan teman-teman baru mereka. Sekarang mungkin mereka sedang menjalani hari-hari normal sambil tertawa dengan kekasih mereka. Hal yang sangat normal bagi anak-anak seangkatanku.

“…..” aku terdiam dengan pandangan kosong, seakan memerhatikan isi kepalaku sendiri. Aku berpikir, apakah hidupku juga akan seperti itu kalau saat itu aku tidak memilih jalan ini? Kehidupan normal yang biasa, tanpa bisa melakukan apapun. Kehidupan yang sungguh lemah dan sia-sia bagi khalayak luas, dulu sudah terbentang di depan mata.

“Yah, aku juga nggak menyesal, sih…” aku menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal dengan kalimat itu di kepalaku. Aku kembali melihat Ardi dan Renata yang sedang bertarung di stage terakhir, dan saat itu, aku menyadari sesuatu. Ada sesuatu yang kurang.

“Oh iya, Galuh mana?” tanyaku pada dua anak yang sedang sibuk memainkan konsol milik sang the-so-called leader. Masih dengan sepasang mata yang lekat dengan TV dan jari-jari yang terus bergerak aktif untuk membunuh, Ardi menjawab, “Ah, kalau dia sih mungkin hari ini nggak masuk—KEI-OOOOOOOOOOOOO!!”. “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!” Renata menyerukan kekesalannya dengan nyaring. Dia memukul keningnya dengan keras lalu menyikut Ardi, “Sialan lo, Di!!”. “Ahaha!! Kerjaanku dipotong 5%, nih~” rupanya mereka menjadikan pertrarungan barusan sebagai ajang taruhan dan pemotongan pekerjaan.

Aku pun mencoba mengembalikan pembicaraan yang tadi terputus oleh “K.O” yang mendadak, “Nggak masuk kenapa?”. “Dia nggak bilang apa-apa, jadi mungkin juga Cuma telat. Tapi, ini lumayan jarang. Jadi, mungkin dia nggak masuk” ucap Ardi sambil menahan beberapa pukulan yang dilancarkan Renata di dunia nyata, present time. “Kalau dia nggak dateng, artinya konsol sama TV bisa kita pake!”

“Tapi kerjaan juga otomatis nambah, kan?” ujarku, yang telah membuat mereka berhenti bergerak. Tampaknya, mereka terlalu konsen dengan taruhan mereka, sampai lupa soal kerjaan. “A…”

“masukmasukmasukmasukmasukmasukmasukmasukmasuk!!” Renata dan Ardi menggumamkan doa itu tanpa spasi, sedangkan aku yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Dasar orang-orang aneh…

“Sudahlah, aku kerja duluan, ya” seiringan dengan kalimat tadi, aku bangkit dari dudukku. Tapi, gerakanku terhenti oleh terbukanya pintu yang akan kutuju. Gerakan pintu itu menyingkap sosok dua orang yang sudah kukenal. “Nah, sana kerja!” ucap Nona Chris kasar pada Galuh. “Iya, nggak usah dibilang juga gue tau” jawab Galuh dengan nada malas bercampur keterpaksaan. Dia pun berjalan ke arah dua juniornya, tapi tidak untuk merebut controller, melainkan membisikkan sesuatu di telinga keduanya. Pekerjaan?

“Rafi”, aku menoleh melihat wajah dari sumber suara, yang tak lain adalah Nona Chris. “Tugasmu kemarin dicabut”.

“eh? Kok bisa?” tidak hanya kulontarkan, pertanyaan itu juga bergema dalam kepalaku. “Soalnya, udah diselesaikan orang lain. Waktu itu, kamu kukaish Judgement datanya karena katanya kemungkinan dia nggak bisa” jawabnya tenang. “Jadi… yang nerima Judgement data boleh lebih dari satu?”. “Bisa, disesuaikan sama keadaan”.

hee…

memang bisa lebih efektif, sih. Tapi, kemungkinan bocor juga lebih besar, dong?

“Yah, jadi, bisa kuambil lagi datanya?”

“Yah, aku juga belum baca, sih…” aku menyerahkan judgement data yang tak sempat kubaca kemarin pada atasan albinoku, dan dia pun pamit dari sini.

“Oh, satu lagi”

Nona Chris menghentikan langkahnya sebelum menutup pintu. “Jangan lupa bersih-bersih yang bener. Program tahunan kita sebentar lagi” ucapnya, meninggalkan tanda tanya dalam kepalaku. “program tahunan?”.

“Ya, tinggal seminggu lagi” Nona Chris mengutarakannya dengan sebuah helaan napas kecil. “Bukannya masih sebulan lagi?” kali ini, Galuh yang bertanya. “Lupa kalau ada inspeksi? Pengamatnya sampai di sini minggu depan” dan kalimat tadi benar-benar mengakhiri keberadaannya di ruangan ini, menyisakan para petugas pembersih.

“Yak, udah dapet perintah kan. Sana kerja” sang leader telah memberi komando, yang segera dilaksanakan anak buahnya tanpa banyak protes. Yang banyak hanya gumaman-gumaman yang tak jelas.
-----
Jam makan siang, atau nama lainnya jam istirahat pegawai, telah tiba. Kami berempat tentu memakai kesempatan ini sebaik mungkin untuk mengisi tenaga. Dan kurasa, inilah saat yang paling tepat untuk sedikit berbincang-bincang dengan rekan-rekan kerjaku.

“Yang dimaksud ‘program tahunan’ itu apa?” tanyaku, selayaknya newbie yang tidak tahu apa-apa. Dan kenyataannya, aku baru bekerja disini selama 3 hari. Sangat wajar kalau aku tidak mengetahui kebudayaan yang berlaku di perusahaan ini.

Ardi mengambil inisiatif pertama untuk menjelaskannya, “jadi, yang tadi dimaksud sama albi-chou kemungkinan besar ‘Program Pertukaran Pegawai’ PT. Farran”. “Ada yang kayak begitu, ya?” gumamku sambil menyandarkan sisi wajahku diatas punggung tanganku yang masih memegang sendok. “Yah, udah ada sejak aku masuk sini. Mungkin buat nambah pengalaman sama penajaman kemampuan adaptasi?” Ardi mengutarakan deduksi asalnya, yang mungkin tidak sepenuhnya salah.

“Paling kayak versi pegawainya pertukaran pelajar. Cuma ini empat tahun sekali” timpal Renata memperjelas. “Tapi, karena belum pernah nyoba dua-duanya, jadi aku nggak begitu tahu juga”. Tidak jauh dari tebakanku, aku pun manggut-manggut mengerti. “Memangnya, PT. Farran punya cabang dimana aja?” tanyaku

“Hmm…” Renata memandang langit-langit, mengingat ingat letak gedung-gedung itu dengan pasti. “Kayaknya di Indonesia ada tiga termasuk ini. Terus, katanya, di luar negeri juga ada beberapa cabang” pada akhirnya, jawaban yang keluar tidak pasti. Tapi, itu sudah cukup jelas bagiku.

“Emangnya kenapa? Minat?”

“Nggak, Cuma nanya aja” aku pun kembali menyantap makan siangku dengan tenang.

“Yah, tapi yang dipilih bisa siapa aja, kan?” Ardi bergabung dalam obrolan yang kukira sudah berakhir itu. Dia pun melanjutkannya dengan Renata dan Galuh. “Tergantung kebutuhan, biasanya. Tapi kalau ada yang berpotensi, bisa masuk pengecualian” Galuh, selaku pegawai paling senior, memberi jawaban pada pertanyaan juniornya. “Oh, bisa, ya? Jangan-jangan cleaning service juga…”

Galuh menyambung kalimat yang belum selesai itu,

“bisa”

“Wow… ke luar negeri gratis…” dengan pandangan lurus, Ardi mengelus dagunya seakan ada janggut yang tumbuh di atasnya. “Boleh juga, tuh…” mata Ardi bersinar bagaikan anak kecil yang melihat mainan gratis berkualitas bagus di depan matanya. “Tapi, mana mau albi-chou ngirim pegawai males, Di?”

‘Jreb’

“Ukh--!!”

Rasanya… tadi ada bunyi tusukan…?

“Ya—yah… itu sih…” Ardi sepertinya sadar kalau dia bukan pegawai yang rajin. Syukurlah.

“Kalau soal itu, tadi gue udah bikin kesepakatan sama Chris” Galuh menyela, dengan seberkas sinar harapan bagi Ardi. “Apa?! Apa katanya?!” rasa penasaran menggeluti Ardi. “Yah, katanya, kita berempat bakal dikirim ke salah satu cabangnya…” Galuh menyelesaikan suapan terakhirnya, lalu kembali melanjutkan kalimatnya.

“… Kalau selama sebulan ini hasil kerja kita memuaskan”

Kalimat itu tampaknya cukup membuat Ardi down. Tapi, yang namanya perjanjian pasti menyangkut keuntungan kedua-belah pihak, kan? “Makanya, kalau mau mesti usaha” ucap Renata seusai menyeruput jusnya. “Kesampingin dulu PSP-nya”

“JANGAAAAAAAN!! Endingnya dikit lagi!!”Ardi membenamkan wajahnya di atas meja. Cukup efektif untuk meredam suaranya, sehingga hanya kita yang dapat mendengarnya. “Yah, aku juga nggak begitu mau ke luar negeri, sih. Di dalem negeri aja udah seneng sama barang-barang bajakan murah”

“Jangan jadiin itu alesan buat males kerja. Kalian yang males, gue yang dimarahin” kata Galuh. Dan tak lama setelahnya, saat istirahat pun habis. Kami pun melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.
-----
Semantara itu, di ruangan sang atasan, terlihat seorang lelaki paruh baya berdiri di depan mejanya. Lelaki itu mengenakan setelan jas rapi dan rambutnya yang cukup beruban tak berusaha dia sembunyikan. Chris, di lain pihak, menampakkan wajah yang cukup masam. Kelihatannya, dia tidak begitu menyukai laki-laki ini.

“Jadi… ada apa kesini?” tanya Chris dengan nada yang menyiratkan ketidak-ikhlasan. Laki-laki itu membalasnya dengan sebuah senyuman yang mengangkat kerutan-kerutan di wajahnya. “Jangan pasang muka nggak enak begitu, lah… ntar rambutmu makin putih, lho” ucapnya.

“Mana bisa lebih putih dari ini?” ujar Chris. Dia sedikit memalingkan wajahnya, tapi fokus matanya kembali pada lelaki itu saat wajahnya disodori beberapa lembar kertas. “Ini daftar pengujinya, beserta data mereka” dia melepaskan genggamannya pada kertas-kertas itu sesaat setelah Chris menerimanya. “Jangan sampai hilang, dan urus baik-baik”.

“Seperti biasa, mereka akan disebar di berbagai tempat. Dan untuk pengawasan di daerah kekuasaanmu pun, mungkin akan ada beberapa kelompok. Tampilkanlah yang terbaik agar tidak mencoreng nama perusahaan utama”

“Iya, iya… tiap event ini jalan, omonganmu sama terus tahu” usai mengucapkan itu, Chris melihat-lihat daftar yang ada. Ada beberapa orang yang dikenalnya, tapi ada juga yang tidak. Dia harus lebih berhati-hati jika yang mengawasi daerahnya adalah orang yang tak dia kenal. Apalagi kalau para bawahannya tidak bekerja dengan benar dan tertangkap basah di saat yang salah.

“Terus, ada satu lagi”

Ucapan pria itu membuat Chris, untuk ke sekian kalinya, mengembalikan fokusnya. “Untuk kali ini, kita juga akan mempertukarkan ‘Judge’ dan beberapa ‘Hermes’. Berhati-hatilah dengan kebijakan baru ini” awasnya. “Mau go international, nih ceritanya? Kukira mereka lebih suka warga lokal menyelamatkan negaranya sendiri” balas Chris.

“Mungkin, ini juga supaya kedua belah pihak dapat belajar satu sama lain. Lagipula, ini program berjangka. Paling mereka akan kembali beberapa bulan ke depan”

“Kok ‘paling’? Belom ada kata ‘pasti’ dari atas, ya?” tanya Chris. “Ini yang salah Rendy apa bawahannya, sih?”.

Pria itu menajamkan matanya, tanda tidak suka mendengarnya. Dengan suara yang lebih serius dan tak lagi bersahabat, dia berkata, “Jaga ucapanmu, Chris”.

“Ayolah, Hades. Dia juga lebih suka kita panggil pakai namanya, kan? Atau, kau tersinggung karena mengira ‘bawahan’ yang kumaksud itu kau? Jelas bukan, bodoh” Chris memabalasnya dengan ketus

Pria itu menghela napas dengan keras, sambil memegangi kepalanya yang cukup lelah menghadapi wanita di hadapannya. “Mengubah sifat seseorang memang sulit, ya…” ucapnya. “Yah, yang penting, tugasku mengantarkan ini sudah selesai. Aku mau kerja lagi”.

Sebelum menutup pintu, dia berhanti untuk menatap Chris sebentar. Wajahnya tak menyiratkan kebahagiaan, melainkan, dia tampak cukup marah. “Dan satu lagi… Berhenti memanggilku ‘Hades’, Chris”

Chris mengangkat kedua tangannya, “Oke, oke… aku menyerah, Hadianto Suherman”.

“Nah, begitu lebih baik”, pria yang diketahui bernama Hadianto itu pun meninggalkan ruangan Chris. Meninggalkan wanita itu kembali sendirian di ruangannya.

“Haah… orang itu bener-bener, deh…” Chris menghela napas. Dia menyandarkan punggungnya di kursinya yang empuk. Dengan sedikit dorongan, kursinya berputar sedikit, membuatnya dapat melihat langit yang mulai memerah.

“Padahal sama-sama ‘top’, tapi masih aja kaku…”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Mon May 02, 2011 9:23 am

“Oke, sesuai permintaan kalian”

Sebuah kalimat terdengar dibalik pintu kayu yang terlihat simple namun kuat. Di balik pintu itu, terdapat seorang pria yang tak dapat disebut muda lagi sedang duduk di belakang mejanya menghadap sepasang pemuda dan pemudi yang sedang dia ajak bicara. “Kalian akan kutugaskan bersama”

“Horeee!! Bos memang baik!” seru sang pemudi girang. Di lain pihak, sang pemuda tidak menampakkan peubahan ekspresi yang drastis. Hanya sebuah senyuman tipis yang tampak di wajahnya.

“Tapi, jangan lupa tujuan utama kalian. Kalian ke sana bukan untuk kencan, mengerti?!” kali ini, dengan suara yang lebih ditinggikan dan ditekan, pria itu mengingatkan keduanya.

“Tidak usah dibilang juga kami sudah tahu, kok” balas sang pemuda dengan tenang. “Memangnya anda pikir kami seperti dua penyaji makanan di kantin bawah yang setiap hari ‘bermesraan’ sampai lupa dengan pekerjaan mereka sendiri?”

“… tidak…”

“Apa maksudnya jeda tadi?” sang gadis mengernyitkan matanya, mempertanyakan kejujuran pria yang terlihat cukup tua di matanya tersebut.

Sedikit keheningan menyusup, dan dihancurkan dalam waktu yang tidak dapat dikatakan lama. “Sudahlah, lebih baik kalian persiapkan segala yang kalian butuhkan. Time limitnya sebentar lagi, lho” ujarnya dengan helaan napas tipis.

“… Menghindar”

“Dia menghindar…”

“Diam kalian”
-----
“Dan… kerjaan pun selesai!!” seru Ardi lega setelah mengakhiri pekerjaannya hari ini. Dia langsung menjatuhkan badannya di atas kasur (atau matras?) yang sudah tergelar dari pagi dengan selimut yang kusut di atasnya. “Jadi ngantuk... pengen tidur... simpen tenaga buat nanti malem...orz...”

Entah apa yang dimaksudnya dengan “orz”, aku tidak mengerti. Tapi, ternyata niatnya sungguh kuat. Ardi segera terlelap sesaat setelah mengucapkan kalimat yang kukira dia kenakan jubah majas hiperbola. Rupanya itu denotasi.

”besok luang!!” Renata melakukan dive ke atas kasur tersebut dan segera menyambar PSP yang dibiarkan terbaring dibawah selimut. Dan Galuh, seperti biasa, berjalan dengan tenang menuju singgasananya di depan TV. Mataku menangkap laptop yang menyala, entah siapa pemiliknya.

”ini dari tadi nggak dimatiin? Boros listrik, kan?” ujarku sambil mendekati meja dan duduk di atas kursi. Memandang deretan huruf dan angka di sebuah tab berlabel downloads. Entah atas dorongan apa, mungkin iseng bercampur penasaran, aku membuka file yang paling atas. double click, dan terlihatlah beberapa file bertipe JPEG.

"kok... Rasanya firasatku jadi nggak enak?" pikirku, tapi pikiran itu kuacuhkan. Manusia memang lemah sama rasa penasaran, padahal rasa penasaran itulah yang justru sering menyandung, bahkan menjatuhkan mereka ke lubang dimana mereka tidak dapat keluar lagi.

'klik klik'

loading yang hanya berlangsung seper-sekian detik segera mengungkap sosok sebenarnya dari file itu, sebuah komik. Mending kalau hanya komik biasa, tapi komik ini... Kenapa cover-nya saja sudah menampilkan gadis bugil?! Tanganku pun menutup file itu, sama cepatnya dengan kecepatan loading file itu saat kubuka.

Jadi... Ini ya konsumsi mereka sehari-hari?

"ta-- tadi kan...!" Renata menunjuk layar laptop dengan wajah kaget. "AAAAAAARDIIIIIII!!!!" dia berseru keras, membangunkan ardi dari tidurnya yang singkat. "kamu download doujin ecchi lagi?!"

Dengan wajah yang masih terlihat mengantuk dan suara yang menggambarkan keadaan yang sama dengan wajahnya, ardi pun membalas, "habis... doujin buatan author favoritku udah keluar versi Bahasa Inggrisnya, sih..."

"kamu mau dihajar atasan Chris lagi? Bego" Galuh menyambung pembicaraan mereka, mengganti posisi Renata dalam mengingatkan dan menghina, atau kira-kira begitulah yang kupikirkan.

"Tapi pairing-nya cari yang bagusan dikit, kek! Jangan Kousuke x Fyria!! Kousuke nggak boleh jadi lolicon!!

Mereka pun melanjutkan acara debat yang tidak kumengerti ini. Aku memalingkan wajahku ke jendela, mencari kesegaran untuk mataku dengan melihat langit yang sudah tampak merah dengan sedikit kecondongan pada kegelapan alih-alih cahaya. Tapi, dari balik merahnya awan yang terwarna oleh cahaya matahari yang mulai kelam, langit yang cukup biru masih terlihat di celah-celah awan. Hari masih sore, mungkin ada baiknya aku pulang sekarang.

Lagipula, tidak ada salahnya aku mengistirahatkan pikiranku dan melepas penat dengan menghabiskan waktu bersama keluargaku, bukan?

"yak, hari ini sudah selesai, kan? Aku pulang, ya" ujarku pada yang lain, sekadar memberitahu mereka kalau aku tidak akan menghabiskan waktu di sini, melainkan pulang ke tempat dimana ibu dan adikku menunggu. "jangan lupa, kita masuk lagi Senin" ujar Galuh mengingatkan. Tentu dia tak mau pekerjaannya bertambah banyak dan mengurangi waktunya memain shooting game yang disukainya.
"tentu" jawabku singkat sambil menutup pintu.

Aku berjalan menelusuri lorong, menuju jalan keluar yang biasa kupakai. Sambil melangkahkan kakiku satu demi satu, sebuah pertanyaan menghantui kepalaku. Dan entah kawin dengan apa, pertanyaan itu beranak menjadi lebih banyak.

apa mereka tidak pulang?
atau mereka tidak mau pulang?
apa mereka memiliki masalah keluarga?
atau mereka tak lagi memiliki tempat kembali?/i]

Dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuatku makin berpikir bahwa ruangan kami sekarang adalah "ruang pelarian", walau mungkin hanya imajinasiku saja yang terlalu berlebihan dan seenaknya mengasumsikan. Tapi, jika dilihat dari beberapa aspek, kemungkinannya ada, bahkan cukup besar.

.....

Sebagai rekan kerja, mungkin tak sepantasnya aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadi mereka. Aku pun belum cukup mengenal mereka untuk dapat menanyakannya. Lebih baik sekarang kuemban dulu misi untuk menyelamatkan mereka dari kemalasan dan pemborosan listrik.

"Rafi!"

Seseorang memanggil namaku. Suara yang sepertinya pernah kudengar. Aku mencari sumber suara untuk memastikan tebakanku. Dan ternyata benar, itu suara Pak Suryo.

"gimana rasanya kerja di sini? Udah enak?" tanyanya, mungkin sekadar basa-basi. "yah... Lumayan lah, pak..." jawabku sekadarnya. "terima kasih bapak memberi saya kesempatan kerja disini"

"ahaha... Nggak usah sopan-sopan amat gitu! Disini, kalau mau sopan, sama atasan yang atas banget aja" ujarnya sambil tertawa kecil. "ngomong-ngomong, Aku masih ada hutang kan? Nih"

Pak Suryo mengeluarkan dompetnya. Kukira dia akan memberiku koin-koin sejumlah dengan hutangnya. Tak kusangka, dia mengambil sebuah lembaran hijau!

"tambah bunga, ya"

"ta--tapi ini jelas kebanyakan, pak!!" sanggahku. Tanganku merasa tidak enak memegang uang yang jumlahnya tergolong besar untukku. "udahlah, terima aja. Kamu gajian masih lama, kan?". "tapi..."

"yah, jangan ngerasa nggak enak. Kan aku dapet pahala dari hibah" dia pun melangkah pergi. "jangan lupa ditabung buat ke Amerika"

Aku tersentak mendengarnya. Apa dia mau identitasku yang asli ketahuan?! Tapi aku tak sempat mengejarnya. Yah, biarlah, toh dia juga tak mengatakannya dengan eksplisit. Kalau memang ada apa-apa mungkin yang paling dibuat repot adalah Nona Chris.

Masih dengan kaki terpaku, aku memandang tanganku yang masih menggenggam dua puluh ribu rupiah yang dihibahkan Pak Suryo kepadaku. Tergeletak begitu saja di atas tanganku yang masih belum tenang.

"... Mungkin kupakai sedikit untuk oleh-oleh saja..."
-----
Suryo memasuki ruangan Chris dengan Namia di sisinya. "sibuk kayak biasa, ya" ucap Suryo untuk mendapatkan perhatian dari mata Chris. Chris menatapnya sebentar, lalu kembali ke kertas-kertas kerjanya, "kalau mau ngomong, bilang. Nggak usah basa-basi yang nggak perlu". Suryo menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kekuatan kecil, "ah, dingin kayak biasa"

chris tetap melanjutkan pekerjaannya. Itu kalimat yang cukup sering ia dengar, untuk apa kembali menanggapinya? suryo mendekati meja Chris, "anak itu... Apa nggak bahaya kalau kita menampungnya? Apalagi, sebagai 'Messiah'...".

"maksudmu Rafi? Kalau berdasarkan informasi yang diberikan Renver, kelihatannya cukup aman. Kebanyakan orang yang mengetahui identitas aslinya mengira dia telah meninggal, apalagi CIA menutupi kasusnya dengan berita yang mengada-ada. Kudengar, mereka juga yakin kalau dia tidak mungkin selamat dan menghentikan pencarian"

"kedengarannya memang agak kejam, tapi justru bagus untuk pihak kita, bukan?"

Suryo tidak berkata apapun. Pandangannya masih menyiratkan ketidak-yakinan. Tapi, apalah yang bisa dia katakan untuk membalas Chris. Apalagi dia juga mengenal Renver, dan niatnya dalam mencari informasi ini memang tak diragukan lagi. Walau yang dapat dia berikan tentang Rhieve Zalther hanya informasi dasar, harus diakui informasi itu cukup membantu.

"...baiklah, jadi dia kita biarkan saja?" kata Pak Suryo menyerah. Walaupun kecemasan akan terlacaknya 'Messiah' oleh pemerintah dan antek-anteknya masih bertengger di hatinya.

"tentu tidak. Kita harus membantu mencegah bocornya informasi ini ke pihak lain kalau tidak ingin mereka melacak 'Messiah'. Kita bisa repot kalau itu terjadi. Dan, kalau ternyata ada kesalahan informasi, itu akan menjadi tanggung jawab Renver" balas Chris

"tapi aku masih penasaran, kenapa dia sangat berdedikasi mencari informasi tentang Rhieve Zalther?"

"jangan-jangan dia pacarnya?"

"Kalau menurutku, dia akan langsung bilang 'bukan' dan memperkuat ucapannya dengan berbagai alasan. Lagipula, jaman sekarang, sulit menemukan orang yang pacaran serius karena cinta"

"... Itu pengalaman pribadi?"

"bukan, cuma pengamatan. Menjadi [i]single parent
cukup bagus untukku"

"cih..." gerutu Suryo dalam hati.
-----
"assalamualaikum" salamku saat memasuki rumah. Rina menyambutku dengan gembira, mungkin karena aku jarang pulang secepat ini. Aku memberinya bungkusan kue yang kubawa, "nih, ada oleh-oleh sedikit"

"waaah... Makasih, kak!" ujarnya ceria. Senyumnya yang begitu tulus dan polos, seakan tanpa dosa, telah membuat rasa lelahku menghilang. Tanpa sadar, aku membalas senyumnya

"oh iya, ibu belum pulang?". "ibu ada di kamar" jawab Rina. Mungkin ibu sedang shalat? Aku belum mengucapkan salam padanya, dan aku harus segera melakukannya. Adat di Indonesia memang begitu, bukan?

Baru saja aku sampai di depan pintu, aku mendengar sesuatu yang tidak biasa. Suara yang terdengar seperti isak tangis. Tantu aku tidak ingin dugaanku benar, tapi siapa lagi yang ada di dalam selain ibu?

Aku agak ragu utnuk membuka pintu yang menyekat jarak antara kami, apalagi ini mungkin bukan saat yang tepat. Tapi...

'klek'

"assalamualaikum, bu...", ujarku dengan suara yang dihaluskan dan dipelankan. Ibu tampak kaget, dan segera mengusap air matanya. "wah, Rafi udah pulang? Nggak kedengeran tadi", ujarnya dengan senyum yang pasti sengaja dibuatnya. Aku tak sanggup berkata apapun, walau pun banyak yang ingin kukatakan dan kutanyakan. Aku melihat dia memegang sebuah dompet kulit berwarna coklat yang cukup besar. Masalah ekonomi kah?

Aku hanya dapat mengepal tangannya. Aku telah menjadi beban selama setahun ini, dan aku masih belum bisa memberikan bantuan ekonomi pada keluarganya. Ingin rasanya kubilang, "ibu tidak usah khawatir. Rafi akan membantu menaikkan ekonomi kita kalau sudah gajian nanti", tapi tidak dapat keluar dari mulutku. Rasanya berat mengungkit-ungkit masalah ekonomi di depan ibu sekarang.

"...ibu...", aku memberanikan diri membuka mulut. Ibu memberikan tatapan hangat yang menanyakan dan mempersilakanku mengatakan apa yang kupikirkan. Aku diam sebentar, lalu kembali mengangkat suara ke permukaan.

"...Rafi bawa kue. Ibu mau?"

... Aku melarikan diri...

"ah, nggak usah. Buat Rafi sama Rina aja. Ibu baru makan, kok", jawabnya dengan senyum penuh kasih sayang.

... Sudah pasti itu bohong, bukan?

Tapi, aku tak dapat membalasnya lebih jauh. Aku segera melangkahkan kaki keluar dari kamar ibu dengan langkah yang cukup berat.

Aku kesal dengan diriku sendiri yang tidak dapat membantu. Sekarang, aku hanya bisa memintanya untuk bersabar menunggu. Dan sementara itu, aku akan membantunya diluar perihal ekonomi.

Judgement.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Aug 06, 2011 6:54 pm

Matahari kembali terbit dari timur, menandakan hari esok telah menjadi hari ini. Makin tinggi matahari, makin padat pula Kota Jakarta, ibukota Indonesia. Dan, hal yang sama pun terjadi di PT. Farran. Bisa dilihat dari meningkatnya aktivitas para pekerja perusahaan.

Atau setidaknya, sebagian besar.

"haaah... Istirahat juga akhirnya", lega Ardi yang segera menjatuhkan tubuhnya di kursi. Entah kenapa, dia selalu terlihat lelah saat kembali. Tapi, tentu saja, semangatnya langsung memuncak saat menyentuh sebuah mesin game atau komputer. Tak terkecuali hari ini, dimana dia langsung berteriak kegirangan saat menjelajahi dunia maya.

Di lain pihak, Renata sedang asyik memainkan N**tendo DS sambil meneriakkan nama-nama karakter ditambah kata "ganteng" atau "keren" di belakangnya. Tapi, ada kalanya dia menyumpah-serapah pada monster-monster yang menghakangi jalannya.

Sedangkan Galuh, seperti biasa, asyik dengan TV dan konsol generasi baru ditambah controller berbentuk senapan.

Dengan kata lain, mereka menjalani kehidupan mereka seperti biasa. Kurasa kalian pasti sadar kalau ada yang salah dengan kata "menjalani kehidpuan biasa", jika kata itu digunakan untuk kami. Kalau kehidupan seorang "Judgement Passer" sama seperti kehidupan normal, artinya...

Tidak ada tugas.

Rafi menghela napas cukup dalam, "ini sih lebih kayak daftar kerja daripada daftar ke 'Messiah'... Udah selama ini, kok nggak ada kerjaan?", pikir Rafi kecewa. Rasanya seperti niatnya diinjak-injak. Hal yang biasa dirasakan seseorang saat sudah siap berangkat tapi kepergianmu dibatalkan. "Apa karena aku masih pemula, jadi kasus-kasus yang dikasih harus diseleksi lebih ketat supaya nggak bahaya?"

Tapi tetap saja, sudah lebih dari seminggu dia tidak mendapat tugas sebagai 'passer'. Dan hal itu membuatnya nyaris lupa akan wujud asli perusahaan ini. Perusahaan yang bergerak di bidang elektronika yang sudah mulai melebarkan sayapnya ke bidang lain ini bisa dibilang memiliki bangunan berfungsi ganda.

Di permukaan, bangunan ini adalah gedung PT. Farran yang menjadi salah satu penopang ekonomi dan sumber devisa Indonesia. Sedangkan di sisi lain, di sisi yang lebih dalam dan gelap, bangunan ini adalah sebuah markas. Markas bagi orang-orang yang ingin memperbaiki kebobrokan dengan darah. Orang-orang yang mencapai tujuan yang sama dengan negara, namun berbeda cara.

Kelompok orang-orang itu menyebut diri mereka "Messiah", sang juru selamat.

Tapi, apakah mereka dapat menyelamatkan kebahagiaan masyarakat dengan warna merah dari tetesan darah kedua belah pihak? Hal itu pun masih diragukan oleh masing-masing individu. Tetapi, hanya jalan inilah yang dapat mereka tempuh untuk menolong keadaan. Jika hukum dapat diputar-balikkan oleh si kaya berhati sampah, maka apa yang dapat dilakukan si miskin berhati emas di hadapan hukum yang diciptakan manusia?

Dengan prinsip itulah, mereka terus maju. Mendorong kaki mereka untuk terus berjalan di jalan berduri merah, demi memberikan cahaya yang dilahirkan kegelapan. Tentu saja, kalau cahaya itu dapat benar-benar dilahirkan. Dan memastikan kelahirannya, tergantung dari apa yang mereka lakukan sekarang. Mereka lah yang akan menggerakkan takdir bagi orang-orang yang dibisukan.

Tapi, tetap saja kata-kata itu tidak dapat dipercaya kalau melihat kesenggangan Rafi dan kawan-kawan satu grupnya ini.

"haah..."

Rafi hanya dapat menghela napas. Ia pun duduk di atas kasur yang senantiasa tergelar di ruangan para pembersih, mengistirahatkan tubuhnya sedikit sebelum kembali bekerja.

"nah, udah pada mau makan?", tanya Renata, yang ditanggapi positif oleh Ardi dan Galuh. Rafi pun setuju dengan agak berat. Baru duduk, sudah harus berdiri lagi. "nah, let's goooo!!"

----------

Kami berempat pun berjalan menuju kantin untuk me-recharge stamina kami. Ardi dan Renata sedang serius mendiskusikan makan siang mereka hari ini. Apapun yang mereka bicarakan, semuanya menggunakan bahasa asing. Sang pemimpin tak mengindahkan keributan didekatnya. Dia sepertinya hanya menerawang ke depan.

Tadinya, mereka hanya mendengar langkah kaki mereka berempat saja. Tapi, ada langkah kaki lain yang lebih cepat dan keras. Langkah kaki itu mendekat, membuat mereka berempat menoleh ke arah pembuat bunyi itu.

"Ah, Rafiiiii!!"

Suara yang tak asing dari perempuan berambut hitam pendek yang setia berada di samping Chris, Namia. Dia membawa beberapa lembar kertas bertulisan, sesuatu yang membuat Rafi berteriak "akhirnya!!" dalam hatinya. Tentu saja, itu hanya akan terjadi kalau perkiraan Rafi benar.

Namia menghentikan larinya di depan si pemuda dan kawan-kawannya. "lihat dogtag-mu"

Perkiraan Rafi benar. Sungguh bagus, sekaligus tidak bagus.

"ini", ujar Rafi sambil memberi Namia dogtag merah yang selalu tergantung, namun tersembunyi di lehernya. Sejujurnya, dia sendiri tidak tahu kenapa bentuk yang dipilih oleh atasannya adalah sebuah dogtag, tapi dia tidak bertanya. Mungkin itu hanya karena faktor fashion yang dipikirkan oleh Chris dan dimasukkan dalam hitungan. Walaupun, jujur, dia tidak mementingkan fashion dalam hidupnya yang sederhana. Pangan jauh lebih penting, tapi tidak sampai berlebihan tentunya.

"ada tugas, ya? Selamat deh", kata Ardi dengan senyum dan mata (nagomi), tanpa adanya tanda-tanda ketertarikan. Mungkin dia hanya senang yang mendapat tugas itu bukan dia. "jangan lama-lama, ntar waktu istirahat siang kita keburu habis, lho!", ingat Renata.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Aug 06, 2011 7:02 pm

"iya, iya...", entah kenapa, Rafi yang menyahut. Mungkin dia ingin meng-cover Namia yang sedang sibuk menganalisis validasi dan menyortir data yang akan diberikannya pada sang mantan CIA muda di hadapannya. "nah, Rafi, karena kalian buru-buru, ini kertasnya. Kalau ada yang mau ditanya, tanya saja nanti. Atau, lewat telepon juga bisa", ujar Namia sebelum pergi meninggalkan mereka berempat.

"... Kok kayaknya dia lebih sibuk?", pikir Rafi dalam hati sambil memandang lorong kosong yang baru ditinggalkan sang gadis. Rafi pun segera kembali menghadap jalan yang sama dengan rekan-rekannya, demi mengisi ulang tenaga mereka. "untung saja di dekat rumah masih ada wartel. Buat orang yang nggak punya HP, wartel itu sangat penting", helanya dalam hati.
-----------
"Nona Chris!! Ada apa?", seru Namia sambil membanting pintu ruang kerja Chris. Untung saya Chris sedang menggunakan komputer dan bukan tinta. "yang harusnya tanya 'ada apa' itu aku, Namia... Jangan banting pintu tiba-tiba!!", seruan penuh amarah Chris benar-benar berhasil membuat Namia melindungi kepalanya untuk jaga-jaga kalau Chris mengerahkan monitor untuk menghancurkan tengkoraknya.

"ma--maaf!! Tapi, tadi nona menyuruhku cepat-cepat datang, kan?!", bela Namia, walau tahu pembelaannya tak akan kuat menghadapi majikannya tersebut. "kapan aku bilang harus banting pintu?", pertanyaan dengan tatapan sinis itu sukses membungkam Namia. Dia kalah dalam debat kecil tak berguna ini.

"yah, sudahlah... Lupakan saja masalah kecil ini, dan masuk ke inti pembicaraan", dengan kalimat ini, Chris pun mengakhiri debat. "ada hal yang perlu kuberitahu..."
----------
"fueeeh!!", seru Ardi dan Renata lega. Perut mereka sudah selesai memuaskan nafsu birahi masing-masing usus. Rafi mengambil makanan sesuai kebutuhan, jadi dia tidak perlu takut muntah karena makanannya terlalu enak. Tapi, kemana Galuh?

"oi, sebentar lagi kita harus kerja, lho", ucap Rafi mengingatkan kedua rekannya. Untuk mempertegas ucapannya yang tidak disambut hangat itu, dia berdiri dari tempat duduknya semula. "nanti masalahnya bakal lanjut ke atasan kita, lho"

'brak!'

Ardi dan Renata berdiri dari kursi mereka dalam kecepatan cahaya, membuat kursi mereka hampir jatuh sebagai korban dari rasa takut sepasang manusia. "ayo keatas...", senyuman yang dipaksakan di wajah Ardi saat mengatakannya makin menampakkan rasa takut yang mendalam. Hal itu membuat Rafi mengangkat tanda tanya.

"memangnya Bu Chris itu semenakutkan apa, sih?", pikirnya penasaran. Tapi, dia cukup yakin dia tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan jika bertanya pada dua orang di depannya. Rafi pun menyimpan pertanyaan itu saja. "nanti juga tahu... Tunggu waktunya saja", pikirnya. Dan mereka pun pergi keluar untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
----------
"eeeeeh?!"

Seruan Namia yang penuh tanda tanya menggema dalam ruangan sang majikan. Dan itu tidak membuat air muka kedua orang lainnya membaik. "aku butuh olahraga sedikit. Kalau kelamaan kerja begini terus, aku bisa karatan", ujar Chris sambil memutar-mutar bahunya sebagai peregangan awal. "lagipula, ini bukan hal besar".

"ta--tapi lawannya..."

"kalau bukan dia, nanti ada yang mati dia bunuh"

Namia hanya dapat menatap Galuh yang baru saja mengeluarkan pendapat. Walaupun pendapatnya benar, tetap saja Namia merasa berat. Apalagi melihat pekerjaan Chris masih cukup banyak. Matanya bolak-balik menata dua hal, majikannya dan pekerjaan majikannya. Wajahnya menunjukkan kecemasan, takut akan terjadi sesuatu yang dapat mempengaruhi perusahaan ini.

"tenanglah... Ini cuma sedikit permainan penyegar", ucap Chris menenangkan Namia, yang pada kenyataannya malah membuat si gadis pelayan lebih cemas. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dan di saat itulah, Galuh mengambil alih atmosfir.

"Dia nggak sebodoh itu, Namia. Dia nggak akan melukai diri sendiri dengan bodohnya", tegas Galuh membela Chris.

"ya--yaah... Memang, sih..."

"berharap saja dia belajar dari masa lalu"

"Galuh!", sang atasan mengingatkan pria itu untuk menutup mulutnya dengan sebuah chop ringan. "nggak usah diungkit-ungkit lagi".

"makanya jangan diulang. Kan aku juga yang repot nantinya", Galuh membalas chop barusan dengan sebuah pukulan ringan. "lagian, tubuhmu kan...", Galuh menghentikan kalimatnya. Kedua perempuan yang ada di sana tentu paham benar apa yang dia maksud, tanpa perlu kalimat itu Galuh lanjutkan.

"... Sudahlah..."

Chris berhenti, menghentikan arah pembicaraan ini sebelum menjadi lebih dalam. Mata birunya yang menatap langit tampak berkilau bagai permata. Lehernya terkunci, terkekang dalam kebiruan langit Jakarta yang diberkati oleh sang surya. "siapkan saja semuanya. Jamnya, seperti biasa"

Namia sedikit tersentak mendengarnya, namun kata-kata miliknya harus selalu siap menjawab apa yang diucapkan Chris. "... Baik"

Seiring dengan berjalannya jarum detik, Namia pergi meninggalkan ruangan Chris, meninggalkan hanya bunyi pintu yang tertutup.
"hei..."

Pria berambut kecokelatan itu memalingkan kedua matanya menghadap wanita cantik nan menawan yang memanggilnya. Tanpa banyak berpikir, dia tahu dia hanya perlu mengucapkan satu kata. "apa?"

Chris masih belum berkata apa-apa. Dari kacamata Galuh, Chris jelas ingin mengatakan sesuatu. Namun sulit ia keluarkan, seperti ada yang menahan kata-kata itu. Walaupun dia tidak yakin karena dia tak dapat melihat wajah albino itu dari posisinya sekarang. Galuh menuntut kejelasan dengan terangkatnya segaris alis pada wajahnya.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Aria Chronne

avatar

Jumlah posting : 3384
Join date : 22.03.10
Age : 21
Lokasi : di dunia ini~

Chara profile
Name: Aria/Arren Chronne
Status: Chronne Family Member
Race: Human (tapi Arren masih nggak jelas)

PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   Sat Aug 06, 2011 7:05 pm

"... Tagihan listrik kalian naik...", Chris, dengan perlahan, memutar kepalanya untuk menatap mata pria di dekatnya. Alisnya turun, tajam ke bawah, menandakan gunung api akan meletus sesaat lagi. Bibirnya terangkat, memperlihatkan senyuman yang tanpa diberitahu pun, siapapun pasti tahu kalau senyum itu bukan senyum penuh kebahagiaan.

".....", kali ini, giliran Galuh yang absen bicara. Satu kata salah, dia atau hidupnya akan dilumat habis oleh predator murka di hadapannya. Atau mungkin, keduanya. Tetes demi tetes keringat dingin mengembun dan melesat di wajahnya yang, walaupun jelas merasakan bahaya, tidak menunjukkan ketakutan berlebih seperti dua rekannya. Sebisa mungkin, dia berusaha untuk tetap stay cool.

"kenapa bisa begini?", tanya Chris dengan nada berelemen api, membuat Galuh makin sulit mencari alasan dan kata-kata. Galuh juga tidak tahu kenapa listrik bisa naik, padahal bulan ini dia lebih jarang menginap di tempat kerja dibanding bulan sebelumnya.

"pasti mereka berdua, deh... Kalau nanti aku dihajar Chris, mereka berdua bakal kuhajar!", pikir Galuh. Dia hampir saja mengambing-hitamkan kedua bawahannya, tapi dia menemukan pengalih amarah yang lebih baik. "lepaskan saja amarah itu nanti, Chris. Jangan dilampiaskan sekarang, nanti terbuang percuma".

"persediaan listrik dunia sudah terbuang percuma karena kalian!"

"memangnya apa hubungannya?!", seru Galuh dalam hati.

"kalian tahu, kan, listrik dunia itu sekarat!!"

Yak, ceramah soal listrik dan dunia pun berlanjut. Galuh memilih untuk diam, demi keselamatan nyawanya. Untungnya, bunyi handphone Chris berhasil menyelamatkan telinganya.

"ya?", Chris memberikan kesempatan bagi sang penelepon untuk berbicara sebentar dan hanya membalasnya dengan sebuah "oh" kecil sebelum menutupnya. "Galuh..."

" Apa?"

"hukumanmu kutentukan nanti", ujar Chris tenang sebelum melangkah pergi meninggalkan sang pembersih sendirian di ruangannya. Selangkah demi selangkah, dia menjauh. Namun, Galuh hanya memperlihatkan punggungnya, sementara matanya menatap langit yang mungkin takkan lagi sebiru ini. Segaris senyuman terangkat di wajahnya.

"sebentar lagi, ya? Ini menarik..."
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




PostSubyek: Re: [GX Fantasy] Judgement   

Kembali Ke Atas Go down
 
[GX Fantasy] Judgement
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Kuroshitsuji Indonesian Roleplay Forum :: Library :: Your Story-
Navigasi: